Rileks

Menjelajah Jantung Borneo, Merajut Silaturahmi

39
×

Menjelajah Jantung Borneo, Merajut Silaturahmi

Sebarkan artikel ini
Istana Kadriah Kesultanan Pontianak (Mohamad Isa for Tagar.co)

Menjelajah Jantung Borneo, Merajut Silaturahmi; Menikmati pesona lintas Kalsel-Kalteng-Kalbar-Kuching.

Oleh Mohamad Isa, Dokter Spesialis Paru alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan tinggal di Banjarmasin

Tagar.co – Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia, menyimpan pesona alam dan budaya yang luar biasa. Bentangan wilayahnya yang luas, 743.330 km², terbagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Di jantung Borneo ini, bersemi keragaman suku dan bahasa, menciptakan mozaik budaya yang kaya. Sebuah perjalanan darat melintasi sisi barat Kalimantan, dari Kalimantan Selatan hingga Kuching, Sarawak, menawarkan pengalaman tak terlupakan, merajut silaturahmi di antara keindahan alam dan keramahan penduduknya.

Perjalanan bertajuk “Silaturahmi dan Tour Lintas Kalsel-Kalteng-Kalbar-Kuching” yang diinisiasi oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 15-22 Januari 2023 lalu menjadi bukti nyata.

Sebanyak 22 peserta, terdiri dari guru besar, dosen, dokter, dan keluarga, menempuh jarak 2.220 km dengan selamat, sehat, dan penuh kebahagiaan. Armada bus berkapasitas 28 tempat duduk dengan fasilitas memadai, serta tiga pengemudi yang bergantian, memastikan kenyamanan dan keamanan perjalanan.

Niat tulus untuk bersilaturahmi menjadi landasan utama, diyakini membawa keberkahan berupa kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang melimpah.

Melintasi Jantung Kalimantan: Banjarmasin-Palangka Raya

Petualangan dimulai dari Banjarmasin pada Ahad pagi, 15 Januari 2023. Tujuan pertama adalah Palangka Raya, Ibu Kota Kalimantan Tengah, berjarak 198 km.

Baca Juga:  Dari Maroko Menuju Daratan Eropa

Rute ini melintasi hamparan sawah subur di daerah Anjir, penghasil beras andalan. Ikon perjalanan ini adalah Jembatan Barito, jembatan terpanjang di Kalimantan yang membentang 1.200 meter di atas Sungai Barito yang megah.

Jembatan yang diresmikan Presiden Soeharto pada tahun 1998 ini menjadi simbol konektivitas antara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Perjalanan juga melewati titian Tumbang Nusa sepanjang 10 km, melintasi rawa-rawa, solusi atas masalah transportasi akibat banjir yang kerap melanda wilayah ini.

Di Palangka Raya, rombongan disambut hangat oleh sejawat dokter paru yang bertugas di RS Kota Palangka Raya dan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya (FK UPR).

Pertemuan yang penuh keakraban ini diisi dengan santap siang di tepi Sungai Kahayan, menikmati hidangan khas seperti papuyu, nila, udang sungai, patin, dan jelawat.

Kunjungan dilanjutkan ke FK UPR, bertemu dengan Dekan Prof. dr. Samsul Arifin, yang juga alumni FK ULM, serta para dosen alumni FK ULM lainnya.

Menjelajah Jantung Borneo: Rumah Adat Dayak di Pontianak. (Mohamad Isa for Tagar.co)

Menuju Barat: Sampit-Pangkalan Bun

Perjalanan berlanjut ke arah barat pada pukul 14.00 WIB, menuju Pangkalan Bun, Ibu Kota Kabupaten Kotawaringin Barat, berjarak 455 km dari Palangka Raya.

