
Pak mantri tuku tinner, benner numpak skuter
dadi santri kudu sing bener, pener, lan pinter
Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan
Tagar.co – Santri bukan sekadar sebutan bagi mereka yang mondok di pesantren, tetapi juga simbol generasi berkarakter kuat, berilmu luas, dan berjiwa religius.
Santri adalah wajah Islam yang hidup di tengah masyarakat, penegak nilai-nilai kejujuran, ketekunan, dan kesederhanaan.
Baca juga: Demi Waktu: Agar Kita Tak Termasuk yang Merugi
Al-Qur’an telah mengingatkan tentang bahaya generasi yang kehilangan arah spiritual:
فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam: 59)
Ayat ini menjadi peringatan agar santri tidak kehilangan ruh ibadah dan semangat belajar. Santri sejati adalah mereka yang bener dalam akhlak, pener dalam memahami kebenaran, dan pinter dalam menebar manfaat.
Tiga Ciri Santri Sejati
-
Bener (Lurus Akhlaknya)
Santri harus menjadi teladan dalam perilaku. Kejujuran, disiplin, dan adab menjadi pondasi utama yang lebih berharga dari sekadar kepintaran. -
Pener (Cerah Pikiran dan Hati)
Santri tidak hanya menghafal ilmu, tetapi juga memahami makna di baliknya. Ia menyalakan cahaya pengetahuan yang menerangi diri dan lingkungannya. -
Pinter (Cerdas dan Produktif)
Santri harus menguasai ilmu agama sekaligus ilmu dunia. Kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kemampuan menghadapi kesulitan (adversity quotient) menjadi bekal untuk mengabdi kepada bangsa dan umat.
Doa untuk Santri Negeri
Ya Allah ya Rabb…
Jadikanlah anak-anak keturunan kami, terutama para santri,
sebagai generasi salih dan salihah,
sehat jasmani dan rohaninya,
cerdas intelektual (IQ), emosional (EQ), spiritual (SQ),
dan tangguh menghadapi kesulitan (AQ).
Selalu menegakkan kebenaran, menunaikan salat,
serta mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Jadikan mereka insan yang berbakti, bermanfaat, dan bermakna
bagi keluarga, bangsa, dan agama. Aamiin.
Mari, wahai para sahabat surgaku, kita doakan agar para santri tetap istiqamah menjadi penjaga nilai dan peradaban. Karena dari tangan merekalah, masa depan Indonesia yang berkemajuan akan lahir.
Monggo nderekaken salat tahajud, sebab di sepertiga malam itulah santri sejati ditempa menjadi insan yang kuat iman dan luhur akhlaknya. (#)
Penyunting Mohamad Nurfatoni












