Opini

Refleksi Ahad: Belajar Istikamah dari Ciptaan Allah

36
×

Refleksi Ahad: Belajar Istikamah dari Ciptaan Allah

Sebarkan artikel ini
Ulul Albab

Hari Ahad adalah waktu terbaik untuk jeda. Saat yang tepat untuk belajar dari alam, dari ayah dan ibu, juga dari para guru tentang arti istikamah dalam hidup.

Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Hari Ahad sering kali menjadi hari untuk jeda. Saat baik untuk merefleksi perjalanan hidup, dan bertanya: sudahkah kita menebar manfaat dalam setiap detik yang Allah pinjamkan?

Hidup ini sejatinya adalah rangkaian yang tak pernah terputus. Setiap ciptaan Allah, dari yang besar seperti matahari hingga yang kecil seperti semut, semuanya bertasbih. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang tercipta tanpa fungsi.

Alam yang Bertasbih

Ketika kita merenung lebih dalam, terlihat jelas bahwa semua ciptaan Allah tunduk dan patuh pada ketetapan-Nya. Matahari terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat, selalu tepat waktu, istikamah tanpa pernah absen.

Angin berembus, kadang lembut kadang kencang, tetapi selalu menjaga keseimbangan. Air mengalir ke tempat yang rendah, menyegarkan bumi dan makhluk yang kehausan. Pohon tumbuh, berinteraksi dengan matahari dan angin, menghasilkan oksigen yang membuat paru-paru kita tetap hidup.

Baca juga: Demi Masa: Empat Jalan Keselamatan dari Kerugian

Baca Juga:  Melatih Diri agar “Ketagihan” Membaca Al-Qur’an

Mereka semua mengajarkan istikamah. Matahari berpesan: “Laksanakan tugasmu dengan setia, tanpa keluhan, tanpa pamrih.” Angin menasihati: “Bentukmu mungkin berbeda-beda, tetapi arahmu selalu sesuai garis yang Allah tetapkan.”

Air berpesan: “Rendahkan dirimu, maka engkau akan memberi manfaat.” Dan pohon mengingatkan: “Teruslah memberi meski tak pernah diminta, karena dengan memberi engkau tetap hidup bermakna.”

Ketenteraman dalam Takdir Allah

Hidup manusia pun sejatinya mengikuti pola yang sama. Napas yang berulang, detak jantung yang setia, peredaran darah yang tak pernah berhenti, bahkan usia yang terus berjalan menuju garis akhir — semuanya sudah ditetapkan oleh Allah dengan indah.

Kesadaran ini menumbuhkan ketenangan: bahwa hidup kita sepenuhnya berada dalam genggaman Allah. Tugas kita hanya satu: menjalani perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan melakukannya dengan istikamah setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Dan bagi mereka yang istikamah, Allah menjanjikan sesuatu yang amat menenangkan:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istikamah, maka malaikat turun kepada mereka (dengan berkata): Janganlah kalian merasa takut dan janganlah bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian.” (QS. Fussilat: 30).

Baca Juga:  Membaca Langkah Prabowo ke Rusia

Bayangkan, malaikat mendampingi seorang hamba yang istikamah, berbisik lembut: “Jangan takut, jangan khawatir. Surga sudah menantimu. Kami adalah wali-walimu di dunia dan di akhirat.” Sungguh janji yang membuat hati luluh penuh harapan.

Ibu: Guru Istikamah yang Sejati

Namun, di atas semua itu, ada satu sosok yang sering kali kita lupakan sebagai guru istikamah yang paling nyata: ibu.

Ibu adalah pelajaran istikamah dalam bentuk yang paling indah. Beliau istikamah dalam melahirkan dengan derita yang tiada tara, istikamah dalam menyusui, mengusap, merawat, membimbing, dan mengajarkan kalimat thayyibah di telinga kita.

Dari beliau kita belajar mengenal Allah, mengenal manusia, mengenal alam, mengenal kehidupan, hingga mengenal akhirat.

Kebaikan seorang ibu tak mungkin bisa dibayar dengan apa pun. Harta, jabatan, dan semua prestasi tak sebanding dengan satu malam letih seorang ibu ketika menimang anaknya. Karena itu Rasulullah Saw. menegaskan tiga kali ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapat perlakuan baik: “Ibumu, ibumu, ibumu.” Baru kemudian, “ayahmu.”

Kisah yang Membuka Hati

Ada seorang anak yang suatu malam terbangun dan melihat ibunya tertidur di lantai, sementara dirinya terlelap di kasur empuk. Sang anak mendekat, menyelimuti ibunya, lalu melihat wajah itu.

Baca Juga:  Perang Iran-Israel Berdampak ke Dapur Rakyat

Ada keriput, ada garis lelah, ada bekas air mata yang mungkin jatuh saat mendoakannya. Hatinya bergetar. Ia tersadar: semua kenyamanan yang ia rasakan, dibayar dengan letih yang ibunya tanggung tanpa keluh.

Bukankah kita pun pernah mengalami hal serupa? Pernah melihat ibu rela menahan lapar agar anaknya kenyang, menahan kantuk agar anaknya tidur nyenyak, menahan sakit agar anaknya tetap tersenyum? Dan sering kali kita baru sadar setelah semuanya berlalu.

Air mata pun jatuh tanpa disadari, dada bergemuruh. Kita merasa kecil, merasa bukan siapa-siapa, bukan apa-apa tanpa pengorbanan ibu, ayah, dan para guru. Semuanya adalah nikmat Allah yang tak mungkin bisa dihitung.

Ayah pun adalah guru istikamah berikutnya. Beliau istikamah dalam tanggung jawab, bekerja keras, menjaga keluarga dengan diam-diam. Sering kali kita lupa bahwa keringat seorang ayah adalah doa yang mewujud dalam bentuk nafkah.

Lalu para guru, para kiai, dan ulama. Mereka adalah penerus jejak Rasulullah Saw. Dari merekalah kita belajar menapaki jalan akhlakul karimah, belajar bagaimana menjadi rahmat bagi semesta, rahmatanlilalamin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni