Feature

Pendidik PAUD Kota Probolinggo Mantapkan Diri dengan Pembelajaran Berbasis Proyek

42
×

Pendidik PAUD Kota Probolinggo Mantapkan Diri dengan Pembelajaran Berbasis Proyek

Sebarkan artikel ini
Ratih Nia Pangastuti memberikan materi kepada peserta (Tagar.co/Istimewa)

TK Aisyiyah I Probolinggo menggelar seminar inspiratif! Pembelajaran berbasis proyek jadi solusi tingkatkan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tagar.co – Mentari pagi mulai menyinari halaman TK Aisyiyah I di Jalan K.H. Mansyur 109, Kelurahan Mangunharjo. Para guru dari berbagai penjuru Kota Probolinggo mulai berdatangan. Senyum ramah tuan rumah menyambut mereka di pintu gerbang, diiringi sapaan hangat dan jabat tangan.

Pagi itu, Sabtu (18/1/2025), TK Aisyiyah I menjadi pusat perhatian para guru PAUD se-Kota Probolinggo. Mereka berkumpul untuk mengasah diri dalam seminar peningkatan mutu pendidik, sebuah rangkaian penting dari perayaan Milad Ke-73 TK Aisyiyah alias Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) I Kota Probolinggo.

Baca juga: Sehari Tiga Agenda Spektakuler Terlampaui di TK Aisyiyah I Kota Probolinggo

Pukul tepat 08.00 WIB, acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Wike Widiawati, S.Pd., yang mengalun syahdu, memecah keheningan pagi dan membawa kedamaian di aula yang mulai dipenuhi peserta. Setelahnya, semangat kebangsaan berkobar melalui lagu Indonesia Raya yang dipandu Serly Safroni, S.Ag.

Kepala TK Aisyiyah I, Aryzana Maharanny, M.Pd., menyambut dengan senyum sumringahnya menyampaikan terima kasih pa peserta. Dia berharap kegiatan ini membawa dampak positif bagi dunia pendidikan. “Semoga kita bisa bergerak serempak dan berdampak bagi semua masyarakat luas,” tuturnya.

Baca Juga:  Di Probolinggo, Ramadan Disambut Iring-iringan Becak Listrik

Di barisan depan, tampak Indah Nurhidayati, S.Pd., dari Pimpinan Daerah Aisyiyah, yang turut memberikan apresiasi. Ia menekankan pentingnya peningkatan wawasan bagi para pendidik agar dapat mewujudkan impian para orang tua untuk memiliki anak-anak yang qurrata a’yun (penyejuk hati). Beberapa guru tampak mengangguk setuju, menyadari betapa besar tanggung jawab mereka dalam mendidik generasi penerus.

Tibalah saat yang dinanti, sesi inti seminar bersama Ratih Nia Pangastuti. Awalnya, suasana aula yang dihiasi dekorasi milad didominasi keheningan formal. Namun, Nia dengan sigap mencairkan suasana. Ia melangkah ke depan, senyumnya mengembang, dan dengan energik ia mengajak peserta bergerak dan bernyanyi bersama mengikuti irama musik yang ceria.

Beberapa guru awalnya terlihat malu-malu, namun akhirnya ikut larut dalam gerakan dan lagu. Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh terdengar saat Nia berhasil memandu gerakan senam sederhana. Beberapa guru bahkan terlihat mengeluarkan ponsel untuk merekam momen kebersamaan tersebut, mengabadikan semangat yang membara pagi itu.

Penataan media loose part dalam pembelajaran (Tagar.co/Istimewa)

Pembelajaran Berbasis Proyek

Nia kemudian memaparkan perbedaan mendasar antara model pembelajaran sentra dan kelompok, sebelum akhirnya fokus pada Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning). Ia mengangkat beberapa benda, mulai dari potongan kayu, kerang, kain perca, hingga tutup botol bekas.

Baca Juga:  Di Probolinggo, Ramadan Disambut Iring-iringan Becak Listrik

“Inilah yang kita sebut loose part, Bapak Ibu. Benda-benda sederhana yang bisa merangsang imajinasi dan kreativitas anak-anak,” jelasnya sambil menunjukkan cara memanfaatkannya dalam berbagai kegiatan. “Bagaimana, Ibu Guru, lebih praktis dan efisien, ya?” tanyanya, disambut anggukan setuju dan gumaman ‘iya’ dari para peserta.

Pembelajaran Berbasis Proyek, lanjut Nia, mengajak anak mengeksplorasi berbagai topik melalui aktivitas berkreasi dengan media yang ada di lingkungan sekitar. Metode ini, menurutnya, menawarkan banyak keuntungan, mulai dari menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak, memfasilitasi eksplorasi keterampilan, hingga memberikan beragam cara bagi anak untuk terlibat dalam materi pembelajaran.

Nia juga memaparkan manfaat konkret dari Pembelajaran Berbasis Proyek: meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, melatih berpikir fleksibel dan kritis, mengembangkan kemandirian, mengurangi masalah perilaku di kelas, dan mengembangkan keterampilan sosial. Ia pun memaparkan langkah-langkah penerapannya, mulai dari pertanyaan esensial hingga refleksi, diselingi contoh-contoh praktis yang mudah dipahami.

Di salah satu sudut aula, dipajang beberapa contoh hasil karya anak-anak TK Aisyiyah I yang menggunakan metode Pembelajaran Berbasis Proyek. Ada miniatur perkebunan yang dibuat dari bahan-bahan bekas, ada juga kolase dari daun-daun kering dan ranting. Hal ini memberikan gambaran nyata bagaimana metode ini diimplementasikan di kelas.

Baca Juga:  Di Probolinggo, Ramadan Disambut Iring-iringan Becak Listrik

Empat kunci atau prinsip Pembelajaran Berbasis Proyek yang ditekankan Nia adalah Explore (Eksplorasi) dengan loose part, Extended (Perluasan) melalui penataan loose part yang menarik, Engage (Keterlibatan) dengan pendekatan coaching, dan Evaluate (Evaluasi) dengan memberi kesempatan anak mengkomunikasikan karya dan mendiskusikan langkah selanjutnya.

“Insyaallah dengan pembelajaran ini, anak akan memiliki kebebasan untuk berkreasi sesuai keinginannya dengan rasa nyaman dan menyenangkan. Dengan begitu, potensi anak akan terasah secara mandiri melalui aktivitas-aktivitas pengembangan diri,” kata Nia, menutup sesi dengan optimisme.

Seminar pagi itu meninggalkan kesan mendalam bagi para pendidik. Semangat baru untuk menerapkan Pembelajaran Berbasis Proyek tampak terpancar dari wajah mereka. Harapan akan terciptanya generasi penerus yang kreatif, mandiri, dan berkarakter pun semakin membuncah. (#)

Jurnalis Wike Widiawati Penyunting Mohammad Nurfatoni