Film

Squid Game 3: Di Ambang Kematian, Manusia Memilih Jadi Tuhan

49
×

Squid Game 3: Di Ambang Kematian, Manusia Memilih Jadi Tuhan

Sebarkan artikel ini
Beberapa pemain utama dalam game petak umpat (Foto Netflix.com)

Squid Game 3 bukan sekadar permainan bertahan hidup, tapi panggung penghakiman antarmanusia. Di tengah sistem yang membusuk, para pemain dipaksa tak hanya bertahan, tapi juga menentukan siapa yang pantas hidup. Inilah saat ketika manusia, di ambang kematian, memilih jadi Tuhan.

Tagar.co – Ditayangkan Netflix, Jumat 27 Juni 2025, Squid Game 3 bukan hanya penutup saga yang fenomenal, tapi juga refleksi brutal tentang dunia yang semakin hilang batas antara tontonan dan penderitaan, antara kekuasaan dan perlawanan, antara hidup yang dijalani dan hidup yang dipertaruhkan.

Dalam atmosfer yang lebih gelap, lebih filosofis, dan lebih metaforis dari dua seri sebelumnya, seri ini memaksa penonton bertanya ulang: dalam sistem yang sudah terlampau rusak, apakah masih ada ruang untuk menyelamatkan martabat manusia?

Permainan kali ini disusun ulang—bukan hanya lebih brutal secara fisik, tapi juga secara moral. Tiap episode bukan hanya menguji keberanian atau kelicikan, tapi menyasar etika terdalam manusia: apakah kamu akan menyelamatkan orang lain atau menyelamatkan dirimu sendiri? Di sinilah kekuatan naratif seri ketiga terasa: ia menjadikan permainan bukan hanya aritmatika bertahan hidup, tapi juga drama moral yang merobek kemanusiaan peserta.

Setelah kegagalan pemberontakan di seri kedua, seri terakhir ini dimulai dengan nada yang lebih gelap. Cerita dimulai dengan Gi‑hun (Player 456, diperankan Lee Jung-jae) yang melanjutkan upayanya untuk menutup Squid Game selamanya.

Permainan pertama Hide and Seek—versi sadis dari petak umpet—langsung menyajikan ketegangan antara dua tim: merah dan biru. Tim merah dipersenjatai dan dipaksa membunuh, sementara tim biru harus bertahan hidup.

Geum-ja dan Yong-sik (Foto Netflix.com)

Geum-ja dan Yong-sik: Kasih Ibu di Tengah Neraka

Di tengah arena yang penuh jebakan dan pengkhianatan, salah satu cerita paling menggetarkan datang dari Jang Geum-ja (Player 149, diperankan Kang Ae-sim), seorang perempuan tua yang selama permainan terlihat tenang dan peduli. Ia bersatu tim dengan peserta lain, termasuk Jun-hee (Player 222, diperankan Jo Yuri)—perempuan hamil yang memasuki permainan demi hadiah uang untuk masa depan bayinya.

Geum-ja membantu Jun-hee melewati rintangan demi rintangan. Tapi konflik terbesar datang bukan dari luar, melainkan dari dalam: anak kandung Geum-ja, Yong-sik (Player 007, diperankan Yang Dong-geun), berada dalam tim yang sama, dan dalam kondisi mental yang kalut, mencoba membunuh Jun-hee untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dalam adegan paling mengiris di sepanjang seri, Geum-ja harus membuat pilihan: membiarkan anaknya membunuh, atau membunuh anaknya sendiri demi menyelamatkan yang lain.

Baca Juga:  David, Penakluk Raksasa di Layar Ramadan

Ia memilih yang kedua. Dengan jepit rambut logam yang ia sembunyikan, ia menikam Yong-sik dari belakang. Tindakannya bukan bentuk kebencian, tapi cinta dalam bentuk paling tragis: cinta yang menolak mengorbankan orang lain demi keluarga sendiri.

