Opini

Santri di Era Digital: Antara Kitab, Kamera, dan Cahaya Dakwah

64
×

Santri di Era Digital: Antara Kitab, Kamera, dan Cahaya Dakwah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Santri masa kini tak hanya menghafal kitab dan duduk di serambi. Mereka juga menulis naskah, membuat konten dakwah, dan menyalakan cahaya kebaikan di tengah hiruk-pikuk dunia digital.

Opini oleh Angga Adi Prasetya, M.Pd; Guru SD Muhammadiyah 1 Kota Malang dan Sekbid Dakwah PDPM Kota Malang

Tagar.co – Dulu, santri dikenal sebagai penjaga ilmu, penghafal kitab, dan pewaris pesan-pesan ulama. Mereka duduk bersila di serambi masjid, menggenggam pena, menunduk di hadapan kiai, menyalin hikmah dari lembaran kuning yang baunya menenangkan.

Zaman itu sederhana, tetapi penuh makna. Namun kini, di tengah arus deras perubahan digital, wajah santri sering dipandang sebelah mata.

Sebagian orang menilai santri tak gaul, ketinggalan zaman, dan tak paham dunia modern. Stereotip itu tumbuh dari pandangan sempit, seolah pesantren hanyalah tempat terpencil yang jauh dari teknologi.

Mereka lupa, bahwa dari pondok-pondok yang hening itulah lahir manusia-manusia tangguh yang mampu membaca bukan hanya teks, tetapi juga konteks.

Baca juga: Santri dalam Berbagai Perspektif: Penjaga Nilai, Penuntun Zaman

Baca Juga:  Ketika Guru Kehilangan Perlindungan Moral

Hari ini, medan dakwah telah berubah. Dari mimbar ke layar, dari pena ke algoritma. Kitab kuning mungkin masih terbuka di hadapan mereka, tetapi di sampingnya kini ada laptop, kamera, dan cahaya ring light.

Santri tak cukup hanya menghafal nahwu dan sharaf, tetapi juga mempelajari cara menulis naskah, menentukan hook, menyusun ide konten, hingga mengedit video dakwah. Dunia berubah, dan santri pun menyesuaikan diri tanpa kehilangan ruh keilmuannya.

Namun sayang, di mata sebagian masyarakat modern, perubahan itu belum dianggap cukup. Santri tetap dicap “kurang relevan”, “kurang produktif”, bahkan “kurang modern”. Padahal, merekalah yang hari ini berjuang di dua dunia sekaligus—menjaga nilai spiritual di tengah gempuran digital.

Penjaga Peradaban Digital

Santri kini bukan hanya penjaga pesantren, tetapi juga penjaga peradaban digital. Mereka adalah kreator konten dakwah, penulis artikel hikmah, dan penggerak narasi kebaikan di ruang maya yang penuh hiruk-pikuk. Mereka memahami algoritma, tetapi tak lupa adab. Mereka menguasai logika, namun tetap tunduk pada etika.

Baca Juga:  Mimpi yang Dikubur, Takdir yang Menumbuhkan

Santri tidak hadir untuk menyaingi dunia modern, melainkan untuk menuntunnya kembali pada keseimbangan. Mereka bukan musuh zaman, melainkan cermin yang mengingatkan manusia tentang arti kemajuan yang beradab. Di tangan mereka, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan tradisional, tetapi pusat inovasi spiritual yang hidup di era digital.

Maka biarlah orang-orang memandang rendah. Biarlah dunia mencibir dengan label kuno. Sebab santri sejati tak mencari panggung—ia menyalakan pelita. Ia tidak menuntut pengakuan, tetapi bekerja dalam senyap, menulis kebaikan yang mungkin tak viral, namun bernilai abadi.

Santri hari ini membaca kitab, tapi juga membaca zaman. Mereka menjaga tradisi tanpa menolak inovasi. Mereka memegang pena dengan tangan kanan, dan menggenggam teknologi dengan tangan kiri.

Mereka sadar, risalah kebenaran harus terus berjalan, meski jalannya kini berupa konten, algoritma, dan layar kaca.

Selamat Hari Santri Nasional 2025. Untuk mereka yang tetap menjaga cahaya di tengah gelapnya layar dunia. (#)

Penyunitng Mohammad Nurfatoni