
Takziah meringankan duka dan mengenang perjuangan amil Lazismu Nganjuk dan Surabaya. Mereka para pejuang orang duafa yang hidupnya sendiri paspasan.
Tagar.co – Sabtu pagi, 14 Juni 2025, mentari baru saja menyapa bumi Lumajang ketika tiga amil Lazismu menyusuri jalan keluar kota usai salat Subuh.
Tiga orang itu saya, Nugroho Dwi Atmoko, dan Said Romdhon. Nugroho anggota Badan Pengurus Lazismu Lumajang dan Said Direktur Lazismu.
Kami bertolak ke Nganjuk melalui jalan tol masuk dari Probolinggo Timur dan keluar pintu Gempol. Lalu lewat Mojokerto, Jombang, Kertosono.
Tujuan kami takziah ke rumah almarhum Amar Ikhsan Rosyidi, amil muda Lazismu Nganjuk yang wafat pada 7 Juni 2025 lalu.
Sepanjang perjalanan, banyak wejangan disampaikan oleh Pak Nug, sapaan Nugroho.
“Sesama amil Lazismu itu seperti satu tubuh. Kalau satu bagian sakit, yang lainpun merasakan. Hari ini, kita mungkin telat hadir secara waktu, tapi kita hadir dalam doa dan dukungan. Yang lebih utama, kita ingin menguatkan ayahanda Mas Amar,” katanya.
Kami tiba di Nganjuk pukul 11 siang. Pak Mizan, ayah Amar Ikhsan Rosyidi, menyambut kami. Hadir pula Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Nganjuk, Drs. Juwari.
Pak Mizan menceritakan putranya, Amar, sosok yang ringan tangan dan bersahabat. Ceritanya nyaris tak terdengar jelas, tertelan oleh suara sesenggukan dan air mata yang meleleh di pipinya.
“Mas Amar itu anak baik. Sampai sekarang masih banyak yang datang bertakziah, dari saudara, teman, hingga rekan-rekan dari Lazismu. Saya terharu. Kalau Mas Amar ada salah, mohon dimaafkan ya. Saya insyaallah, ikhlas dan rida dengan kepergiannya,” tuturnya.
Amar sosok pejuang tangguh Lazismu Nganjuk. Saat malam takbiran Iduladha, ia masih berusaha mengejar target pengumpulan kurban kemasan program RendangMu yang digagas oleh Lazismu Jawa Timur.
”Masih sempat dia kirim laporan dan data sebelum dia meninggalkan kita semua,” kenang Pak Mizan.
Dia bercerita, Amar itu berkeinginan membeli rumah sendiri. Namun Pak Mizan menahan niat tersebut. ”Kamu anak satu-satunya. Mending rumah ini saja kamu perbaiki, biar jadi lebih bagus,” cerita Pak Mizan.
Rumah orang tuanya itu mulai direnovasi sedikit demi sedikit, tapi takdir berkata lain Amar pergi sebelum rumah selesai diperbaiki.
”Rumah ini jadi kenangan Amar. Kami akan teruskan sebagai warisan cinta dan perjuangannya,” ucap Pak Mizan dengan mata berkaca-kaca.

Usai dari Nganjuk, perjalanan melanjutkan ke Surabaya untuk takziah amil Lazismu Surabaya, almarhum H. Sari Wahyudi yang wafat pada Kamis, 12 Juni 2025 sekitar pukul 04.00 pagi.
Almarhum turut membesarkan Lazismu Surabaya dan menjadi sopir ambulans. Sosoknya santun, berkomitmen, dan berdedikasi tinggi untuk urusan umat.
“Sekalian kita ke Surabaya. Kung Ridho, Ketua Lazismu Probolinggo juga mengajak ketemu di sana, di Kantor PWM Jatim, Masjid Al-Badar. Beliau habis dari Lamongan dan ingin sekalian bertemu,” ujar Pak Nug.
Kami berkumpul dulu dengan Kung Ridho lalu bersama berangkat ke rumah duka. Pukul 16.00 WIB, kami tiba. Rumahnya di gang kecil kampung Darmorejo.
Kami menyampaikan belasungkawa dan dukungan dari keluarga besar Lazismu se-Jawa Timur. Amil Lazismu sebenarnya hidupnya juga penuh perjuangan berada di gang sempit dan dan padat seperti ini. Karena itu kami saling menjaga silaturahmi dan kepedulian.
Menjadi amil bukan hanya tentang mengelola dana umat, tetapi juga tentang menjaga empati dan kebersamaan. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