Beberapa malam setelah itu, Geum-ja bunuh diri. Ia memilih mati sebagai bentuk akhir dari tanggung jawab moralnya—dan sebagai pernyataan perlawanan terhadap sistem yang memaksa manusia kehilangan akal demi bertahan hidup.

Jun-hee dan bayinya (Foto Netflix.com)

Kelahiran dan Harapan Baru: Jun-hee dan Bayi 222

Kontras dari kematian Geum-ja, kita menyaksikan satu-satunya kelahiran di sepanjang seri: bayi dari Jun-hee. Ia melahirkan di tengah arena, dibantu oleh peserta lain, dan kelahiran ini menjadi metafora kuat tentang kemungkinan lahirnya harapan di tengah kekelaman sistem yang membunuh.

Bayi itu bukan hanya simbol keberlangsungan hidup. Ia adalah metafora harapan, keluguan, dan masa depan yang belum tercemar oleh permainan kekuasaan dan uang.

Penonton melihat betapa ringkihnya harapan itu, karena meski sempat diselamatkan, bayi Jun-hee tetap menjadi incaran kekuatan yang ingin menghapus simbol perlawanan sekecil apapun.

Game kedua, Jump Rope, menyajikan kombinasi mematikan antara akrobat dan tekanan psikologis. Gi-hun menggendong bayi itu melewati jembatan goyang, menyelamatkannya. Tapi kematian terus memakan korban, termasuk Jun-hee sendiri yang melompat budnuh diri. Bayinya—dalam keputusan kejam para VIP—dijadikan peserta dan diberi nomor: 222.

Gi-hun Foto Netflix.com

Permainan Terakhir: Pilihan yang Menentukan

Permainan terakhir—Squid Game in the Sky—dalam seri ini bukan lagi fisik, tapi moral. Para peserta yang tersisa—hanya sembilan orang (termasuk bayi)—diberi pilihan: apakah mereka ingin permainan dihentikan atau dilanjutkan?

Inilah ujian sejati. Setiap peserta melihat ke mata satu sama lain, mencari niat, dendam, ketakutan, atau pengampunan. Tapi akhinya mayoritas pemain memilih melanjukan. Dan dari balkon atas, VIP bersorak. Mereka bertaruh bukan lagi pada siapa yang akan menang, tapi siapa yang akan paling tega.

Baca Juga:  Kafkaesque: Ketika Sistem Lebih Nyata dari Manusia

Game final ini menghadirkan struktur menjulang dengan simbol-simbol khas: lingkaran, segitiga, kotak. Untuk menang, setiap ronde menuntut satu pemain dijatuhkan dari ketinggian. Ketika hanya Gi-hun dan ayah sang bayi Myung-gi (Player 333, diperankan Yim Si-wan) yang tersisa, konflik memuncak.

Salah satu momen paling menyayat adalah ketika Gi-hun menyelamatkan bayi Player 222 dan akhirnya memilih mengorbankan dirinya demi sang bayi. Ini bukan sekadar aksi heroik, tetapi sebuah pernyataan kuat tentang harapan di tengah kebengisan.

Sutradara Hwang Dong-hyuk secara mengejutkan mengubah akhir cerita saat proses penulisan, dan keputusan itu membuahkan hasil: sebuah akhir yang terasa orisinal, pahit, dan penuh makna. Permainan terakhir yang disebut Squid Game in the Sky ini bukan hanya fisik, tetapi juga simbolik: mempertanyakan nilai hidup, kekuasaan, dan pengorbanan.

Sementara itu, Guard 011 berhasil menyelamatkan Player 246, dan detektif Jun-ho nyaris berhasil mengungkap semua, tapi datang terlambat. Pulau pun meledak setelah protokol penghancuran diri diaktifkan. Terlihat, nyala api itu tercermin dalam mata terbuka Gi-hun yang telah gugur—visual penutup yang simbolik dan menghantui.

Enam bulan berselang, Front Man (diperankan Lee Byung-hun) menyerahkan sang bayi dan hadiah kemenangannya kepada Jun-ho. Ia lalu pergi ke Los Angeles untuk menemui anak Gi-hun dan memberikan jaket pemain sang ayah dan hadiah uang dalam kartu debet. Dalam epilog mengejutkan, aktris papan atas Cate Blanchett muncul sebagai perekrut baru, menandai kemungkinan dunia Squid Game berlanjut secara global.

