Feature

Solidaritas Dewan Dakwah: Posko Peduli Ponpes Al-Khoziny, Injury Time yang Menyentuh Kemanusiaan

42
×

Solidaritas Dewan Dakwah: Posko Peduli Ponpes Al-Khoziny, Injury Time yang Menyentuh Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Posko Dewan Dakwah mendapat dukungan logistik dari Persaudaraan Madura, Senian malam (6/10/25) (Tagar.co/Muhammad Hidayatulloh)

Di tengah duka mendalam akibat robohnya Ponpes Al-Khoziny, Dewan Dakwah hadir mendirikan posko kemanusiaan di injury time. Meski sederhana, posko ini menjadi ruang harapan, tempat doa, dan simbol solidaritas yang menguatkan santri serta keluarga korban.

Tagar.co — Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti, sebuah posko sederhana berdiri di seberang sungai Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Posko ini bukan sekadar tenda bantuan, melainkan simbol kepedulian yang hadir di masa yang disebut injury time—fase akhir tanggap darurat.

Posko Peduli Ponpes Al-Khoziny didirikan di rumah pengurus Dewan Dakwah Jawa Timur, Dr. Hairul Warizin, di Jalan Kiai Hamdani No. 23. Kehadirannya diinisiasi Laznas Dewan Dakwah Jatim, Baitul Maal eLKISI (BME), serta Dewan Dakwah Islamiah Indinesia (DDII) Sidoarjo sebagai ikhtiar lanjutan setelah berbagai posko bantuan memadati area pondok sejak hari pertama tragedi.

Baca juga: Pelajaran Pahit dari Tragedi Robohnya Musala Ponpes Al-Khoziny

“Ini mungkin posko terakhir yang berdiri, tapi justru menjadi simbol semangat terakhir yang paling tulus. Semangat untuk terus membersamai para korban dan relawan hingga akhir masa tanggap darurat,” tutur Hairul Warizin.

Baca Juga:  Pimpinan PPIC eLKISI Bertemu Rektor Al-Azhar, Perkuat Kerja Sama Pendidikan Internasional”

Luka yang Masih Terbuka

Tragedi runtuhnya bangunan Ponpes Al-Khoziny pada Senin, 29 September 2025, masih menyisakan duka mendalam. Hingga Senin (6/10/2025), delapan hari pascakejadian, proses evakuasi masih terus berlangsung.

Data dari laman resmi Basarnas mencatat 53 korban meninggal dunia, mayoritas santri pesantren tersebut. Korban selamat maupun yang mengalami luka-luka telah dievakuasi ke berbagai rumah sakit di Sidoarjo, Surabaya, dan Mojokerto.

Seiring itu, gelombang solidaritas tak henti berdatangan: tenaga relawan, bantuan logistik, hingga dana yang disalurkan melalui BME, Laznas Dewan Dakwah Jatim, dan Dewan Dakwah Sidoarjo.

“Posko ini bukan hanya tempat distribusi bantuan, tapi juga titik doa dan solidaritas. Karena di balik setiap air mata, selalu ada harapan yang masih harus dijaga,” ungkap seorang relawan dengan suara bergetar.

Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur, Dr. K.H. Fathur Rohman, M.Ag. (ketiga dari kanan) saat mengunjungo posko Senin malam (6/10/25) (Tagar.co/Muhammad Hidayatulloh)

Pesan untuk Bijak Bersikap

Menutup masa tanggap darurat, Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur, Dr. K.H. Fathur Rohman, M.Ag., menyampaikan pesan menyejukkan agar masyarakat, terutama warganet, bijak bersikap dan tidak memperkeruh suasana.

“Musibah ini adalah takdir Allah yang harus disikapi dengan sabar dan arif. Jangan ada saling menyalahkan atau membuat pernyataan yang justru menambah beban psikologis bagi pihak pesantren maupun keluarga korban. Saat seperti ini, yang paling dibutuhkan adalah empati dan doa,” katanya.

Baca Juga:  Rambut Pirang, Guru, dan Krisis Epistemologi Keadilan

“Yang tidak kalah penting, mari hadirkan semangat untuk saling menguatkan. Bantu para santri dan wali santri agar pulih dari trauma dan bisa kembali menata kehidupan dengan tenang,” lanjut dia.

Pesan itu menutup rangkaian duka dengan hikmah: bahwa di setiap bencana selalu ada ruang bagi kemanusiaan untuk menunjukkan wajah sejatinya—wajah yang peduli, menguatkan, dan tak pernah lelah mencintai sesama. (#)

Jurnalis Muhammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni