Opini

Terlalu Banyak Sekolah, Terlalu Sedikit Pendidikan

73
×

Terlalu Banyak Sekolah, Terlalu Sedikit Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Daniel Mohammad Rosyid

Pendidikan kita mengalami kelebihan sekolah, tetapi kekurangan ruang belajar yang memerdekakan. Ketika pendidikan dimonopoli persekolahan, keluarga dan masyarakat tersingkir, dan belajar berubah menjadi komoditas mahal serta eksklusif.

Oleh Daniel Mohammad Rosyid @Rosyid College of Arts

Tagar.co – Untuk menjadi bangsa yang maju diperlukan paling tidak lima syarat. Pertama, pendidikan yang memerdekakan jiwa. Kedua, pasar yang terbuka dan adil. Ketiga, investasi yang memandirikan. Keempat, pasokan energi dan makanan yang cukup. Kelima, birokrasi yang amanah, kompeten, dan bebas korupsi.

Karena pendidikan adalah prasyarat budaya bagi bangsa yang merdeka, maka hal ini menjadi fondasi bagi pemenuhan empat syarat lainnya.

Baca juga: Pendidikan, Bukan Hanya Persekolahan

Sayang, pendidikan sejak Orde Baru hingga hari ini dirumuskan sebagai persekolahan yang bersifat massal dan memaksa. Tidak bersekolah hampir-hampir langsung dianggap kampungan dan tidak terdidik.

Peran keluarga dan masyarakat perlahan-lahan dipinggirkan. Persekolahan dijadikan instrumen teknokratik untuk menyiapkan tenaga kerja yang cukup terampil untuk menjalankan mesin-mesin, sekaligus cukup dungu untuk setia bekerja bagi kepentingan pemilik modal. No more, no less.

Persekolahan dibiarkan memonopoli pendidikan sehingga pendidikan menjadi barang langka dan mahal. Bahkan, beberapa sekolah berubah menjadi eksklusif dan diposisikan sebagai tempat terbaik untuk menyombongkan diri.

Baca Juga:  Tragedi Ngada, Rapuhnya Perlindungan Anak Miskin

Sekolah telah membuat belajar sebagai sebuah kegiatan yang konsumtif dengan biaya yang makin tidak terjangkau. Belajar sejatinya adalah kegiatan yang produktif, yang kesempatannya disediakan bersama oleh keluarga dan masyarakat.

Pembangunan gagal jika dibangun di atas puing-puing keluarga dan masyarakat. Tembok-tembok sekolah yang tebal dan tinggi cenderung mengasingkan warga muda dari keluarga dan masyarakat, seolah hidup berkeluarga dan bermasyarakat itu tidak sepenting bersekolah.

Pendidikan sebenarnya adalah fasilitas untuk memperluas kesempatan belajar, bukan sekadar kesempatan bersekolah, apalagi di era digital saat ini. Membatasi tempat belajar hanya di sekolah berarti mempersempit kesempatan belajar.

Sekolah seharusnya lebih bersifat melengkapi dan menambahi pendidikan di rumah dan di masyarakat. Sekolah tidak akan bisa dan tidak boleh mengambil alih peran pendidikan keluarga dan masyarakat.

Inilah prinsip tiga pilar pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Universal education for all can only be delivered by all. Sekolah tidak hanya membuat kesempatan belajar menjadi langka, tetapi juga menjadi eksklusif.

Pembangunan seharusnya dimaksudkan untuk memperluas kemerdekaan, sebagaimana dinyatakan oleh peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen. Dengan demikian, pembangunan pendidikan harus dirumuskan sebagai upaya memperluas kesempatan belajar untuk merdeka.

Baca Juga:  Pertanian Terpadu Organik: Satu Panggilan Jihad

Pendidikan tidak boleh dikerdilkan menjadi persekolahan yang sering terobsesi dengan penyeragaman berbasis standar, apalagi standar asing. Standar asing merupakan bagian dari neocortex war oleh kekuatan-kekuatan neokolonial.

Akibat obsesi terhadap standar, terlebih standar asing, pendidikan kehilangan relevansi personal, temporal, dan spasial. Potensi-potensi alamiah agro-maritim kita telah ditelantarkan secara terstruktur, sistemik, dan masif. Seiring dengan penelantaran itu, kita juga kehilangan wawasan ekologis yang merusak potensi-potensi agro-maritim yang melimpah itu.

Belajar adalah sebuah emergent process yang tidak pernah mensyaratkan gedung megah, kurikulum yang ketat dan kaku, serta birokrasi sekolah yang rumit. Belajar paling tidak mencakup empat kesempatan pokok, yakni mengalami atau praktik, membaca, berbicara, dan menulis.

Belajar adalah sebuah proses memaknai pengalaman. Pengalaman, terutama pengalaman tiga dimensi, adalah papan lontar belajar. Bagi anak laki-laki, kelas adalah tempat terburuk untuk belajar.

Sekolah sebagai lingkungan buatan sering kali terlalu tertib, aman, dan nyaman; tidak memberikan tantangan berupa ketidakpastian dan risiko nyata. Inilah kurikulum yang terlaksana, bukan kurikulum yang ditulis rapi. Tidak mengherankan jika kini kita menghadapi krisis kepemimpinan, karena kepemimpinan tidak bisa dibina dalam lingkungan yang teratur, aman, dan nyaman.

Persekolahan seperti itu telah memperpanjang masa kanak-kanak warga muda kita. Mereka yang lulus SMA atau sederajat pada usia delapan belas tahun belum siap menjadi warga dewasa yang mandiri, sehat, dan produktif.

Baca Juga:  Presiden Prabowo di Sarang Penyamun

Peningkatan jumlah calon mahasiswa adalah bukti kegagalan pendidikan dasar dan menengah. Hal ini memberi beban tambahan bagi kampus karena harus menghadapi mahasiswa baru yang belum dewasa. Peningkatan jumlah mahasiswa baru seperti ini jelas akan menurunkan kapasitas pendidikan dan riset kampus.

Persoalan pendidikan kita saat ini adalah too much schooling, not the lack of it. Yang kita perlukan saat ini adalah membangun jejaring belajar atau learning webs, di mana keluarga dan masyarakat diperkuat serta diikutsertakan dalam memberi kesempatan belajar bagi warga muda.

Sekolah dan kampus menjadi salah satu simpul belajar dalam jejaring belajar tersebut. Jejaring belajar itu tidak boleh terlalu terobsesi dengan penyeragaman berbasis standar, tetapi perlu luwes dan adaptif agar relevan secara personal, temporal, dan spasial.

Potensi-potensi warga muda yang beragam, serta potensi agro-maritim negara kepulauan seluas Eropa ini, tidak boleh lagi ditelantarkan. It takes a village to raise a child, and none shall be left behind.

Penyunting Mohammad Nurfatoni