
Jika dikelola dengan tepat, WFH bukan hanya solusi sementara, tetapi bisa menjadi langkah strategis menuju masa depan kerja yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.
Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
Tagar.co – Perubahan pola kerja global pascapandemi kini menemukan momentumnya kembali di Indonesia.
Wacana dan kebijakan Work from Home (WFH) tidak lagi sekadar opsi fleksibilitas kerja, melainkan bagian dari strategi nasional menghadapi tantangan energi dan efisiensi ekonomi.
Setelah Idulfitri 2026, pemerintah bahkan merencanakan kebijakan satu hari kerja dari rumah dalam sepekan untuk mengurangi konsumsi energi, terutama dari sektor transportasi.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Dalam konteks global, lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, untuk mencari cara menekan konsumsi bahan bakar.
Salah satu sektor yang paling signifikan adalah mobilitas harian pekerja. Dengan mengurangi perjalanan kantor, WFH terbukti mampu menekan konsumsi energi berbasis transportasi secara langsung.
Namun, pertanyaannya kemudian: apakah WFH hanya soal efisiensi energi, atau juga berdampak pada efektivitas kerja?
Efisiensi Energi: Mengurangi Mobilitas, Menghemat Sumber Daya
WFH secara sederhana menghilangkan kebutuhan perjalanan harian—yang selama ini menjadi penyumbang besar konsumsi bahan bakar di perkotaan.
Pemerintah Indonesia bahkan memperkirakan kebijakan ini dapat menekan penggunaan bahan bakar hingga sekitar 20 persen dalam skala tertentu.
Dari perspektif lingkungan, pengurangan mobilitas ini juga berdampak pada turunnya emisi karbon. Kajian tentang kerja jarak jauh menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas komuter menjadi faktor utama penghematan energi.
Namun demikian, para ahli juga mengingatkan bahwa penghematan ini harus diimbangi dengan efisiensi energi di rumah, karena konsumsi listrik rumah tangga cenderung meningkat saat WFH.
Artinya, WFH bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari ekosistem kebijakan energi yang lebih luas.
Produktivitas Kerja: Antara Fokus dan Distraksi
Dari sisi efektivitas kerja, WFH menghadirkan dua sisi yang menarik. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bekerja dari rumah dapat meningkatkan konsentrasi karena minim gangguan seperti kebisingan kantor atau interupsi rapat yang tidak perlu.
Dalam banyak kasus, pekerja justru lebih produktif ketika memiliki kendali atas lingkungan kerjanya sendiri. Fleksibilitas waktu dan ruang memungkinkan mereka mengatur ritme kerja yang lebih sesuai dengan kondisi pribadi.
Namun, WFH juga tidak lepas dari tantangan. Rasa jenuh, keterbatasan interaksi sosial, hingga distraksi domestik dapat menurunkan performa jika tidak dikelola dengan baik.
Studi menunjukkan bahwa produktivitas dalam WFH sangat dipengaruhi oleh faktor individu seperti manajemen waktu, kualitas komunikasi tim, dan dukungan lingkungan kerja.
Dengan kata lain, efektivitas WFH bukan hanya soal tempat bekerja, tetapi juga tentang kesiapan mental dan sistem kerja yang adaptif.
Menemukan Titik Keseimbangan
Melihat dua sisi tersebut, model kerja hibrida—menggabungkan WFH dan kerja kantor—menjadi pilihan yang semakin relevan. Kebijakan satu hari WFH per pekan yang direncanakan pemerintah Indonesia menunjukkan upaya mencari titik keseimbangan antara efisiensi energi dan produktivitas ekonomi.
WFH memberikan ruang untuk penghematan energi dan peningkatan fokus kerja, sementara kehadiran di kantor tetap penting untuk kolaborasi, koordinasi, dan penguatan budaya kerja.
Dalam perspektif yang lebih luas, perubahan ini juga menandai transformasi cara manusia bekerja. Produktivitas tidak lagi diukur dari kehadiran fisik semata, tetapi dari output dan kualitas kerja.
Penutup: Efisiensi sebagai Kesadaran Baru
WFH bukan sekadar tren, tetapi refleksi dari kebutuhan zaman: efisiensi energi, fleksibilitas kerja, dan keberlanjutan ekonomi. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan sistem ini tidak hanya hemat energi, tetapi juga tetap menjaga kualitas kerja dan kesejahteraan pekerja.
Di sinilah diperlukan kesadaran kolektif—baik dari pemerintah, institusi, maupun individu—bahwa efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas, melainkan mengoptimalkan potensi.
Jika dikelola dengan tepat, WFH bukan hanya solusi sementara, tetapi bisa menjadi langkah strategis menuju masa depan kerja yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan. (#)
Penyunting Ichwan Arif












