
Kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi menjadi ruang refleksi bagi jemaah haji asal Asia Tenggara. Di baliknya, ada Ustaz Ariful Bahri, ulama Indonesia lulusan Universitas Islam Madinah.
Oleh Muh. Isa Ansori, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pacitan, Jemaah Haji 2025 Al-Mabrur
Tagar.co – Suasana di Masjid Nabawi malam itu terasa berbeda. Usai salat magrib berjemaah, lantunan ceramah terdengar dalam bahasa Indonesia. Di tengah gemuruh suara dari berbagai penjuru dunia, suara yang akrab di telinga itu mengundang haru sekaligus bangga: ada kajian berbahasa ibu di salah satu masjid paling suci umat Islam.
Adalah Dr. Ariful Bahri, Lc., M.A., ulama asal Air Tiris, Kampar, Provinsi Riau, yang menyampaikan kajian tersebut. Sejak 2019, ia dipercaya otoritas Masjid Nabawi sebagai penceramah tetap. Sosok bersahaja ini menempuh pendidikan sarjana hingga doktoral di Universitas Islam Madinah (UIM), dan kini menjadi salah satu dari sedikit ulama non-Arab yang mendapat kehormatan itu.
Seperti yang dulu dilakukan Syekh Mahfudz At-Turmusi dari Tremas, Pacitan—ulama besar yang mengabdi di Masjidilharam—kehadiran Ustaz Ariful Bahri di Masjid Nabawi mengingatkan kembali akan kontribusi ulama Nusantara di pusat peradaban Islam.
Informasi tentang kajian ini awalnya disampaikan oleh Setyadi, seorang jemaah haji asal Gorontalo, kepada penulis. Ia rutin mengikuti kajian di area dekat Pintu 19 Masjid Nabawi, lokasi yang berdekatan dengan hotel tempatnya menginap. Sejak awal kedatangan di Madinah, ia tak pernah absen menghadiri kajian tersebut.

Materi yang disampaikan Ustaz Ariful malam itu cukup menarik: evaluasi pelaksanaan ibadah haji. Ia mengulas berbagai praktik manasik dari perspektif kesempurnaan ibadah sebagaimana yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad Saw.
“Misalnya saat mabit di Muzdalifah, idealnya baru berangkat ke Mina setelah Subuh. Tapi kenyataannya, karena berbagai alasan, kita bahkan tidak berhenti di sana (murur), atau sudah pindah sejak tengah malam,” ujar Ustaz Ariful.
Ia juga menyoroti praktik melontar jumrah. Nabi memberi contoh melakukannya pada waktu Zawal (matahari tergelincir). Namun, jemaah Indonesia umumnya menghindari waktu tersebut karena alasan keselamatan.
“Petugas haji menyarankan agar tidak mengambil waktu Zawal, karena digunakan oleh jemaah dari Arab, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika yang postur tubuhnya tinggi besar,” jelasnya. “Bangsa-bangsa Asia yang cenderung mungil bisa terjepit dan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.”
Menurutnya, banyak jemaah memang tidak mampu melaksanakan manasik pada waktu utama, karena kondisi yang tidak memungkinkan. Tetapi, ia menegaskan, kesempurnaan ibadah tetap merujuk pada praktik Nabi.
“Hindari perdebatan. Untuk kesempurnaan ibadah haji, mari kita kembali melihat apa yang dicontohkan Rasulullah Saw.,” tegasnya. “Kalau merasa banyak kekurangan saat berhaji, jangan ragu memohon ampun kepada Allah Swt.”
Ia lalu mengutip tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah sebagai peneguhan spiritual. Suasana kajian terasa akrab ketika ia menambahkan guyonan: “Menyesal karena merasa banyak kekurangan ya? Siapa suruh ke Makkah dulu. Mestinya ke Madinah dulu untuk dengar ceramah saya,” ujarnya disambut tawa jemaah.
Kajian ini rutin digelar setiap malam, selepas salat Magrib hingga menjelang Isya. Ratusan jemaah dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya memadati area sekitar Pintu 19 untuk menyimak penjelasan yang lugas dan menenangkan hati itu.
Di tengah kerinduan akan Tanah Air dan tantangan pelaksanaan ibadah haji, kehadiran sosok Ustaz Ariful Bahri menjadi oase spiritual. Sebuah kebanggaan tersendiri, ketika ulama Indonesia mendapat tempat istimewa di jantung dunia Islam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












