Feature

Legenda Sumur Songo: Saat Siswa SDMM Gresik Dibuat Takjub

41
×

Legenda Sumur Songo: Saat Siswa SDMM Gresik Dibuat Takjub

Sebarkan artikel ini
Yusnita Larashati memaparkan cerita rakyat “Sumur Songo” di hadapan Siswa Kelas 2 SD Muhammadiyah Manyar, Senin, 10/2/25. (Tagar.co/Prima Ari Rosyida)

Suasana riuh mendadak senyap saat kisah Sumur Songo diceritakan. Siswa SDMM Gresik dibuat melongo, tak percaya dengan legenda yang tersimpan dalam budaya dan sejarah daerah mereka.

Tagar.co – Riuh rendah suara anak-anak kelas 2 SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik memenuhi aula sekolah, Senin (10/2/25). Namun, tiba-tiba, suasana berubah hening. Mata-mata kecil mereka menatap takjub, mulut setengah terbuka, seolah tak percaya dengan kisah yang baru saja mereka dengar.

Itulah momen ketika Yusnita Larashati, S.S., seorang anggota BPH Dewan Kebudayaan Gresik (DKG), menceritakan kisah Sumur Songo, sebuah legenda yang sudah berusia ratusan tahun.

Baca juga: Saat Ibu-Ibu Ikwam SDMM Diajak Menulis Berita dengan Menggunakan Pancaindra

Kegiatan ini merupakan bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), yang pada tahun ini mengusung tema “Jenang Ayas: Jejak Keanekaragaman Budaya Gresik.”

Ketua jenjang kelas 2, Prima Ari Rosyida, S.Pd., menjelaskan bahwa P5 kali ini, siswa tidak diajak outing keluar sekolah, tetapi sebaliknya, sekolah menghadirkan guru tamu sebagai narasumber.

“Kami ingin anak-anak lebih mengenal budaya lokal mereka sendiri. Jadi, kami menghadirkan Bu Yusnita, yang membuka P5 ini dengan pengenalan sejarah dan budaya Gresik,” tutur Prima.

Baca Juga:  Inovasi Pendidikan Indonesia di Panggung Dunia: "Teachers’ Lab SDMM" Dipresentasikan dalam Simposium di Jepang

Menelusuri Jejak Budaya Gresik

Sejak pagi, siswa kelas 2 SDMM diajak menyelami peninggalan sejarah dan budaya Gresik. Yusnita Larashati yang biasa disapa Laras memulai sesi dengan memperkenalkan beberapa warisan budaya berwujud benda, seperti Gardu Suling di kawasan Bandar Grissee, Masjid Jamik Gresik, Alun-alun Gresik yang pernah dipugar saat kepemimpinan H. Sambari Halim Radianto, hingga Gapura Naga Giri yang menjadi gerbang makam Sunan Giri.

Tak hanya itu, siswa juga dikenalkan dengan kuliner khas Gresik, seperti pudak, jubung, krawu, bonggolan, dan bongko kopyor. Beberapa siswa pun antusias berbagi pengalaman mereka.

Ada pula acara tradisi tahunan, yang telah terselenggara lebih dari 50 tahun, bahkan di antaranya sudah ada sejak zaman Sunan Giri. Yaitu Malam Aelawe (malam 25 bulan Ramadan), Pasar Bandeng (malam 27-28 Ramadan), dan Sanggring dari Desa Gumeno (malam tanggal 23 bulan Ramadan).

Susana sontak menjadi riuh, karena beberapa siswa secara bersamaan melontarkan pernyataan secara bersahut-sahutan.

“Aku pernah diajak orang tuaku ke Bandar Grissee sama makan krawu,” ujar Nandana Akhdan, siswa kelas 2 Fuji.

Baca Juga:  Hexagon Hack: Cara Cerdas Belajar Geometri dengan Logika Komputasi dari Kelas Jepang

“Aku pernah nyoba makan pudak, rasanya enak,” sahut Ayra Mecca Tirta, siswi kelas 2 Leica.

Namun, kehebohan itu mendadak sirna ketika Laras mulai menceritakan kisah Sumur Songo. Suasana yang semula riuh berubah sunyi. Semua siswa menyimak dengan penuh perhatian.

Siswa mencatat informasi penting dari guru tamu saat pengenalan Sejarah dan Budaya Gresik, di Aula SDMM, Senin, 12 Februari 2025. (Tagar.co/Prima Ari Rosyida)

Kisah Mistis di Balik Sumur Songo

Legenda Sumur Songo berasal dari Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik. Kisah ini hampir mirip dengan cerita Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso dalam legenda Candi Sewu. Namun, kali ini tokohnya adalah Nyai Ageng Tumengkang Sari, putri dari Sunan Wruju dan cucu Sunan Giri.

Dikisahkan, seorang pangeran dari Majapahit ingin melamar Nyai Ageng Tumengkang Sari. Namun, karena perbedaan keyakinan, ia menolak. Untuk menghindari pernikahan tersebut, Nyai Ageng memberikan syarat yang tampak mustahil: sang pangeran harus membuat sepuluh sumur dalam satu malam.

Dengan kepercayaan diri yang tinggi, sang pangeran menerima tantangan itu. Ia bekerja keras sepanjang malam, dan saat fajar menyingsing, ia yakin telah menyelesaikan tugasnya. Namun, saat dihitung, sumurnya hanya ada sembilan!

Aula SDMM mendadak sunyi, anak-anak menahan napas. Kemudian, Laras tersenyum dan melanjutkan kisahnya, “Ternyata, sumur yang kesepuluh diduduki oleh sang putri, sehingga berkali-kali dihitung tetap saja jumlahnya sembilan.”

Baca Juga:  Tapak Suci SDMM Tampilkan Harmoni Seni dan Ketangkasan

Seketika aula kembali gemuruh. Anak-anak tertawa, terkagum-kagum, dan bahkan ada yang bertanya, “Bu, jadi sumur yang kesepuluh itu ada atau nggak?”

Bagi mereka, ini adalah kisah yang luar biasa—penuh keajaiban dan kejutan.

Petualangan Budaya yang Berlanjut

Kisah ini menjadi penutup kegiatan P5 hari pertama. Namun, semangat siswa untuk mengeksplorasi budaya Gresik masih berkobar.

“Besok lanjutkan ceritanya ya, karena ceritanya bagus,” pinta Alicia Jeselyn Alvana, siswi kelas 2 Lumix.

Koordinator kegiatan P5 kelas II SDMM, Nur Yanidha Qomariyah, S.Pd., menjelaskan \kegiatan ini akan berlangsung selama sepuluh hari, dari 10 hingga 22 Februari 2025.

“Setiap hari, anak-anak akan dikenalkan dengan keanekaragaman budaya Gresik. Kebetulan hari ini baru pembukaannya saja. Insyaallah besok anak-anak akan praktik membuat makanan khas Gresik, yaitu bongko kopyor,” ujarnya.

Dengan program ini, diharapkan anak-anak semakin mengenal dan mencintai budaya lokal mereka sendiri. Sebab, di balik kisah-kisah yang terdengar mistis atau makanan yang tampak sederhana, tersimpan identitas dan kebanggaan sebuah daerah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni