
Lima tugas muslim terhadap agamanya kalau dijalankan akan menjadi pribadi yang kaffah menyerap nilai dan perilaku Islam, bukan sekadar identitas.
Tagar.co – Lima tugas muslim jadi bahasan khotbah Jumat di Masjid At-Taqwa, Tempeh Lor, Lumajang, Jumat (1/8/2025).
Hadir sebagai khotib Ustaz Suharyo AP, S.H. “Rasulullah mengingatkan kita: takutlah kepada Allah, dan takutlah berbuat maksiat. Maka sebagai manusia, kita perlu menajamkan rasa secara diam-diam,” kata Ustaz Haryo mengawali khotbahnya.
Ia mengatakan, rasa takut bukan berarti lari dari kehidupan, tetapi justru mendekat kepada Allah. Mendekat dalam diam, dalam taubat, dalam penyesalan yang jujur saat tergelincir pada pelanggaran.
“Kita harus bersyukur, Allah menakdirkan kita sebagai pemeluk Islam. Dengan Islam, dunia ini tidak kacau. Dunia menjadi tertata, karena agama ini datang dari Zat Yang Maha Menata,” tutur Penasihat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang ini.
Ustaz Haryo kemudian mengingatkan memeluk Islam bukan sekadar identitas, tetapi juga tugas.
Setidaknya ada lima tugas muslim. Lalu dia mengutip surah Ali Imran: 19.
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.
Maka lima tugas muslim terhadap agamanya, pertama, wajib mengilmui dan mendalami agama secara kaffah (menyeluruh).
“Islam itu bukan sekadar hafalan. Islam harus dipelajari terus-menerus, sampai benar-benar hidup dalam diri kita. Kalau hanya tahu permukaannya, bagaimana kita bisa mengamalkannya? Dan kalau kita sudah menjaga salat, maka salat itu harus mewarnai kehidupan. Akhlak kita, sikap kita, semua harus ikut berubah,” ujarnya.
Kedua, tugas kita adalah menghayati ajaran agama ini secara serius. Mengapa Allah mensyariatkan ibadah tertentu? Karena ada makna dalam setiap gerakannya. Kalau tidak dihayati, ibadah hanya akan menjadi rutinitas kering, tidak membekas di hati.
“Mari kita hayati salat kita. Saat bersedekap, kita dilatih untuk bersedekap saat nanti dipanggil Allah menuju peristirahatan terakhir. Saat rukuk, kita menunduk melihat tanah diingatkan bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah,” tuturnya.
Ketika sujud, wajah kita yang terhormat ini kita letakkan di tanah yang kita injak sendiri. Dalam sujud itu, kita merendah dan meninggikan Allah, menyadari bahwa kita sangat hina dan hanya Allah yang Maha Tinggi.
Ketiga, melaksanakan ajaran Islam dengan baik. Islam bukan sekadar teori, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata.
“Rasul Muhammad saja, yang sudah disebut sebagai rasul, tetap melaksanakan salat. Itu tandanya bahwa Islam bukan konsep di awang-awang,” ujarnya.
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat. (HR. Bukhari)
Rasul memberi contoh nyata. Bahkan di mana pun kita berada, tetap menghadap kiblat. Lalu ia mengingatkan firman Allah:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (Surah Al-Baqarah: 148)
Keempat, mendakwahkan ajaran Islam kepada orang lain. Bahasa anak muda sekarang: ngeshare. Tapi bukan sekadar membagikan status atau video, melainkan menyampaikan nilai-nilai Islam kepada diri sendiri dulu, baru kepada orang lain.
“Berdakwahlah kepada dirimu sendiri, baru kepada orang yang berada di bawah kekuasaanmu,” pesan Ustaz Haryo mengutip hadis.
Ia mengakui, dakwah hari ini tak sama seperti zaman Nabi. Dulu ada tekanan, kini tantangannya justru datang dari kebebasan dan kelalaian.
Karena itu, dakwah harus terus dilakukan. “Agar Islam ini tidak tertutup oleh ketidaktahuan umat Islam sendiri. Semakin luas, semakin asyik, dan semakin indah.”
Kelima, membela agama ketika ada tangan-tangan jahil yang mencoba merusak kesuciannya. Tapi membela Islam bukan dengan emosi, melainkan dengan argumentasi yang kuat dan rasional.
“Berikan alasan yang menyentuh. Karena pada dasarnya, orang akan menerima kebenaran kecuali jika ia dikendalikan nafsu atau status sosial. Tapi kalau mau merenung, insya Allah akan luluh dan menerima,” ujarnya.
Khotbah ditutup dengan pesan sederhana: jangan lengah. Jangan merasa cukup hanya karena berstatus muslim. Islam adalah perjuangan seumur hidup untuk menjaga hati, menajamkan rasa, dan terus berjalan menuju Allah. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












