Feature

Perjuangan Santri Elkisi di Munaqasah Tahfiz dan Hadis yang Menentukan

15
×

Perjuangan Santri Elkisi di Munaqasah Tahfiz dan Hadis yang Menentukan

Sebarkan artikel ini
12 santri kelas 12 PPIC Elkisi bersama dua penguji Munaqasah Tahfiz Al-Qur’an dan Hadis: K.H. Mujib Abdurrahman dan Ustaz Muhammad Hidayatulloh (kanan), Senin (10/3/25) (Tagar.co/Istimewa)

Santri kelas 12 Pondok Pesantren Islamic Center Elkisi menjalani Munaqasah Tahfiz Al-Qur’an dan Hadis sebagai syarat kelulusan. Hafalan, pemahaman, dan mental diuji, didukung oleh guru dan orang tua dalam momen penuh haru.

Tagar.co – Cahaya pagi menyapu halaman Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur—menandai hari ketiga pelaksanaan Munaqasah Tahfiz Al-Qur’an dan Hadis bagi santri kelas 12.

Wajah-wajah penuh harapan dan keteguhan tampak di antara para santri yang bersiap menjalani ujian penting ini. Bukan sekadar ujian akademik, munaqasah ini menjadi ajang pembuktian kesungguhan mereka dalam menghafal dan memahami hadis, serta kitab-kitab utama dalam Islam.

Baca juga: Santri Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center Elkisi Daurah di Madinah

Sejak 8 Maret 2025, suasana di pesantren berubah menjadi lebih syahdu. Para santri mengulang hafalan mereka di berabagai sudut pesantren, sementara penguji bersiap menguji ketepatan dan pemahaman mereka. Ujian ini akan berlangsung hingga 13 Maret 2025, dilakukan secara bertahap agar setiap peserta mendapatkan kesempatan terbaik untuk menampilkan hafalan dan pemahamannya.

Baca Juga:  Jangan Dekati Batas Allah: Epistemologi Takwa dalam Penutup Ayat Puasa
Penguji hari pertama Sabtu (8/3/25) dalam Munaqasah Tahfiz Al-Qur’an dan Hadis. Dari kiri: Dr. M. Arfan Mu’ammar; Dr. Zainuddin MZ; dan Syekh Farid Musthofa Al-Mishri (Tagar.co/Istimewa).

Pada hari pertama Sabtu (18/3/25), ujian dipimpin oleh Dr. M. Arfan Mu’ammar; Dr. Zainuddin MZ; dan Syekh Farid Musthofa Al-Mishri. Sementara di hari kedua Ahad (9/3/24) Ustaz Hizbul Umam dan Ustazah Rahmatin menjadi pengujinya.

Kini, di hari ketiga, Senin (10/3/25), giliran K.H. Mujib Abdurrahman (Pembina Yayasan Elkisi), dan Ustaz Muhammad Hidayatulloh (Kepala Pesantren Kader Ulama PPIC Elkisi), yang mengambil peran sebagai penguji.

Ada sembilan santri putri menghadapi ujian yang terbagi dalam dua kategori hafalan. Empat di antaranya menghafal 200–300 hadis dari Kitab Umdatul Ahkam: Raden Roro Najwa Riani, Salsabila Majid, Gita Nur Faizah, dan Nuris Fitriatis Shalihah.

Sementara itu, lima santri lainnya, yaitu Ummu Hasna, Alya Aziza Mumtaza Akbar, Attila Rahmah Meirani, Siti Alya Nashwa Zahira, dan Siti Adiningsih, menghafal Kitab Mutun Thalibil Ilmi jilid 1 dan 2.

Ujian ini terdiri dari dua tahapan utama. Pertama, para santri harus melafalkan hadis secara berurutan sesuai hafalan mereka. Kemudian, penguji akan menyebutkan nomor hadis atau bab dalam kitab, dan santri harus melanjutkannya tanpa melihat teks.

Baca Juga:  Krisis Literasi di Balik Ledakan Teknologi

Selain hafalan, pemahaman mereka terhadap makna hadis, hukum yang terkandung, serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi aspek penilaian utama.

K.H. Mujib Abdurrahman dan Ustaz Muhammad Hidayatulloh (kanan) sedanag menguji salah satau peserta Munaqasah Tahfiz Al-Qur’an dan Hadis. (Tagar.co/Istimewa).

Yang membuat munaqasah kali ini semakin istimewa adalah kehadiran para wali santri. Mereka tidak hanya menjadi saksi perjuangan anak-anak mereka, tetapi juga turut serta dalam menguji hafalan putri mereka. Suasana haru pun tak terhindarkan, menyaksikan bagaimana perjalanan panjang para santri akhirnya mencapai tahap penting ini.

Setelah melewati munaqasah, perjalanan akademik santri kelas 12 belum berakhir. Mereka masih harus menghadapi ujian bedah buku, di mana setiap santri akan mempertanggungjawabkan buku hasil karya mereka sendiri. Buku tersebut menjadi refleksi dari ilmu yang telah mereka pelajari selama di Elkisi, sekaligus bentuk kontribusi mereka dalam dakwah dan keilmuan Islam.

Lebih dari sekadar ujian, munaqasah ini adalah ujian mental, kesungguhan, dan kecintaan terhadap ilmu agama. Dengan doa dan dukungan dari para guru serta orang tua, para santri diharapkan dapat menjadi generasi Qur’ani yang siap berdakwah dan mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat. (#)

Baca Juga:  Iqra dan Arsitektur Keadilan: Meneguhkan Arah Negara dari Epistemologi Qur’ani

Jurnalis Muhammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni