
Tamparan kepala SMA di Banten kepada murid yang merokok di sekolah jadi viral. Orang tuanya lapor polisi. Kepala sekolah dicopot. Ini tanda rasa hormat pada pendidikan telah hilang.
Oleh Arif Zunaidi, dosen UIN Syekh Wasil Kediri
Tagar.co – Viral di media sosial, seorang kepala SMA di Banten menampar muridnya yang ketahuan merokok di lingkungan sekolah.
Detik itu juga, dunia maya terbakar. Video berdurasi tak sampai semenit itu jadi amunisi perdebatan nasional.
Orang tua murid marah besar. Mereka merasa anaknya dipermalukan. Laporan pun dibuat ke polisi. Tak berhenti di situ, tekanan publik dan tekanan emosional dari pihak keluarga membuat kepala sekolah itu akhirnya dicopot dari jabatannya.
Ironisnya, setelah kejadian itu, murid-murid satu sekolah malah kompak mogok belajar. Alasannya, memprotes guru yang tega menampar temannya.
Begitulah potret kita hari ini.
Di satu sisi, tamparan seorang pendidik dianggap kekerasan. Di sisi lain, perbuatan melanggar aturan justru dibela.
Dunia pendidikan kita seperti kehilangan kompas moral. Yang salah dibela, yang menegakkan aturan dihukum.
Antara Didikan dan Kekerasan
Mari jujur sebentar. Tak ada satu pun guru yang senang menampar muridnya. Itu bukan kebanggaan, melainkan titik frustrasi.
Sebuah luapan ketika nasihat sudah tak lagi didengar, teguran hanya jadi angin lalu, dan hormat pada guru berubah jadi bahan olok-olok.
Namun hukum tetaplah hukum. Kekerasan dalam bentuk apa pun tak bisa dibenarkan. Tapi masalahnya, hari ini batas antara mendidik dan melukai menjadi kabur karena persepsi yang terbalik.
Menurut teori Disiplin Pendidikan Humanistik (Carl Rogers), tujuan pendidikan adalah membangun kesadaran diri, bukan sekadar kepatuhan.
Tapi bagaimana kesadaran bisa tumbuh jika setiap bentuk koreksi dianggap penghinaan? Jika setiap teguran dikira serangan?
Sekolah bukan tempat mengurung anak-anak agar tidak salah. Sekolah adalah ruang yang memungkinkan mereka belajar dari kesalahan.
Namun hari ini, ketika murid ketahuan salah, yang maju justru orang tuanya—bukan untuk memperbaiki, tapi untuk menyerang balik.
Ini bukan lagi soal tamparan. Ini tentang generasi yang alergi terhadap konsekuensi.
Orang Tua Congkak
Ada yang lebih miris dari viralnya video itu, para orang tua yang justru bangga memperjuangkan harga diri anaknya yang melanggar.
Mereka lupa, di balik setiap guru yang menegur, ada niat tulus untuk menyelamatkan.
Kita sering bicara soal Generasi Emas Indonesia 2045. Tapi siapa yang menempa emas itu, kalau setiap guru yang menegakkan disiplin harus siap dipermalukan.
Emas tidak pernah lahir dari kelembutan. Ia ditempa oleh panas, tekanan, dan waktu.
Bandingkan dengan masa lalu. Dulu, ketika seorang murid ditegur guru karena malas belajar, orang tua akan berkata, “Guru itu benar, Nak. Dengar nasihatnya.”
Hari ini, kalimat itu berubah jadi,”Guru itu siapa berani mempermalukan anak saya?”
Padahal, menurut teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner, anak tumbuh dalam sistem yang saling berpengaruh: keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
Jika keluarga tak menghormati sekolah, bagaimana anak bisa menghormati ilmu?
Anak-anak kini hidup di zaman di mana like di medsos lebih penting dari adab, dan pembelaan di media sosial lebih menggoda daripada introspeksi.
Mereka lebih takut jadi bahan ejekan di TikTok daripada jadi orang yang tak tahu sopan santun.
Kita tidak sedang kehilangan moral; kita sedang menormalisasi ketidakmoralan dengan alasan “perlindungan hak anak.”
Kisah Sahabat
Mari menengok ke masa awal Islam. Ada kisah menarik antara Abdullah bin Abbas, seorang sahabat muda yang dikenal sebagai ahli tafsir,dengan gurunya, Zaid bin Tsabit, penulis wahyu Nabi.
Suatu hari, Ibn Abbas membantu Zaid menaiki untanya. Saat Zaid heran mengapa muridnya yang lebih muda mau memegang tali kekang untuknya, Ibn Abbas menjawab,“Begitulah kami diperintahkan untuk menghormati ulama dan guru kami.”
Padahal, Ibn Abbas bukan murid biasa. Ia keponakan Rasulullah. Tapi ia menundukkan diri karena tahu, di hadapan ilmu, semua derajat menjadi sama.
Bandingkan dengan hari ini. Guru menegur murid, langsung dilaporkan. Guru menahan anak agar tidak hancur, dituduh mengekang. Kepala sekolah menegakkan aturan, dihukum karena dianggap kasar.
Dalam Islam, mendidik itu tanggung jawab besar. Guru bukan hanya pengajar, tapi juga penjaga moral masyarakat.
Nabi pernah bersabda,”Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi yang muda, serta tidak menghargai orang berilmu.” (H.R. Ahmad)
Tapi apa jadinya jika penghormatan itu kini hanya jadi teks dalam buku pelajaran.
Berhenti Salahkan Guru
Tamparan itu mungkin salah secara hukum. Tapi apakah semua ini harus diakhiri dengan pencopotan kepala sekolah dan perlawanan murid? Ataukah ini justru panggilan agar kita becermin, betapa rapuhnya fondasi moral kita hari ini?
Murid yang merokok di sekolah adalah cerminan kegagalan sistem nilai, di rumah, di lingkungan, bahkan di media yang dikonsumsi setiap hari.
Ketika orang tua lebih sibuk membela nama baik anak ketimbang mendidik perilakunya, di situlah lingkaran rusak itu terbentuk.
Kita tak butuh sekolah yang hanya pandai menulis visi misi. Kita butuh sekolah yang berani menegakkan nilai, meski kadang harus melawan arus populisme moral.
Kepada para orang tua, yang katanya ingin anaknya sukses, ingatlah, kesuksesan tidak lahir dari pembelaan buta, tapi dari ketegasan yang penuh kasih.
Mungkin tamparan itu berlebihan. Tapi tamparan yang lebih menyakitkan adalah ketika generasi ini tumbuh tanpa arah, tanpa rasa hormat, tanpa tahu bedanya benar dan salah.
Bangsa besar bukan dibangun dari anak-anak yang dimanja, tapi dari mereka yang ditempa.
Jika hari ini guru takut mendidik karena takut dilaporkan, maka esok jangan heran bila anak-anak kita tumbuh tanpa hormat, tanpa disiplin, dan tanpa jiwa belajar. Karena ketika adab hilang, maka ilmu tak lagi punya makna.
Tamparan yang dulu dianggap mendidik, kini tinggal jadi berita viral yang mengingatkan, kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada jabatan seorang kepala sekolah. Kita kehilangan rasa hormat pada pendidikan itu sendiri. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