Front Man (Foto Netflix.com)

VIP: Dari Penonton Bayangan ke Eksekutor Nyata

Salah satu kekuatan besar Squid Game 3 adalah transformasi peran para VIP. Jika di musim pertama mereka hadir sebagai penonton elite bertopeng hewan yang hanya menyaksikan dari balik layar, maka kini mereka turun langsung ke dalam permainan. Mereka tidak hanya menyaksikan penderitaan, tetapi juga menjadi bagian aktif dari eksekusi dan pembentukan aturan permainan.

Beberapa VIP bahkan menyamar menjadi penjaga, dengan seragam merah muda yang ikonik. Mereka memburu peserta yang dianggap lemah, membunuh yang “tidak layak tonton”, dan dalam satu episode, bahkan menyelenggarakan duel gladiator antarpeserta demi taruhan pribadi. Penonton melihat bagaimana kuasa absolut tidak hanya mematikan, tetapi juga banal—penuh ejekan, candaan, dan sinisme terhadap penderitaan manusia.

Baca Juga:  Bioskop dan Radio Tergerus Teknologi

Lebih mengejutkan lagi adalah terungkapnya keterlibatan mereka dalam jaringan perdagangan organ. Dalam sebuah subplot investigatif yang dibongkar oleh Jun-ho, diketahui bahwa sebagian besar tubuh peserta yang gugur tidak dikremasi, melainkan dijual ke pasar gelap global.

VIP tak hanya membeli tontonan, tapi juga literal bagian dari tubuh manusia. Ini adalah alegori gamblang tentang kapitalisme ekstrem yang tidak hanya mengeksploitasi tenaga, tetapi juga daging dan darah manusia.

Sa;ahh satu adegan Hide and Seek (Foto Netflix.com)

Akhir yang Membebani: Pengorbanan dan Harapan

Di dunia yang dikendalikan oleh para VIP, yang menjadikan penderitaan manusia sebagai tontonan, Squid Game 3 memberikan konklusi yang tak nyaman tapi jujur: sistem rusak tidak akan hancur oleh kekuatan, tetapi oleh kesadaran kolektif untuk mundur darinya.

Squid Game 3 adalah meditasi gelap tentang kekuasaan, kekejaman, dan kemanusiaan. Ia memperlihatkan bagaimana elite tidak hanya menyaksikan penderitaan manusia, tapi juga menciptakan dan mengeksploitasinya. Mereka menyamar, berinvestasi, mengatur, bahkan menjual bagian tubuh peserta demi keuntungan.

Namun di antara darah dan bangkai, lahir seorang bayi. Di antara kematian, tumbuh kasih sayang ibu yang memilih kehilangan anaknya sendiri demi menyelamatkan orang lain. Di antara suara-suara yang haus kekuasaan, seseorang memilih diam. Dalam dunia yang ingin memaksamu jadi hewan, Squid Game mengajarkan bahwa masih ada jalan untuk tetap menjadi manusia.

Dan justru karena itu, pilihan-pilihan moral yang dihadapi para pemain menjadi semakin ekstrem. Di ambang kematian, mereka tak lagi sekadar memilih antara hidup atau mati—melainkan menentukan siapa yang layak hidup dan siapa yang harus disingkirkan. Dalam ruang permainan yang tak mengenal belas kasihan, manusia perlahan diubah menjadi algojo bagi sesamanya. Dalam keputusan itu, mereka bukan lagi korban, tapi pencipta nasib; bukan lagi manusia biasa, tapi Tuhan kecil dalam arena buatan.

Inilah ironi paling getir yang ditegaskan Squid Game 3: ketika sistem membunuh nurani, manusia tergoda memainkan peran Tuhan demi bertahan sebagai binatang. (#)

Mohammad Nurfatoni, menonton Squid Game 3 Jumat 27 Juni 2025 sore hingga malam.