Feature

Retorika dan Tiga Teknik Dasar Berkisah untuk Menyentuh Hati Audiens

34
×

Retorika dan Tiga Teknik Dasar Berkisah untuk Menyentuh Hati Audiens

Sebarkan artikel ini
Rahmad Junaedya menyampaikan materi di hadapat pesertaICB PPMI Gresik di Aula Masjid KH Ahmad Dahlan, Ahad (5/10/2025), dengan materi praktik retorika berkisah yang meliputi suara, gerak tubuh, dan ekspresi wajah. (Tagar.co/Mochammad Nor Qomari)

Kelas intensif berkisah PPMI Gresik menekankan pentingnya tiga teknik dasar—suara, gerak tubuh, dan ekspresi wajah—serta tiga kemampuan utama agar cerita bukan sekadar hiburan, melainkan sarana dakwah yang hidup dan menyentuh hati.

Tagar.co – Berkisah ternyata tak hanya soal kata-kata. Di Aula Masjid K.H. Ahmad Dahlan Gresik, Ahad (5/10/2025), peserta Intensive Class Berkisah (ICB) PPMI belajar sejak awal bahwa fokus, suara, hingga ekspresi bisa menghidupkan makna cerita.

Kegiatan kelas intensif ini digelar Persaudaraan Pengkisah Muslim Indonesia (PPMI) Gresik dengan menghadirkan narasumber inspiratif, Rahmad Junaedya atau yang akrab disapa Kak Jun, dari Dewan Syuro PPMI Pusat.

Baca juga: Kelas Intensif Berkisah PPMI Gresik: Menghidupkan Dakwah dengan Cerita

Kak Jun membuka materi dengan mengajak peserta berlatih fokus melalui tayangan layar berbagai warna. Sebelum memasuki inti materi, ia menjelaskan latar belakang penyelenggaraan ICB.

“Intensive Class Berkisah ini berbeda dengan Sintesa (Sinau Intensive Berkisah). Sintesa membahas ruang lingkup berkisah secara umum seperti pengertian, manfaat, dan urgensi berkisah, serta pentingnya mencetak juru kisah di zaman sekarang. Sedangkan ICB lebih difokuskan dalam kelas-kelas kecil agar lebih aplikatif,” jelasnya.

Baca Juga:  Didukung Wakil Bupati, Foto Siswa Spemdalas Jadi Sarana Belajar Sejarah
Sesi mentoring dari Komang Jaya Upadana di selasar Masjid Ahmad Dahlan dalam ICB PPMI Gresik, Ahad (5/10/2025). (Tagar.co/Mochammad Nor Qomari)

Retorika Berkisah

Dalam kesempatan tersebut, Kak Jun menyampaikan materi utama tentang retorika berkisah, yang menjadi bekal penting bagi para calon juru kisah. Ia menguraikan tiga teknik dasar berkisah, yakni teknik suara, teknik gesture atau gerak tubuh, dan teknik ekspresi wajah.

Menurutnya, penguasaan ketiga teknik ini dapat membuat kisah lebih hidup, menarik perhatian, serta menyentuh hati pendengar. Dengan teknik yang tepat, peserta diharapkan mampu membangun suasana yang interaktif dan penuh emosi positif saat bercerita.

Selain teknik dasar, Kak Jun juga menjelaskan tiga kemampuan dasar juru kisah, yaitu kemampuan menghayati pesan cerita, kemampuan berimajinasi, dan kemampuan berinteraksi dengan audiens.

Ia menegaskan bahwa seorang pengkisah tidak sekadar menyampaikan cerita, tetapi juga menghadirkan makna dan nilai kehidupan di dalamnya. Melalui pembelajaran retorika berkisah, peserta dilatih untuk menjadi pengkisah yang inspiratif dan mampu menyampaikan pesan dakwah dengan sentuhan hati.

Praktek berkisah dari peserta ICB PPMI Gresik di Aula Masjid KH Ahmad Dahlan, Ahad (5/10/2025). (Tagar.co/Mochammad Nor Qomari)

Sesi ICB kemudian dilanjutkan dengan mentoring kelompok. Kak Jun mengajak peserta berhitung dari satu hingga lima untuk membentuk kelompok kecil. Setiap kelompok kemudian dibimbing oleh mentor berpengalaman dari pengurus PPMI Gresik.

Baca Juga:  Lantai 32 Tak Setinggi Doa Ibu

Kak Komang (Komang Jaya Upadana) di kelompok Abu Bakar; Kak Yanti (Tatik Respati Sigit) di kelompok Umar bin Khattab); Bunda May (Siti Maimunah) di kelompok Usman bin Affan); Kak Irul (Khorul Huda) di kelompok Khalifah; dan Kak Tatik (Tatik Respati Sigit) di kelompok Ali bin Abi Thalib.

Para peserta berlatih di berbagai lokasi, ada yang tetap di aula, sementara lainnya berpindah ke selasar masjid.

Dalam sesi mentoring, setiap kelompok membuat cerita bebas dan mempraktikkan tiga teknik dasar dan tiga kemampuan dasar yang telah dipelajari. Mereka juga berlatih ice breaking untuk menghangatkan suasana, menggunakan berbagai alat peraga dan media, hingga melakukan bedah kisah dan wisuda bersama.

“Harapan kami, melalui ICB akan lahir banyak juru kisah dan pendongeng, khususnya dai anak-anak, yang mampu membentengi serta menguatkan iman. Sesuai tujuan PPMI: membangun akhlak bangsa melalui cerita — Indonesia Berkisah, Indonesia Berkah,” tutur Kak Jun.

Rahmad Junaedya dalam ice breaking ICB PPMI Gresik di Aula Masjid KH Ahmad Dahlan, Ahad (5/10/2025). (Tagar.co/Mochammad Nor Qomari)

Kepada Tagar.co, salah satu peserta, Kak Roi alias Roikhatul Jannah dari SDIT Al Ibrah, mengungkapkan kesan positifnya. “Banyak yang saya peroleh dari ICB ini. Selain dapat teman baru, saya belajar cara berkisah mulai dari pembukaan, isi, hingga penutup, termasuk latihan berbagai suara. Bagian favorit saya adalah materi berbagai jenis suara,” ujarnya dengan semangat.

Baca Juga:  Harga Plastik Naik, Momentum Beralih ke Gaya Hidup 7R

Ketua PD PPMI Gresik, Siti Maimunah, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru dan orang tua dalam berkisah sebagai metode pembelajaran yang Qur’ani.

Ia juga menuturkan bahwa panitia telah melakukan berbagai persiapan mulai dari sosialisasi, promosi, pembuatan dan penyebaran flyer, hingga registrasi dan pelaksanaan acara.

“Kami berharap para orang tua dan pendidik memiliki kemampuan berkisah yang menyenangkan, sehingga mampu menumbuhkan generasi yang mencintai Allah dan Rasul-Nya,” ujarnya. (#)

Jurnalis Mochammad Nor Qomari Penyunting Mohammad Nurfatoni