Feature

Dosen Psikologi Ungkap Faktor yang Bisa Mendorong Anak Bunuh Keluarga

37
×

Dosen Psikologi Ungkap Faktor yang Bisa Mendorong Anak Bunuh Keluarga

Sebarkan artikel ini
Dosen Psikologi UMM menyampaikan pandangannya tentang salah satu kasus tragis di Indonesia. Pasalnya, ada anak membunuh keluarganya.
Ilustrasi kasus anak membunuh keluarganya. (Tagar.co/Istimewa)

Dosen Psikologi UMM menyampaikan pandangannya tentang salah satu kasus tragis di Indonesia. Pasalnya, ada anak membunuh keluarganya.

Tagar.co – Kisah tragis nan mencengangkan terjadi di Perumahan taman Bona Indah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan (30/11/2024). Seorang anak berusia 14 tahun membunuh ayah dan neneknya. Sang ibu selamat meski sempat mengalami kondisi kritis.

Apa faktor yang bisa mendorong tindakan tersebut? Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hudaniah, S.Psi., M.Si. menyampaikan pandangannya mengenai kasus ini.

Dari informasi media, Hudaniah mengetahui pelaku sempat mengaku mendengar suara-suara. Dalam ilmu Psikologi, istilahnya mengalami halusinasi auditori. Namun, menurutnya hal ini belum cukup untuk memastikan anak tersebut mengalami gangguan psikologis tertentu.

“Untuk mendiagnosa seseorang mengalami gangguan psikologis, asesmen mendalam sangat perlu. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pernyataan media atau pengakuan sepihak. Apalagi diagnosa halusinasi memerlukan konfirmasi lebih lanjut oleh ahli melalui wawancara dan pengujian,” ungkapnya.

Hudaniah juga mengungkap, pelaku memiliki riwayat kunjungan ke psikiater sebanyak empat kali atas inisiatif ibunya. Selain itu, pelaku katanya mengalami insomnia berkepanjangan.

Baca Juga:  Perkuat Pembinaan Panahan, Spemdalas Gandeng Perpani dan Petro Archery Club

“Sulit tidur bisa menjadi salah satu pemicu tekanan psikologis. Namun perlu ditekankan lagi, tindakan ekstrem seperti pembunuhan tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja,” imbuhnya.

Misal, bagaimana mereka belajar menghadapi tekanan dari lingkungan sosial, terutama dengan keluarga, bisa mempengaruhi tindakan ekstrem itu. “Pada umumnya, perilaku seperti ini merupakan hasil dari akumulasi berbagai tekanan,” jelasnya.

Ia menegaskan, perilaku melanggar hukum pada anak tidak muncul secara tiba-tiba. Biasanya, ada tanda-tanda yang mendahului. Seperti perubahan perilaku menjadi lebih pendiam atau mudah tersinggung.

Dosen Psikologi UMM menyampaikan pandangannya tentang salah satu kasus tragis di Indonesia. Pasalnya, ada anak membunuh keluarganya.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Hudaniah, S.Psi., M.Si.

Faktor Pendorong

Hudaniah menekankan pentingnya pola asuh dan faktor sosial dalam membentuk perilaku anak. “Anak belajar dari lingkungan terdekatnya, terutama orang tua, tentang cara mengatasi masalah. Ketika tidak ada contoh positif, mereka mungkin mencari referensi dari media sosial atau lingkungan lain yang tidak selalu konstruktif,” terangnya.

Selain itu, pengalaman traumatis atau tekanan yang tidak terselesaikan di masa lalu juga dapat memicu perilaku negatif pada anak. Jika tidak teratasi atau terkomunikasikan, pengalaman-pengalaman ini bisa menjadi tekanan berat bagi anak.

Baca Juga:  Quran Time, Cara Spemdalas Menghidupkan Pagi dengan Al-Quran

Untuk menangani kasus seperti ini, Hudaniah menyoroti pentingnya pendekatan integratif. Jadi penanganannya tidak hanya fokus pada pelaku, tetapi juga melibatkan keluarga dan lingkungan sosialnya.

“Pendekatan integratif mencakup terapi psikologis, dukungan sosial, hingga intervensi medis jika diperlukan. Misalnya, jika ditemukan gangguan neurologis, maka terapi farmakologis bisa menjadi salah satu solusi,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran lembaga sosial dan pemerintah dalam memberikan layanan pendampingan kepada keluarga yang mengalami tekanan. Layanan seperti konseling di puskesmas atau komunitas pendukung dapat membantu keluarga menghadapi masalah secara lebih positif.

Hudaniah berharap, tragedi serupa tidak terulang. Ia mendorong semua pihak mulai dari keluarga hingga pemerintah, untuk memperkuat sistem pendukung bagi anak dan keluarga.

“Masalah seperti ini tidak bisa selesai secara parsial. Perlu pendekatan dari berbagai aspek. Mulai dari keluarga, komunitas, hingga kebijakan pemerintah. Dengan begitu, kita bisa mengatasi persoalan secara menyeluruh dan mencegah peristiwa serupa terjadi lagi,” tutupnya. (#)

Penyunting Sayyidah Nuriyah