Feature

Pesantren Kilat MI Mutwo, Tiga Hari Menempa Karakter Siswa

37
×

Pesantren Kilat MI Mutwo, Tiga Hari Menempa Karakter Siswa

Sebarkan artikel ini
Moh. Ayub, saat memberikan pengarahan dalam pembuatan Pesantren Kilat di Bulan Ramadan (Tagar.co/Nurkhan)

Pesantren Kilat di Bulan Ramadan MI Mutwo bukan sekadar menginap, tapi perjalanan spiritual penuh makna. Dari tadarus hingga berbagi takjil, setiap momen mengajarkan kedisiplinan, kebersamaan, dan ketulusan dalam beribadah.

Tagar.co – Rabu pagi (19/3/25), hawa sejuk menyelimuti halaman MI Muhammadiyah 2 (MI Mutwo) Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur. Cahaya matahari yang masih malu-malu menyusup di antara pepohonan, menemani wajah-wajah ceria para siswa yang bersiap menjalani pengalaman tak terlupakan di acara Pesantren Kilat di Bulan Ramadan.

Tas berisi perlengkapan menginap mereka tergantung di bahu, sementara senyum sumringah tak bisa disembunyikan. Selama tiga hari ke depan, mereka akan merasakan kebersamaan yang lebih erat, memperdalam nilai-nilai keislaman, serta menempa diri dalam suasana Ramadan yang syahdu.

Sapaan Hangat dan Pesan Kebersamaan

Di aula madrasah, suasana semakin hangat. Moh Ayub, Koordinator Kegiatan Ramadan sekaligus pembina pesantren kilat, berdiri tegap di hadapan para peserta. Dengan suara yang ramah, namun tetap tegas, ia membuka kegiatan dengan sebuah pesan yang menggugah hati.

Baca juga: Ramadan Penuh Berkah di MI Mutwo: Dari Tadarus hingga Santunan Yatim

“Anak-anak sekalian, pondok Ramadan ini bukan sekadar tempat menginap, tetapi juga kesempatan untuk menata hati, membangun kedisiplinan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Manfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya dengan sorot mata penuh semangat.

Baca Juga:  Fokal Mutwo: Energi Baru Alumni MI Mutwo

Anak-anak menyimak dengan serius. Ada yang sesekali mengangguk, ada yang saling berbisik mengingatkan teman di sebelahnya untuk tidak melanggar aturan. Mereka tahu, tiga hari ke depan bukan sekadar waktu untuk tidur bersama di madrasah, tapi lebih dari itu, sebuah perjalanan spiritual yang akan mereka kenang.

Kehangatan di Balik setiap Kegiatan

Setelah pengarahan, suasana kian hidup. Para peserta bergerak menuju ruang kelas yang telah disulap menjadi asrama sementara. Tawa kecil terdengar di beberapa sudut ketika mereka saling membantu menata tempat tidur dan mengatur perlengkapan. Ada yang sibuk merapikan sajadah, ada pula yang sesekali menoleh ke luar jendela, menikmati pagi yang menjanjikan banyak kisah.

Ketika tadarus Al-Qur’an dimulai, suasana berubah menjadi khidmat. Suara lantunan ayat-ayat suci memenuhi ruangan, menciptakan harmoni yang menenangkan. Beberapa siswa yang sudah lancar membaca tampak membimbing teman-temannya yang masih belajar. Sesekali, seorang guru membenarkan bacaan dengan lembut, menambahkan kehangatan dalam kebersamaan itu.

Menjelang pukul 08.00 WIB, sesi kajian Islam dimulai. Ustaz Moh. Ayub hadir dengan kisah-kisah inspiratif yang mengalir begitu alami. Kali ini, ia bercerita tentang “Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari.”

Baca Juga:  Merajut Harmoni Lintas Generasi: Spirit Idulfitri dalam Manajemen Madrasah

Kisah tentang ketulusan, kesabaran, dan kejujuran Rasulullah Saw menggugah hati anak-anak. Beberapa dari mereka bahkan tampak termenung, seolah membayangkan bagaimana mereka bisa menerapkan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah sesi kajian, anak-anak beristirahat sejenak sebelum memulai latihan ibadah praktis. Dengan penuh semangat, mereka belajar tata cara wudu yang benar dan salat yang lebih khusyuk. Beberapa anak tampak antusias, memperbaiki gerakan yang selama ini mungkin mereka anggap biasa saja.

Dari Kebersihan hingga Berbagi Takjil

Menjelang Zuhur, mereka melaksanakan salat Duha bersama. Setelah itu, mereka mengikuti kegiatan hafalan doa-doa harian. Beberapa siswa terlihat antusias karena baru kali pertama menghafal doa keluar rumah dan doa berbuka puasa.

Saat waktu Zuhur tiba, mereka kembali ke musala untuk salat Zuhur berjemaah. Setelah itu, makan siang disiapkan untuk mereka, meskipun hanya sekadar melihat, karena mereka tengah berpuasa.

Menjelang sore, para peserta diajak membersihkan lingkungan madrasah. Dengan sapu dan kain lap di tangan, mereka membersihkan sudut-sudut kelas, halaman, dan musala. Keringat mengalir, tetapi senyum tetap merekah. Di antara lelahnya, ada kebanggaan tersendiri dalam menjaga kebersihan tempat mereka belajar dan beribadah.

Baca Juga:  Pesantren Kilat dan Darul Arqam Memberi Pengalaman Istimewa di Malam Ramadan

Pukul 16.00 WIB, mereka kembali berkumpul di aula untuk sesi kajian sore bersama Ustaz Moh. Zamroni, yang kali ini mereka akan membahas “Keistimewaan Malam Lailatulaadar.” Anak-anak tampak antusias mengetahui jadwal tersebut.

Saat waktu berbuka semakin dekat, kegiatan yang paling ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan penuh semangat, anak-anak membawa paket takjil dan berdiri di pinggir jalan, membagikannya kepada masyarakat sekitar.

Senyum bahagia terukir di wajah mereka ketika tangan-tangan penerima takjil mengucapkan terima kasih. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata—sebuah perasaan yang hanya bisa dirasakan saat berbagi.

Di Pondok Ramadan ini, setiap momen terasa begitu berarti. Tawa, doa, kebersamaan, dan pengalaman berharga terjalin dalam satu cerita besar—cerita tentang kedekatan dengan Allah, tentang kebersamaan yang hangat, dan tentang perjalanan spiritual yang akan terus mereka kenang. (#)

Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni