
Mendengar khotbah Jumat di Masjid Raya Pondok Indah oleh khotib Prof. Dr. Yunasril, MA, pekan lalu langsung menohok. Selama umat Islam merokok, ekonomi umat terserap dengan mudah ke kantong taipan rokok.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Sekretaris Korp Alumni Pimpinan Wilayah IPM/IRM Jawa Tengah.
Tagar.co – Biaya merokok masyarakat Indonesia ternyata sangat besar. Menurut data, jumlah rokok yang terjual setiap hari mencapai 90 juta bungkus. Sebanyak 80 persen pembelinya adalah umat Islam.
Jika dirata-rata harga satu bungkus rokok Rp10 ribu, uang yang dibelanjakan untuk rokok setiap hari mencapai Rp900 miliar.
Maka dalam waktu empat hari saja, uang yang ‘dibakar’ lewat rokok sudah mencapai Rp3,6 triliun. Ini sama dengan total uang zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang dikumpulkan lembaga zakat se Indonesia setahun sekitar Rp3,7 triliun.
Jadi orang miskin yang mampu membeli rokok sebenarnya bukan kategori miskin sebab dia sukarela turut membakar uang untuk menyumbang pengusaha rokok.
Lebih ironis lagi kalau ada orang miskin punya biaya merokok tapi menunggak biaya SPP anaknya.
Melihat angka di atas, seandainya saja umat Islam bersatu dan berhenti merokok sehari saja, maka uang rokok yang dibakar itu dapat dialihkan untuk pemberdayaan ekonomi umat.
Lebih dahsyat lagi kalau umat Islam berhenti merokok permanen. Lantas biaya merokok dimasukkan zakat infak, maka bisa dihitung jumlah uang yang terkumpul. Sebulan mencapai Rp27 triliun.
Sayangnya, fakta hari ini keuntungan uang segede itu masuk ke kantong pengusaha rokok. Uang itu kemudian diputar untuk membuka usaha lain seperti pertambangan, realestat, hotel, perkebunan, dan lainnya. Jadilah pengusaha rokok menjadi konglomerat.
Sementara nasib perokok seperti puntung. Habis diisap lalu dibuang. Nasib petani dan buruh tembakau pun kurang lebih sama. Sebab harga tembakau ditentukan para taipan ini.
Berhenti Merokok
Rokok telah dikenal sebagai produk beracun yang perlahan membunuh penggunanya. Namun, meskipun pada kemasannya tertulis peringatan seperti “beracun dan membunuh,” tetap saja banyak orang yang membeli dan mengisapnya.
Lebih mengherankan lagi, taipan rokok sendiri tidak merokok. Seperti diakui Putra Sampoerna, pewaris perusahaan rokok Sampoerna dari kakeknya Liem Seeng Tee. Dalam sebuah wawancara dia mengatakan tidak merokok.
Karena itu berhentilah merokok. Mulai sekarang. Alasannya bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga demi pemberdayaan ekonomi umat.
Jika biaya merokok dikumpulkan lembaga zakat, maka bisa dipakai membantu kaum duafa memperbaiki kehidupannya. Uang itu bisa membangun kekuatan ekonomi yang mandiri untuk rakyat miskin.
Kita dapat meneladani Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan H. Samanhudi di Surakarta pada tahun 1911 di kalangan perajin batik. SDI menunjukkan perekonomian umat yang dibangun secara berjemaah bisa melawan dominasi pengusaha tekstil besar.
Dari uraian di atas maka masyarakat bisa mengambil langkah ini untuk mendukung pembangunan umat.
Pertama, berhenti merokok sekarang juga. Kedua, gunakan biaya merokok untuk mendukung pemberdayaan ekonomi umat.
Mari kita jadikan momentum ini untuk membangun ekonomi umat secara berserikat demi kejayaan Islam. Mari berhenti merokok dan berbagi kebaikan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












