Feature

Menumbuhkan Jiwa Guru: Pembinaan Musyrifah dan Mudabirah Pesma Al-Manar

44
×

Menumbuhkan Jiwa Guru: Pembinaan Musyrifah dan Mudabirah Pesma Al-Manar

Sebarkan artikel ini
Kepala Divisi Pesma Al-Manar, Ustaz Dr. Nurul Abidin, Lc., M.Ed

Menjadi musyrifah dan mudabirah bukan sekadar mendampingi, tapi membentuk jiwa guru sejati. Pesma Al Manar Ponorogo tekun membina karakter pendidik berakhlak qurani dan berjiwa tulus.

Tagar.co — Dalam suasana penuh kekhusyukan, Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al-Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Jawa Timir, menggelar pembinaan pekanan bagi musyrifah dan mudabirah, Senin (28/4/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen pesantren untuk membangun karakter pendidik yang kokoh dan berjiwa qurani.

Pembinaan diawali dengan murajaah bersama, sebuah tradisi yang mengakar kuat di Pesma Al-Manar untuk mendukung program tahfiz Juz 30 yang menjadi identitas unggulan. Tak sekadar mengulang hafalan, murajaah ini juga menjadi momen memurnikan niat dalam menuntut dan mengajarkan ilmu.

Hadir secara langsung, Kepala Divisi Pesma Al-Manar, Ustaz Dr. Nurul Abidin, Lc., M.Ed., yang menyampaikan pembinaan bertajuk “Membangun Jiwa Guru.” Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa menjadi musyrifah dan mudabirah bukan hanya soal mendampingi, melainkan membentuk diri sebagai sosok guru sejati di hadapan para santri.

“Dari diri kita harus tumbuh keyakinan bahwa kita adalah guru. Santri harus melihat dan merasakan bimbingan itu hadir dari kita, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat sikap dan keteladanan,” ujarnya.

Baca Juga:  Mendongeng Kisah Nabi, Inovasi MIC Ke-6 MTs Muhammadiyah 2 Jenangan Ponorogo

Ia menguraikan tentang kemuliaan profesi guru sebagaimana diajarkan para ulama, merujuk pada karya klasik Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Imam Nawawi. Menurutnya, mengajar adalah ibadah yang paling mulia, karena di sanalah agama ditegakkan dan ilmu diwariskan lintas generasi.

Suasana pembinaan bagi musyrifah dan mudabirah, Senin (28/4/2025).

Dalam pembinaan itu, Ustaz Nurul juga menggarisbawahi pentingnya menjaga adab seorang guru: menjaga keikhlasan, memperbaiki niat, menanamkan kesabaran, serta mendidik dengan penuh kasih sayang dan ketelatenan. Ia menekankan bahwa hubungan guru dan murid harus dibangun di atas fondasi cinta, penghargaan, dan keteladanan.

“Setiap capaian kecil santri harus dihargai. Tugas kita adalah menuntun mereka dengan lembut, membangun pemahaman sedikit demi sedikit, dan mendorong mereka untuk sibuk dalam amal-amal positif,” tuturnya.

Setelah sesi pembinaan, kegiatan dilanjutkan dengan briefing persiapan menyambut kedatangan santri baru Gelombang 7 Putri. Suasana optimisme dan semangat mengalir di antara para musyrifah dan mudabirah, menyambut amanah baru dengan kesadaran akan pentingnya peran mereka dalam membangun generasi Qurani.

Dengan tekad yang terus menyala, Pesma Al Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo berkomitmen membentuk insan muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam akhlak dan jiwa kepemimpinan. (#)

Baca Juga:  143 Calon Mahasantri Ikuti Tahapan Screening Pesma Al-Manar Umpo

Jurnalis Rihan Dwidarmawati Penyunting Mohammad Nurfatoni