Opini

Kopi Sachet Bikin Miskin

58
×

Kopi Sachet Bikin Miskin

Sebarkan artikel ini
Kopi sachet, rokok, dan beras penyumbang utama kemiskinan. Itu kata Badan Pusat Statistik dalam laporannya.
Ilustrasi kopi, beras, dan rokok bikin miskin

Kopi sachet, rokok, dan beras penyumbang utama kemiskinan. Itu kata Badan Pusat Statistik dalam laporannya. Lantas rakyat disuruh apa?

Oleh Dr. Arif Zunaidi, SHI., MEI, dosen UIN Syekh Wasil Kediri

Tagar.co – Bayangkan, kamu pulang kerja, gaji baru turun, mampir ke warung. Pesan nasi campur, tempe, sambal, segelas kopi sachet.

Duduk di bangku plastik, ngobrol sama tukang parkir. Eh, besoknya buka berita, baca laporan BPS (Badan Pusat Statistik): Konsumsi beras, rokok, dan kopi sachet jadi penyumbang utama garis kemiskinan.

Lah, jadi kita miskin bukan karena gaji kecil, tapi karena makan?

Kadang rasanya absurd. Yang disalahkan bukan sistem upah rendah, bukan harga kebutuhan pokok yang terus naik, bukan juga akses kerja yang makin sempit. Yang disorot malah nasi dan kopi sachet.

Dua hal paling murah dan paling manusiawi buat rakyat kecil. Kalau gitu, apa solusi versi statistik? Sarapan pakai doa dan mengunyah harapan?

Tenang. Ini bukan sekadar soal ngopi. Ini soal logika kebijakan yang kadang kayak nonton sinetron, terlalu dramatis dan suka menyalahkan tokoh yang salah.

Survival Mode

Yuk, kita luruskan niat dulu. Orang makan nasi dan minum kopi sachet itu bukan biar terlihat trendy di bawah tekanan ekonomi.

Baca Juga:  Puasa, Belanja Makanan Malah Naik

Itu karena ya memang itu yang paling masuk akal dibeli dari sisa uang harian. Gak semua orang bisa ngopi di kafe fancy sambil kerja remote.

Kebanyakan rakyat lebih kenal kopi sachet seribuan yang dijual di warung depan rumah. Rasanya pahit manis kayak beban hidup.

Menurut data BPS Maret 2025, beras menyumbang 21% lebih garis kemiskinan di perkotaan, dan hampir 25% di pedesaan.

Lalu rokok kretek filter nyusul di angka 10%, kemudian ada kopi instan, mi instan, gula, dan telur.

Kalau semua itu dianggap penyebab kemiskinan, berarti rakyat miskin disarankan makan apa? Rumput?

Secara teori, ini nyambung sama konsep subsistence consumption. Teori ini bilang bahwa masyarakat miskin akan menghabiskan hampir seluruh pendapatannya buat kebutuhan dasar: makan, minum, bertahan hidup.

Bukan buat healing atau langganan Netflix. Jadi kalau kebutuhan dasar itu masih bikin orang miskin tambah miskin, berarti yang perlu diperiksa itu bukan kebiasaan rakyatnya, tapi struktur harga dan daya belinya.

Logika Ajaib

Kita sering banget dengar petuah bijak dari para motivator atau influencer finansial: Jangan ngopi biar bisa beli rumah.

Coba kita hitung bareng-bareng ya. Harga kopi sachet: Rp1.000. Harga rumah: Rp300 juta.

Baca Juga:  Tragedi Ngada, Rapuhnya Perlindungan Anak Miskin

Jadi kalau kamu menabung uang ngopi tiap hari, kamu baru bisa beli rumah… 800 tahun kemudian. Itu juga belum dihitung inflasi, pajak, dan kenaikan harga properti.

Ini contoh klasik dari blaming the victim, sebuah teori sosial yang bilang bahwa orang yang mengalami masalah sering disalahkan atas nasibnya sendiri.

Jadi orang miskin dianggap miskin bukan karena sistemnya bobrok, tapi karena kebanyakan jajan.

Padahal, kenyataannya mereka hidup dari gaji harian, tanpa asuransi kesehatan, tanpa dana darurat, dan masih harus bantu keluarga.

Lucunya, di balik wacana ’stop ngopi biar kaya’, ada kenyataan yang lebih getir. Ngopi dan merokok bukan gaya hidup boros, tapi mekanisme bertahan. Sedikit nikmat di tengah hidup yang keras.

Kita bisa debat soal sehat enggaknya, tapi jangan sampai lupa: itu satu dari sedikit cara rakyat menjaga kewarasannya.

Benahi Sistem

Rakyat kecil itu bukan gak ngerti cara hidup hemat. Justru mereka ahli bertahan hidup dari penghasilan yang bahkan kalah dari uang parkir mall di Jakarta.

Mereka jago ngatur uang—karena terpaksa. Mereka ngerti mana prioritas, mana yang cuma pengalihan stres.

Tapi sekuat apapun manajemen keuangan keluarga, tetap kalah kalau sistem ekonomi gak mendukung.

Maka solusi bukan cuma soal ngasih pelatihan “cara menabung dari uang jajan”, tapi soal perubahan struktural.

Baca Juga:  Budaya Pamer Amal

Perlu kebijakan harga pangan yang masuk akal. Perlu subsidi yang tepat sasaran. Perlu reformasi ketenagakerjaan yang bikin rakyat bisa punya penghasilan layak. Jangan suruh rakyat berhemat terus, sementara harga kebutuhan pokok terus menanjak kayak harga tiket konser.

Coba deh, sekali-sekali para pembuat kebijakan turun langsung. Hidup dari UMR tanpa fasilitas negara. Biar tahu rasanya beli telur setengah kilo sambil mikir, ”Minggu depan masih bisa makan gak ya?”

Biar tahu bahwa sebatang rokok atau segelas kopi sachet itu bukan sekadar barang, tapi satu-satunya me time yang bisa dibeli.

Kadang hidup di negeri Konoha ini serba salah. Mau makan nasi, dibilang bikin miskin. Mau ngerokok, dianggap beban ekonomi. Mau ngopi sachet, katanya biang kemiskinan.

Padahal buat banyak orang, makan tanpa ngudud itu kayak nonton bola tanpa komentator: sunyi, kurang greget.

Jadi gimana dong? Harusnya rakyat disuruh makan angin sambil minum air keran? Atau lebih ekstrem, sarapan pakai motivasi dan makan malam pakai afirmasi positif?

Kalau gitu caranya, bisa-bisa nanti keluar jargon baru: Bahagia tanpa nasi, sukses tanpa kopi. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto