
Di titik itu, Yatiman akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa malu. Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya kosong, tetapi juga berbahaya.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
Tagar.co – Di tengah hiruk pikuk perdebatan penentuan awal puasa dan hari raya, seorang pria tampil paling yakin seolah ia memahami segalanya.
Tanpa dasar ilmu yang jelas, ia menjadi rujukan banyak orang. Namun sebuah peristiwa sederhana perlahan meruntuhkan keyakinannya, membuka kenyataan pahit bahwa yang paling keras bersuara sering kali justru yang paling kosong di dalam dirinya.
Yatiman selalu punya tempat di setiap perdebatan, terutama saat Ramadan semakin dekat. Di grup keluarga, di warung kopi, hingga linimasa media sosial, ia hadir dengan suara yang paling lantang.
Ia berbicara seolah memahami perhitungan langit dan tanda tanda waktu yang bahkan tak pernah ia pelajari.
Orang orang mendengarkan, sebagian percaya, sebagian diam, dan sisanya memilih tidak berdebat dengannya.
Suatu sore di warung kopi, perdebatan itu kembali muncul. Seorang lelaki tua yang dikenal sering mengikuti kajian mencoba bertanya dengan tenang tentang dasar pendapat Yatiman.
Yatiman menjawab panjang lebar, menyebut istilah yang terdengar ilmiah namun disusun seadanya. Lelaki itu hanya tersenyum tipis, lalu berkata pelan bahwa ilmu bukan soal terdengar meyakinkan, melainkan soal bisa dipertanggungjawabkan.
Kalimat itu membuat suasana hening sesaat, tetapi Yatiman menutupinya dengan tawa kecil. Ia mengalihkan pembicaraan dan kembali mendominasi diskusi.
Namun sejak saat itu, ada sesuatu yang tertinggal dalam benaknya. Sebuah ganjalan kecil yang tidak cukup kuat untuk ia akui, tetapi cukup mengganggu untuk diabaikan sepenuhnya.
Di rumah, Yatiman menjalani rutinitas yang berbeda dari citra dirinya di luar. Salat sering tertunda, bahkan kadang terlewat tanpa rasa bersalah yang berarti.
Al-Qur’an tergeletak di rak, tak lagi ia sentuh kecuali saat benar benar teringat. Istrinya beberapa kali menegur dengan halus, tetapi Yatiman selalu punya alasan untuk menunda perubahan.
Anaknya yang masih kecil suatu malam mendekat saat ia sibuk menatap ponsel. Anak itu bertanya apakah ayahnya tahu cara melihat hilal seperti yang diceritakan gurunya di sekolah.
Yatiman terdiam sejenak sebelum menjawab sekenanya, lalu menyuruh anak itu tidur. Tatapan polos itu meninggalkan rasa yang aneh, seperti cermin yang menunjukkan sesuatu yang tak ingin ia lihat.
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, suasana lingkungan berubah. Masjid mulai ramai oleh orang orang yang iktikaf, sementara Yatiman justru semakin sibuk dengan perdebatan di layar.
Ia menulis panjang, membalas komentar satu per satu, dan merasa puas setiap kali pendapatnya didukung. Tanpa ia sadari, ia lebih tekun menjaga argumen daripada menjaga ibadahnya sendiri.
Malam takbiran tiba dengan riuh yang khas. Yatiman kembali aktif, mengomentari perbedaan penetapan hari raya di berbagai tempat.
Kali ini seseorang mengunggah tangkapan layar pernyataan Yatiman tahun sebelumnya yang ternyata bertentangan dengan pendapatnya sekarang. Banyak orang mulai mempertanyakan konsistensinya, dan perdebatan berubah menjadi sindiran terbuka.
Yatiman mencoba membela diri, tetapi semakin ia menjelaskan, semakin jelas ia tidak memiliki dasar yang kuat. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi terlihat sebagai orang yang paling tahu.
Ia menutup aplikasinya dengan cepat, merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, campuran antara malu dan takut.
Pagi hari raya datang dengan suasana yang berbeda. Yatiman tetap berangkat salat Id, tetapi langkahnya terasa lebih berat.
Di lapangan, ia berdiri di antara orang orang yang tampak tenang dan khusyuk. Ketika khutbah dimulai, ia berusaha mendengarkan, meski pikirannya masih dipenuhi kejadian semalam.
Imam berbicara tentang kejujuran terhadap diri sendiri. Tentang bagaimana seseorang bisa terlihat yakin di hadapan orang lain, tetapi rapuh di hadapan kebenaran.
Setiap kalimat terasa seperti mengarah kepadanya, tetapi kali ini Yatiman tidak menolak. Ia justru mulai mengingat kembali semua ucapannya yang selama ini ia banggakan.
Sepulang dari salat, ia mendapati anaknya duduk di ruang tamu sambil membaca Al Quran terbata bata. Istrinya menatapnya tanpa banyak bicara, tetapi ada kehangatan sekaligus pertanyaan dalam pandangannya.
Yatiman duduk perlahan, memperhatikan anaknya yang berusaha melafalkan ayat dengan sungguh sungguh. Untuk pertama kalinya, ia merasa kecil di hadapan keluarganya sendiri.
Hari hari setelah itu tidak lagi sama. Yatiman mulai jarang muncul di perdebatan, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Ia lebih sering diam, seolah sedang menyusun ulang sesuatu dalam dirinya. Orang orang yang dulu mendengarkan suaranya kini mulai melupakannya, dan ia tidak lagi berusaha mengambil kembali perhatian itu.
Suatu sore, ia kembali ke warung kopi yang sama. Lelaki tua yang dulu menegurnya masih duduk di sudut yang sama. Yatiman menghampiri dengan langkah ragu, lalu duduk tanpa banyak kata.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya bertanya, bagaimana cara mulai belajar dari nol.
Lelaki itu tersenyum, tetapi tidak langsung menjawab. Ia justru balik bertanya, apakah Yatiman benar benar siap untuk merasa tidak tahu.
Pertanyaan itu membuat Yatiman terdiam lama. Ia menyadari bahwa selama ini, yang paling ia takutkan bukanlah salah, melainkan terlihat tidak tahu di hadapan orang lain.
Matahari mulai turun ketika percakapan mereka berakhir. Yatiman pulang dengan langkah yang berbeda, lebih pelan namun terasa lebih ringan.
Di rumah, ia membuka kembali Al Quran yang lama ia abaikan. Tangannya sedikit gemetar saat membalik halaman pertama yang akan ia baca kembali.
Namun saat ia membuka ponselnya untuk mematikan notifikasi, ia melihat pesan masuk yang membuatnya terpaku.
Seorang teman lama mengirimkan tangkapan layar perdebatan semalam, disertai kabar bahwa beberapa orang mengikuti penetapan hari raya berdasarkan pendapat Yatiman yang keliru. Ada yang sudah terlanjur merayakan lebih awal, dan kini kebingungan.
Yatiman menatap layar itu lama sekali. Nafasnya terasa berat, dan dadanya sesak oleh kesadaran yang tak bisa lagi ia hindari. Ia bukan hanya tidak tahu, tetapi pernah membuat orang lain yakin pada sesuatu yang salah.
Kesalahan itu tidak berhenti pada dirinya, melainkan menyebar melalui kata-kata yang ia ucapkan dengan penuh percaya diri.
Di titik itu, Yatiman akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa malu. Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya kosong, tetapi juga berbahaya.
Dan kesadaran itu datang terlambat, tepat setelah orang lain mulai menanggung akibat dari kepastian palsu yang pernah ia suarakan. (#)
Penyunting Ichwan Arif












