Telaah

Pujian dan Celaan Manusia: Refleksi dari Kata Bijak Malik bin Dinar

40
×

Pujian dan Celaan Manusia: Refleksi dari Kata Bijak Malik bin Dinar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Internet

Terjebak di antara pujian dan celaan, seorang mukmin mencari jalan keikhlasan. Temukan pencerahan dari kata bijak Malik bin Dinar, dengan dalil dari Al-Qur’an dan Hadis.

Pujian dan Celaan Manusia: Refleksi dari Kata Bijak Malik bin Dinar; Telaah oleh Dwi Taufan Hidayat, Pembina Takmir Musala Al-Ikhlas Desa Bergas Kidul Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Kata bijak dari Malik bin Dinar ini memberikan nasihat yang mendalam tentang sikap seorang mukmin terhadap pujian dan celaan manusia. Beliau mengingatkan bahwa terlalu bergantung pada pujian atau celaan dapat merusak ketenangan hati dan keikhlasan seseorang.

Berikut pencerahan dengan dalil dari Al-Qur’an dan Hadis:

1. Dalil Al-Qur’an tentang Ikhlas dan Sikap terhadap Celaan atau Pujian

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 11:

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.’”

Ayat ini mengajarkan keikhlasan dalam beribadah dan beramal. Seorang mukmin tidak seharusnya melakukan sesuatu karena ingin dipuji atau takut dicela, tetapi semata-mata karena Allah.

Baca Juga:  Drama Semalam di IGD

Baca juga: Kursi Kekuasaan: Ujian Dunia yang Tak Pernah Usai

2. Hadis tentang Larangan Berlebihan dalam Memuji

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ

“Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji berlebihan, maka lemparkan tanah ke wajah mereka.” (H.R. Muslim, No. 3002)

Hadis ini mengingatkan agar kita tidak berlebihan dalam memuji seseorang, karena hal ini bisa membahayakan hati orang yang dipuji, membuatnya merasa sombong, atau lalai dari keikhlasan.

3. Hadis tentang Tidak Terpengaruh oleh Celaan Manusia

Rasulullah ﷺ bersabda dalam H.R. Tirmizi:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ النَّاسَ

“Barang siapa mencari rida Allah meskipun manusia marah, maka Allah akan mencukupi urusannya dan menjaga dari gangguan manusia.”

Hadis ini menegaskan bahwa seorang mukmin hendaknya fokus kepada keridaan Allah, bukan keridaan manusia. Celaan atau pujian dari manusia tidak boleh menggoyahkan niat seseorang dalam melakukan kebaikan.

Kesimpulan

Malik bin Dinar mengajarkan kita untuk tidak terpengaruh oleh pujian atau celaan manusia, karena orang yang suka berlebihan dalam memuji bisa menjadi orang yang berlebihan dalam mencela.

Baca Juga:  Doa yang Berangkat Lebih Dulu

Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis di atas mengingatkan kita tentang keutamaan keikhlasan, menjaga hati, dan tidak bergantung pada penilaian manusia. Fokus kita seharusnya hanya pada rida Allah, karena hanya penilaian Allah yang benar-benar berarti. (#)

Penyuntng Mohamamd Nurfatoni