Telaah

Rahasia Husnul Khatimah

57
×

Rahasia Husnul Khatimah

Sebarkan artikel ini
Tak ada akhir yang lebih indah bagi seorang muslim selain husnul khatimah. Bagaimana cara mencapainya, tanda-tandanya, dan mengapa ia layak diperjuangkan sejak dini?
Ilustrasi AI

Tak ada akhir yang lebih indah bagi seorang muslim selain husnul khatimah. Bagaimana cara mencapainya, tanda-tandanya, dan mengapa ia layak diperjuangkan sejak dini?

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Dalam hidup ini, tidak ada sesuatu yang lebih layak untuk dikejar selain husnul khotimah—akhir kehidupan yang baik, dalam keadaan diridai oleh Allah Swt., tetap memegang iman, dan berpisah dari dunia ini sebagai seorang muslim sejati.

Sebab, hakikat dari seluruh perjalanan hidup adalah bagaimana penutupnya. Apakah kita akan wafat dalam keadaan membawa amal yang diridai, atau justru dalam keadaan berpaling dari jalan-Nya.

Baca juga: Pernikahan ibarat Rumah, Cukup Empat Tiang

Maka menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk senantiasa menjaga keistiqamahan hingga ajal menjemput. Inilah jalan menuju husnul khatimah—jalan yang penuh tuntunan dari Al-Qur’an dan sunah.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Ali ‘Imran: 102)

Ayat ini adalah panggilan agung dari Sang Pencipta kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar senantiasa menjaga ketakwaan, bukan hanya pada waktu tertentu, tetapi secara utuh dan berkesinambungan hingga saat kematian datang.

Baca Juga:  Makna Idulfitri dan Kemenangan Jiwa

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

“Ini adalah perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar ketakwaan dan terus-menerus dalam keadaan demikian, serta teguh dan konsisten di atas (ketakwaan) tersebut hingga datang kematian. Sebab, siapa yang senantiasa hidup pada suatu kondisi, pasti ia pun akan meninggal pada kondisi tersebut. Barang siapa yang ketika sehat, kuat, dan memiliki kemampuan senantiasa bertakwa kepada Rabb-nya, selalu menaati-Nya, dan terus-menerus kembali kepada-Nya, maka Allah akan memberinya kekukuhan saat kematian mendatanginya. Allah pun akan memberinya rezeki berupa husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik).” (Taisīr Al-Karīm Ar-Rahmān, hlm. 141)

Betapa banyak orang yang sepanjang hidupnya tampak biasa saja di mata manusia, tetapi karena istiqamahnya dalam beramal, tangisnya dalam istigfar, dan sembunyinya dalam amal saleh, ia wafat dalam keadaan khusyuk, misalnya dalam sujud. Sebaliknya, banyak pula yang tampak hebat dan mulia di mata manusia, namun ketika maut menjemput, lisannya membisu dari kalimat tauhid, hatinya berpaling dari Allah, dan matanya masih terpaku pada dunia yang tak bisa dibawanya.

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

Baca Juga:  Indahnya Mendoakan para Ustaz

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya (akhirnya).” (H.R. Bukhari No. 6607)

Hadis ini menjadi peringatan mendalam: apa pun yang kita bangun selama hidup, tak ada yang lebih menentukan dibandingkan bagaimana kita menutupnya. Maka para salafusshalih dahulu sangat takut akan suul khatimah (akhir kehidupan yang buruk). Mereka menangis bukan karena kehilangan dunia, melainkan karena khawatir Allah mencabut hidayah di saat terakhir. Mereka takut amalnya tidak diterima, lalu wafat dalam keadaan berpaling dari ketaatan.

Ketahuilah, jalan menuju husnul khotimah adalah perjalanan panjang yang harus dimulai sejak hari ini—dengan memperbaiki niat, memperbanyak amal saleh, menjauhi maksiat sekecil apa pun, menjaga lisan, dan terus memohon kepada Allah. Bahkan Rasulullah Saw., manusia paling dijamin keselamatannya, masih berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِي خَوَاتِمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ

“Ya Allah, jadikanlah amal terbaikku adalah amal penutupku, dan jadikanlah hari terbaikku adalah hari saat aku bertemu dengan-Mu.” (H.R. Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Kabīr)

Tanda husnul khotimah tidak selalu tampak secara lahiriah. Kadang tersembunyi dari pandangan manusia. Namun, dalam hadis-hadis sahih disebutkan tanda-tanda seperti wafat di medan jihad, wafat karena wabah, tenggelam, terbakar, sakit perut, serta meninggal saat sedang beramal saleh, misalnya saat sujud, membaca Al-Qur’an, atau wafat di hari Jumat. Namun semua itu bukan jaminan. Jaminan hanya ada pada Allah yang mengetahui isi hati dan ketulusan amal kita.

Baca Juga:  Suara Paling Lantang di Balik Kekosongan

Wahai diri, bersungguh-sungguhlah meniti jalan menuju akhir yang baik. Jangan remehkan dosa kecil, jangan tunda tobat, dan jangan biarkan dunia melalaikanmu. Karena tidak ada satu pun yang tahu kapan kematian akan datang. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (Ali ‘Imran: 185)

Akhirnya, hanya orang-orang yang ikhlas, bertakwa, istikamah, dan berserah diri sepenuhnya yang akan dijemput malaikat dalam keadaan husnul khotimah, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: ‘Jangan takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian’.” (Fusilat: 30)

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami husnul khotimah. Jangan Engkau wafatkan kami kecuali dalam keadaan Islam dan iman. Jangan Engkau cabut hidayah saat ajal menjemput kami. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni