
La tahzan bukan sekadar kalimat penenang, tetapi pesan iman bahwa di balik setiap luka dan lelah, Allah sedang menyiapkan jalan terbaik.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang
Tagar.co – Dalam perjalanan hidup, manusia hampir selalu berjalan di antara lelah, harap yang tertunda, dan doa yang belum terjawab. Iman tidak jarang diuji bukan oleh besarnya cobaan, melainkan oleh lamanya proses.
Pada titik inilah Islam mengajarkan satu pesan mendasar yang menenangkan jiwa: la tahzan—jangan bersedih.
Baca juga: Menjaga Iman di Antara Syubhat dan Syahwat
Kalimat sederhana itu bukan sekadar penghibur, melainkan inti dari tauhid dan kepercayaan penuh kepada Allah. Sebab di balik setiap kegelisahan, selalu ada keyakinan yang seharusnya hidup: innallaha maana — sesungguhnya Allah bersama kita.
Keyakinan inilah yang mengubah keluh menjadi sujud, lelah menjadi ibadah, dan usaha menjadi kepasrahan yang penuh harap.
Dunia Bukan Tempat Menetap
Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan ladang ujian:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali ‘Imran: 185)
Maka wajar bila di dalamnya ada letih, luka, dan air mata. Namun seorang mukmin tidak berhenti pada keluh; ia mengubahnya menjadi sujud. Karena dalam sujudlah seorang hamba berada pada jarak terdekat dengan Rabb-nya. Rasulullah Saw bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud.” (Muslim)
Keluh yang disimpan di dada akan menambah beban, tetapi keluh yang dibawa ke dalam sujud justru melapangkan.
Lelah, Sabar, dan Energi Ibadah
Lelah bukan selalu tanda lemahnya iman. Terkadang ia adalah panggilan agar seorang hamba kembali memperkuat hubungannya dengan Allah. Karena Allah sendiri telah mengajarkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.” (Al-Baqarah: 153)
Sabar dan salat bukan sekadar kewajiban, tetapi sumber energi ruhani. Bukan ibadah yang memberatkan hidup, melainkan menjauh dari ibadah yang membuat hati semakin kosong.
Takdir Tidak Pernah Salah Alamat
Kegelisahan terdalam sering lahir bukan karena masalah terlalu besar, tetapi karena hati lupa bahwa seluruh perkara berada dalam genggaman Allah. Padahal setiap peristiwa telah tertulis dalam ketetapan-Nya:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ … إِلَّا فِي كِتَابٍ
“Tidak ada musibah yang menimpa melainkan telah tertulis dalam Kitab.” (Al-Hadid: 22)
Takdir bukan untuk ditakuti, melainkan dipahami. Ada kalanya doa belum terwujud seperti yang diinginkan, karena Allah sedang menyiapkan jawaban yang lebih baik. Rasulullah Saw bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, seluruh urusannya adalah kebaikan…” (Muslim)
Inilah keseimbangan iman: syukur ketika lapang, sabar ketika sempit.
Ketika Hati Menerima, Jiwa Menjadi Tenang
Allah menegaskan:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (Al-Baqarah: 216)
Ketika hati mampu menerima, syukur pun tumbuh. Syukur bukan hanya saat bahagia, tetapi juga saat diuji, karena di balik ujian selalu ada perhatian Allah yang lembut dan penuh kasih.
Maka la tahzan—jangan bersedih berlebihan. Karena innallaha ma‘anna — Allah selalu bersama kita: dengan ilmu-Nya, rahmat-Nya, dan pertolongan-Nya.
Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam sujud, menguatkan jiwa dalam ibadah, melapangkan dada dalam kepasrahan, serta menerima seluruh amal kita dengan penerimaan terbaik. Amin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












