Cerpen

Tuhan, I Love You

258
×

Tuhan, I Love You

Sebarkan artikel ini
i Cerpen Tuhan, I Love You
Ilustrasi cerpen Tuhan, I Love You (AI)

Tidak ada yang gratis di dunia ini Pak Ricky. Semuanya membutuhkan uang. Kunjungilah ke rumahnya. Bawa kain batik, ikan segar, jajan atau apapun. Jangan lupa amplopnya

Cerpen oleh Kamas Tontowi, Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani PDM Trenggalek dan guru bahasa Inggris MTsN 2 Trenggalek

Tagar.co – Ricky memandang alam sekitar, terlihat pepohonan berdiri berderet deret berbaris di sekitar pegunungan. Memandang pepohonan yang sejuk dan hijau, melupakan beban hidupnya.

Sejenak Ricky melihat jam di hp. “Sudah pukul 07.30. Murid murid sedang sholat dhuha. Aku masih di sini. Ahhh sudahlah. Banyak banyak bersyukur, masih diberikan kesempatan bertobat, memperbaiki diri hingga kini. Buka youtube ahhh.”

Membuang waktu, Ricky menyimak kiriman di grup WA. Terlihat podcast seorang artis merangkap pesulap membuka hal hal unik tentang serigala.

“Ternyata serigala adalah hewan unik. Mereka hewan yang bergerombol, tak pernah bisa ditaklukkan siapapun, memiliki harga diri tinggi, tak pernah ditemui di dalam sirkus.  Singa garang, tapi takluk di dalam sirkus. Serigala tak pernah mau takluk. Kesimpulannya, segarang apapun dirimu, kalau kamu tinggal di sirkus, kamu nggak ada apa apanya. Nggak punya harga diri. Jadilah seperti srigala. Dia hewan dengan harga diri. Di antara serigala serigala, ada seekor serigala yang paling berwibawa. Dia suka menyendiri tapi tidak kesepian. Dia hanya fokus pada misi hidupnya. Dialah lone wolf. Lone wolf ini menginspirasi Ricky untuk selalu fokus menuntaskan tujuannya. Mutasi. Meski begitu kegalauan dalam hatinya tak pernah sirna.”

Baca Juga:  Perempuan Tua Pencari Keong Sawah

Ungkapnya dalam hati. Beberapa menit berlalu. Ricky beringsut dan membawa motornya menuju tempat kerja. Dia harus mengurus permohonan mutasi tanpa menyogok.

Sesampai di sekolah, seorang teman bertanya. ”Tidak ada yang gratis di dunia ini Pak Ricky. Semuanya membutuhkan uang. Kunjungilah ke rumahnya. Bawa kain batik, ikan segar, jajan atau apapun. Jangan lupa amplopnya.”

Ricky hanya tersenyum. Ia ingat petuah ayahnya. “Ingat, yang menyuap dan disuap masuk neraka. Takutlah kamu kepada Allah, nggak usah takut miskin.”

“Aku harus segera mengurus pindah. Aku tak akan membayar siapapun. Aku yakin. Api neraka terlalu panas. Siksaan Allah bagi penyuap sangatlah pedih. Hidupnya selalu diliputi kesedihan, rasa bersalah, bahkan hatinya akan mengeras dan tak diberikan hidayah untuk selalu berdoa, apalagi menunaikan sholat di akhir malam. Aku bersedih jika doaku tidak dikabulkan, tapi aku lebih bersedih lagi bila Allah tidak memberiku hidayah untuk berdo’a. Aku tak bisa hidup tanpa-Nya. Allah bisa mengubah siang menjadi malam dan mengubah malam menjadi siang. Lantas apa yang sulit untuk mewujudkan mimpiku?” berbisik dalam hati Ricky, lirih.

Ricky berusaha kembali menghubungi kantor kepegawaian melalui WA, menanyakan sejauh mana proses permohonan mutasi.

“Gimana mbak! Sudah sampai mana proses mutasiku?”

Baca Juga:  Catatan Kecil di Dompet Arman

“Ohhh nggih, insyaAllah hari Senin saya proses lagi. Maaf, lagi repot. Banyak urusan yang harus diselesaikan. Kemarin saya mintakan tanda tangan ke pimpinan. InsyaAllah Senin bisa dikirim ke ibukota,“ jawab Reni, pegawai bagian kepegawaian.

“Makasih Mbak, maaf merepotkan. Sebenarnya saya cuma mau pengin antre, takut ditempati orang lain. Nggak harus di mutasi beberapa hari ini,” ungkap Ricky sungkan.

Tak ada jawaban. Mungkin kalimat itu terlalu familiar bagi Reni.

Sejenak Ricky duduk di lobi. Melihat siswa bercengkerama kantin, menikmati hembusan angin.

Tina, teman sesama guru, terlihat berjalan menuju kantor. Dia senyum sambil menyapa.

”He, gimana mutasimu? Cepat dibereskan lho. Aku dan teman teman lain mengurus mutasi, sekarang sedang diproses di wilayah. Tapi aku bingung, aku nggak punya teman di wilayah sana. Berat.”

“Lha ada tetanggamu yang kerja di wilayah. Masak kamu nggak tahu? Jawab Ricky. Siapa? Aku butuh orang yang bisa memproses permohonanku,” jawab Tina penasaran.

“Tommy kan ada di wilayah, hubungi saja Edi. Temui di kantornya. Minta dia untuk menemui kantor urusan kepegawaian di wilayah. Aku sudah pernah ke sana. Mengurus kenaikan pangkat,” jawab Ricky.

“Wehhh Alhamdulillah, aku gak tau kalau dia di sana. Besok saya hubungi. Gimana berkasmu?” tanya Tina.

“Aku nyantai saja. Aku cuma antri di kantor kepegawaian, agar tidak diserobot guru lain,” jawab Ricky.

Baca Juga:  Pesan Terakhir Abang dalam Sebuah Rekaman

“Segera diproses lho, biar segera bisa pindah. Lelah tiap hari naik turun gunung. Masak kalah sama aku. Aku dan teman-teman sudah sampai di wilayah,” Tina menasihati.

Ricky tersenyum saja.

Hari hari berlalu. Terlihat sebuah wa dari Reni pegawai urusan kepegawaian memberikan pesan.

“Permohonan njenengan sudah tinggal klik tombol kirim ke ibukota. Beres, nanti njenengan tunggu. Mungkin satu dua bulan selesai.”

“Makasih mbak, makasih. Liwat aplikasi apa mbak?” tanya Ricky penasaran.

“Semua aplikasi digunakan,” jawabnya.

“Makasih Mbak, makasih,” jawabku.

Tiba-tiba Tina mendatangi Ricky. Sambil sesenggukan mengeluh. “Rick, file ku hilang di wilayah. Terhapus. Aku pengin nangis. Cepat urus punyamu. Jangan sampai hilang seperti punyaku.”

“Sabar, sabar sabar,” Ricky menasihati.

Malam berganti siang. Siang berganti malam. Di tengah malam, Ricky resah. Dia tidak bisa tidur. Setelah pukul 00.00 dia tertidur. Mimpi buruk sekali. Di tinggal teman-temannya. Cuma tersisa istrinya. Dia kebingungan. Lama sekali. Tiba tiba terdengar ayam berkokok. Ricky terbangun.

“Alhamdulillah, aku sudah terbangun. Mimpiku buruk sekali, padahal aku sudah berwudhu.”

Sejenak Ricky membuka pesan di WA. Ada kiriman dari Rina. Kiriman dalam bentuk pdf. Tertulis Muhammad Ricky. Surat Keterangan mutasi ke MTSN 2 Al Islah Weru. Ricky berteriak kecil dan bersujud.

“Allahu akbar. Tuhan, I love you.” (#)

Penyunting Ichwan Arif