Opini

Krisis Literasi di Balik Ledakan Teknologi

×

Krisis Literasi di Balik Ledakan Teknologi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di tengah banjir informasi, generasi digital justru kehilangan kedalaman berpikir. Buku ditinggalkan, kuota diagungkan, dan AI dimitoskan sebagai pengganti akal manusia.

Oleh Cak Muhid; Penulis Buku Seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Ironi terbesar generasi hari ini bukanlah keterbatasan teknologi, melainkan kemerosotan kualitas berpikir. Kita hidup di tengah limpahan informasi, tetapi miskin kedalaman.

Buku—yang sejak lama menjadi jendela ilmu dan ruang pembentukan nalar—perlahan tersingkir dari kehidupan generasi digital.

Baca juga: Iqra dan Arsitektur Keadilan: Meneguhkan Arah Negara dari Epistemologi Qur’ani

Pada saat yang sama, layar gawai menjelma pusat atensi, dan kuota internet diperlakukan sebagai kebutuhan hidup yang tak boleh terputus.

Zaman bergerak semakin cepat, tetapi akal justru kehilangan daya tahan.

Budaya literasi melemah bukan karena manusia tak mampu membaca, melainkan karena enggan menjalani proses berpikir yang serius.

Membaca buku menuntut fokus panjang, kesabaran, dan kerendahan hati intelektual. Ia mengajak pembaca berlama-lama dalam satu gagasan, menyusuri argumen, dan menunda kepuasan.

Buku tidak menawarkan sensasi instan. Justru karena itulah ia ditinggalkan. Sebaliknya, scrolling memberi kepuasan cepat—ringan, adiktif, dan nyaris tanpa beban berpikir. Akibatnya, generasi tumbuh cepat secara informasi, tetapi rapuh secara nalar.

Baca Juga:  Mengapa Puasa Disebut Milik Allah?

Dampaknya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang kaya opini, tetapi miskin argumen. Banyak yang lantang bersuara, tetapi dangkal dalam analisis. Sedikit tekanan memicu emosi, sedikit perbedaan melahirkan kegaduhan.

Jika buku terus ditinggalkan, jangan heran bila lahir generasi instan: cepat tahu, cepat lupa, cepat tersinggung, dan mudah digiring algoritma.

Diskusi berubah menjadi adu reaksi, bukan pertukaran gagasan. Ini bukan semata persoalan etika sosial, melainkan buah dari proses berpikir yang tidak pernah ditempa secara serius. Akal dibiasakan bereaksi, bukan merefleksi.

Ironi itu makin telanjang ketika berbicara tentang prioritas. Untuk kuota internet, dana khusus disiapkan rutin setiap bulan—tanpa perdebatan, tanpa penundaan. Kuota dianggap kebutuhan primer.

Namun buku sering diposisikan sebagai pengeluaran sekunder: mahal, nanti saja, tidak mendesak. Padahal satu buku bisa membentuk cara berpikir bertahun-tahun, bahkan seumur hidup, sementara kuota sering habis dalam hitungan hari tanpa peningkatan kualitas diri yang berarti.

Kini ironi itu bertambah satu lapis: mitos bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan buku. AI dipersepsikan sebagai solusi final—cepat, ringkas, efisien, dan serba tahu. Di sinilah letak kesalahpahaman terbesar.

Baca Juga:  Makna Takwa yang Dijanjikan Puasa Ramadan

AI memang mampu menyajikan jawaban, tetapi tidak mampu menempah nalar manusia. AI bekerja pada hasil, sementara buku bekerja pada proses. Dan sejarah peradaban selalu dibangun oleh proses berpikir yang panjang, bukan oleh kecepatan memperoleh hasil.

Buku memaksa manusia berhenti dan berpikir. Ada jeda, ada kebingungan, ada pergulatan batin dan intelektual. Justru di situlah akal matang. Buku tidak memanjakan, tetapi mendewasakan. AI dapat membantu berpikir, tetapi buku mengajarkan bagaimana cara berpikir. AI mempercepat pencarian, tetapi buku melatih ketahanan intelektual—kemampuan bertahan dalam kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian.

Masalah generasi hari ini sejatinya bukan pada teknologi, internet, atau AI. Masalahnya muncul ketika semua itu tidak ditopang oleh budaya literasi yang kuat. Tanpa buku, internet hanya mempercepat kebisingan. Tanpa membaca, AI hanya melahirkan ilusi kecerdasan. Manusia menjadi sangat terhubung, tetapi miskin orientasi; sangat cepat merespons, tetapi lemah dalam memahami.

Ironi budaya literasi, kuota internet, dan mitos AI pada akhirnya menjadi cermin kualitas generasi yang sedang kita bentuk. Jika buku terus ditinggalkan, jangan heran bila lahir generasi instan: cepat tahu, cepat lupa, cepat tersinggung, dan mudah digiring algoritma.

Baca Juga:  149 Juta Paragraf Perpustakaan Kitab Smart Digital yang Mengubah Cara AI Membaca Islam

Sebaliknya, jika membaca kembali ditempatkan sebagai kebutuhan—bukan sekadar hobi—maka generasi digital dapat tumbuh cakap teknologi sekaligus matang secara intelektual.

Karena buku tidak tergantikan, bahkan oleh AI. AI adalah alat. Internet adalah sarana. Tetapi buku adalah fondasi akal.

Dan peradaban tidak pernah dibangun oleh alat yang paling canggih, melainkan oleh manusia yang paling dalam cara berpikirnya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni