Feature

Transformasi Pendidikan lewat Teknologi: Sorotan Laporan GEM Unesco 2023

43
×

Transformasi Pendidikan lewat Teknologi: Sorotan Laporan GEM Unesco 2023

Sebarkan artikel ini
Peluncuran Laporan GEM Unesco 2023 menyoroti peran teknologi dalam meningkatkan akses pendidikan di Asia Tenggara. Indonesia menekankan fleksibilitas kurikulum dan transformasi digital guna menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti dalam peluncuran The National Launch of the 2023 GEM Report in Southeast Asia yang berlangsung pada 27 Januari 2025 di Jakarta.

Peluncuran Laporan GEM Unesco 2023 menyoroti peran teknologi dalam meningkatkan akses pendidikan di Asia Tenggara. Indonesia menekankan fleksibilitas kurikulum dan transformasi digital guna menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Tagar.co – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadi tuan rumah dalam peluncuran The National Launch of the 2023 GEM Report in Southeast Asia yang berlangsung pada Kamis (27/2/2025) di Jakarta.

Laporan ini, yang disusun oleh Global Education Monitoring (GEM) Unesco dan Southeast Asia Ministers of Education Organization (Seameo), menyoroti bagaimana teknologi telah mengubah cara pendidikan disampaikan di Asia Tenggara.

Dalam laporan bertajuk “A Tool on Whose Terms?”, teknologi disebut telah membuka akses pembelajaran bagi siswa di daerah terpencil dan situasi darurat. Namun, laporan ini juga menegaskan bahwa teknologi bukanlah solusi universal untuk semua tantangan pendidikan.

Baca juga: Pelestarian Bahasa Daerah: Warisan Budaya dan Identitas Bangsa

Saat ini, terdapat sekitar 400 juta pengguna internet di Asia Tenggara, dengan lonjakan 40 juta pengguna baru pada 2020. Aplikasi pembelajaran seperti Coursera mengalami peningkatan pendaftar yang signifikan, terutama dari Indonesia, Filipina, dan Vietnam, yang mencapai hampir 3 juta pendaftar pada 2021.

Baca Juga:  Mendikdasmen Menyalakan Optimisme dari Masjid Agung Ruhama Takengon

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menekankan pentingnya fleksibilitas dalam kebijakan pendidikan di Indonesia. Sekolah diberikan keleluasaan untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa. Pemerintah juga telah menyediakan berbagai kanal pembelajaran digital untuk mendukung transformasi pendidikan.

“Kita semua memiliki cita-cita yang sama, yaitu Pendidikan Bermutu untuk Semua. Tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal dalam mendapatkan akses pendidikan, di mana pun mereka berada,” ujar Suharti dalam sambutannya di hadapan peserta yang terdiri dari akademisi, perwakilan Seameo, serta pemangku kepentingan pendidikan lainnya.

Suharti juga menyoroti bahwa teknologi telah membuka peluang besar bagi pendidikan di Indonesia. Namun, tantangan seperti akses pendidikan di daerah 3T masih perlu diatasi bersama.

“Teknologi bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk mencapai sistem pendidikan yang lebih berkesinambungan. Oleh karena itu, penerapan teknologi harus selaras dengan prinsip kualitas, kesetaraan, dan keberlanjutan,” tambahnya, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Jumat (28/2/25) pagi.

Peluncuran Laporan GEM Unesco 2023 menyoroti peran teknologi dalam meningkatkan akses pendidikan di Asia Tenggara. Indonesia menekankan fleksibilitas kurikulum dan transformasi digital guna menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Laporan GEM Unesco 2023: Diskusi panel yang menyertai peluncuran The National Launch of the 2023 GEM Report in Southeast Asia yang berlangsung pada 27 Januari 2025 di Jakarta.

Menegaskan Peran Teknologi dalam Pendidikan

Direktur Unesco Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menegaskan bahwa peserta didik tetap harus menjadi pusat transformasi digital dalam pendidikan. Teknologi berfungsi sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti interaksi manusia dalam proses belajar-mengajar.

Baca Juga:  Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah Atasi Kekurangan Guru

Ia menambahkan bahwa teknologi dapat membantu menjangkau pelajar yang kurang beruntung dan memastikan penyebaran ilmu dalam format yang menarik serta hemat biaya.

Laporan GEM 2023 juga menyoroti kebijakan yang berfokus pada peningkatan kualitas pengajaran, perolehan keterampilan dasar, dan pengembangan kompetensi digital yang esensial bagi kehidupan sehari-hari.

“Indonesia memiliki sejarah keterlibatan yang kuat dengan Laporan GEM, sejak menjadi tuan rumah peluncuran regional Asia-Pasifik pada 2016 dan secara konsisten mengadakan peluncuran nasional sejak saat itu,” ujar Maki.

Pemanfaatan Laporan GEM 2023 untuk Masa Depan Pendidikan

Direktur Sekretariat Seameo, Datuk Dr. Habibah, mengajak semua pihak untuk menciptakan ruang kelas dan sistem pendidikan yang lebih kolaboratif dan transformatif di Asia Tenggara.

“Laporan GEM ini menjadi sumber penting dalam perumusan kebijakan transformasi digital dan pengembangan materi pembelajaran,” ujarnya melalui sambutan video.

Sementara itu, Direktur Seamolec, Wahyudi, berharap bahwa hasil dari Laporan GEM dapat mendorong pengambilan keputusan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Kegiatan ini bukan hanya momentum untuk menyebarluaskan informasi, tetapi juga menjadi ajang diskusi antar pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemanfaatan teknologi,” katanya.

Baca Juga:  UAS Khotbah di Kemendikdasmen, Abdul Mu'ti Ajak ASN Jadikan Kerja sebagai Ibadah

Acara ini juga diisi dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan perwakilan dari Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan; Pusat Data dan Informasi; serta Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru.

Diskusi ini membahas kebijakan dan kurikulum yang mendukung penggunaan teknologi dalam pendidikan, inovasi baru, serta strategi untuk memberdayakan guru dalam memanfaatkan teknologi dalam proses mengajar.

Dengan peluncuran Laporan GEM 2023, diharapkan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya dapat semakin mengoptimalkan peran teknologi dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni