Opini

Ilmu sebagai Penentu Masa Depan Peradaban

210
×

Ilmu sebagai Penentu Masa Depan Peradaban

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Dunia tidak kekurangan niat baik, tetapi kekurangan manusia yang mau belajar dengan serius. Ketika ilmu diremehkan dan nalar ditinggalkan, peradaban berjalan mundur—pelan, senyap, dan berbahaya.

Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co – Dunia hari ini bergerak semakin cepat. Masalah datang bertubi-tubi—krisis lingkungan, disrupsi teknologi, konflik sosial, hingga degradasi moral. Kompleksitas persoalan itu tidak bisa dihadapi dengan reaksi sesaat atau opini spontan di media sosial.

Dunia membutuhkan orang-orang berilmu: mereka yang mau berpikir panjang, meneliti dengan sabar, menganalisis secara jernih, lalu menawarkan solusi yang berkelanjutan. Tanpa itu, kita hanya sibuk menambal luka, bukan menyembuhkan penyakitnya.

Baca juga: Menjaga Lisan dan Pikiran di Era Digital

Ilmu bukan sekadar tumpukan informasi. Ia adalah proses terstruktur untuk memahami realitas. Dalam ilmu terdapat metodologi, verifikasi, kritik, dan tanggung jawab intelektual. Ketika ilmu ditinggalkan, yang tersisa hanyalah asumsi dan emosi. Akibatnya, manusia mudah terseret arus zaman dan perlahan berubah menjadi penonton sejarah—bukan pelaku yang menentukan arah masa depan.

Baca Juga:  Dekat dengan Layar, Jauh dari Hati

Sejak awal, Al-Qur’an telah menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Wahyu pertama bukan perintah berperang atau berkuasa, melainkan iqra’—bacalah (Al-‘Alaq: 1–5). Ini menegaskan bahwa peradaban Islam dibangun di atas fondasi literasi dan pencarian ilmu.

Bahkan Allah meninggikan derajat orang-orang beriman yang berilmu beberapa derajat (Al-Mujadilah: 11). Ayat ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan peta jalan peradaban: iman yang kuat harus berjalan seiring dengan ilmu yang mendalam.

Tradisi Panjang

Sejarah membuktikan prinsip tersebut. Kejayaan Islam tidak lahir dari budaya instan, tetapi dari tradisi belajar yang serius dan berjangka panjang. Para ulama dan ilmuwan Muslim menghabiskan hidup mereka untuk membaca, menulis, mengajar, dan berdiskusi. Imam Bukhari menempuh ribuan kilometer demi memastikan keotentikan satu hadis.

Imam Syafi’i rela hidup sederhana agar dapat fokus menuntut ilmu. Ibnu Sina menulis Al-Qanun fi al-Thibb yang selama berabad-abad menjadi rujukan dunia kedokteran. Mereka tidak viral, tetapi visioner. Mereka tidak tergesa-gesa, tetapi dampaknya melampaui zaman.

Agama ini tetap besar bukan karena slogan, melainkan karena dijaga oleh ilmu. Ulama menjaga makna, ilmuwan membaca realitas. Ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah solusi yang adil dan berkelanjutan.

Baca Juga:  Kemudahan Digital yang Menjerat: Tantangan Literasi dan Kreativitas Gen Z

Sebaliknya, ketika malas belajar mulai dinormalisasi—ketika merasa cukup dengan potongan video singkat dan kutipan tanpa konteks—di situlah kemunduran peradaban mulai bergerak pelan-pelan, hampir tak terasa.

Narasi “yang penting niat baik” pun kerap disalahpahami. Niat baik tanpa ilmu justru dapat melahirkan kerusakan. Dalam kaidah fikih disebutkan: al-hukmu ‘ala asy-syai’ far‘un ‘an tashawwurih—menetapkan hukum atas sesuatu bergantung pada pemahaman yang benar tentangnya. Keputusan yang tepat hanya lahir dari pemahaman yang utuh. Inilah sebabnya Islam sangat keras terhadap sikap berbicara tanpa ilmu (Al-Isra’: 36).

Bagi generasi muda, tantangan terbesar hari ini bukan kekurangan akses, melainkan kelebihan distraksi. Informasi melimpah, tetapi pemahaman sering kali dangkal. Padahal masa depan umat sangat ditentukan oleh kualitas intelektual generasinya.

Bila generasi mudanya hanya menjadi konsumen—mengonsumsi ide, produk, dan budaya dari luar—maka sejarah akan terus ditulis oleh orang lain. Namun jika mereka mau bersusah payah belajar, meneliti, dan berpikir kritis, merekalah yang akan menulis sejarah itu sendiri.

Belajar memang melelahkan. Ia menuntut disiplin, kesabaran, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum tahu. Tetapi justru dari proses itulah lahir kedewasaan berpikir.

Baca Juga:  Rajab dan Seni Memaafkan: Merawat Hati di Tengah Luka Relasi

Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa belajar bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan juga ibadah yang berdimensi akhirat.

Karena itu, jangan biarkan narasi malas belajar mengikis kejayaan umat. Jangan bangga dengan ketidaktahuan yang dibungkus kepercayaan diri. Peradaban besar tidak dibangun oleh orang-orang yang tergesa-gesa, melainkan oleh mereka yang tekun belajar dan berpikir jauh ke depan.

Jika dunia hari ini membutuhkan solusi jangka panjang, maka umat ini harus kembali melahirkan manusia-manusia berilmu—yang sabar meneliti, jujur menganalisis, dan berani bertanggung jawab atas masa depan. (#)

Jurnalis Ansorul Hakim Penyunting Mohammad Nurfatoni