Baca Juga:  Menelisik Resep Kemajuan Cina: Catatan Perjalanan ke Shenzhen

Singgah di Sampit, Ibu Kota Kabupaten Kotawaringin Timur, perjalanan melintasi jalur yang dikenal sebagai “Jalan Rusia”, dibangun dengan bantuan pemerintah Rusia pada masa Orde Lama.

Daerah Kasongan, yang dilewati dalam rute ini, terkenal dengan duriannya yang manis dan lezat. Di Sampit, Dr. Efrain Sp.P., alumni FK-UA dan PPDS Paru ULM, menyambut rombongan dengan jamuan makan malam di RM Jelawat yang nyaman.

Terowongan Seribu Cahaya di Sampit menjadi daya tarik tersendiri di malam hari, menghidupkan perekonomian lokal.

Perjalanan malam yang menantang menuju Pangkalan Bun diwarnai pemandangan perbukitan dan perkebunan sawit. Rombongan tiba di Pangkalan Bun pukul 03.00 dini hari dan beristirahat di Hotel Ariza.

Pagi harinya, silaturahmi kembali terjalin dengan para alumni yang bertugas di Pangkalan Bun.

Menjelajah Jantung Borneo: Masjid Mujahidin di Pontianak. (Mohamad Isa for Tagar.co)

Menjelajahi Kalimantan Barat: Pontianak

Pukul 09.00, perjalanan dilanjutkan ke Pontianak, Kalimantan Barat, melintasi Kabupaten Lamandau di Kalimantan Tengah dan dua kabupaten di Kalimantan Barat, dengan jarak tempuh 642 km.

Tugu perbatasan menandai perpindahan provinsi, sekaligus menandakan 1.000 km telah ditempuh dari Banjarmasin.

Hutan lebat dan perkebunan sawit mendominasi pemandangan sepanjang jalan. Tiba di Pontianak sekitar pukul 04.00 pagi, kota yang dilintasi garis khatulistiwa ini menyambut dengan suasana yang ramai dan multietnis. Kunjungan ke RS Sodoso dan jamuan makan siang dengan menu khas Melayu bersama alumni FK ULM di Pontianak mempererat tali silaturahmi.

Baca Juga:  Menyusuri Jejak Islam di Tanah Portugal
Menjelajah Jantung Borneo: Masjid Jamik Kesultanan Pontianak, dengan tiang dari Kayu Ulin (khas Kalimantan) (Mohamad Isa for Tagar.co)

Menyeberang Batas: Kuching, Sarawak

Petualangan berlanjut ke Kuching, Sarawak, Malaysia, melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong. PLBN yang modern dan bersih menjadi representasi wajah bangsa.

Kuching menawarkan suasana yang kondusif, jalan-jalan yang lebar dan tertata rapi. Setelah semalam di Kuching, rombongan kembali ke Indonesia melalui PLBN Aruk menuju Singkawang, kota yang dikenal dengan toleransinya. Perjalanan kembali ke Pontianak melewati Mempawah, dengan jamuan makan ikan sungai di tepi Sungai Mempawah.

Kunjungan ke Tugu Khatulistiwa di Pontianak menjadi penutup rangkaian perjalanan yang berkesan ini.

Menjelajah Jantung Borneo: Di Entikong, perbatasan Indonesia-Malaysia (Mohamad Isa for Tagar.co)

Hikmah Perjalanan

Perjalanan “Silaturahmi dan Tour Lintas Kalsel-Kalteng-Kalbar-Kuching” bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang penuh hikmah.

Niat tulus untuk bersilaturahmi membawa keberkahan dan kenyamanan di sepanjang perjalanan.

Potensi alam yang melimpah di Kalimantan, dari darat, laut, hingga sungai, menjadi aset berharga yang perlu dikelola dengan bijak demi kesejahteraan masyarakat. Perjalanan ini menjadi pengingat akan pentingnya persatuan, toleransi, dan pembangunan yang berkelanjutan. (#)

Banjarmasin, 14 Desember 2024

Penyunting Mohammad Nurfatoni