Feature

Kenali Dirimu, Raih Kemuliaan di Sisi-Nya

39
×

Kenali Dirimu, Raih Kemuliaan di Sisi-Nya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Kamu lebih dari sekadar jasad! Kenali kekuatan lisan, pikiran, dan kehadiranmu. Jangan sia-siakan hidupmu, sebab Allah menciptakanmu dengan kehormatan. Jadilah pribadi yang bermakna dan bermanfaat bagi sekitar.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah  Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Manusia bukan sekadar jasad yang berjalan. Kita adalah perpaduan roh, akal, dan perasaan. Kata-kata yang keluar dari lisan, pikiran yang berkelindan dalam benak, dan langkah yang kita tempuh—semuanya memiliki dampak.

Hidup ini bukan tempat untuk menjadi biasa-biasa saja. Allah menciptakan kita dengan kehormatan. Maka, kenalilah nilai dirimu.

Dalam banyak kesempatan, kita terlalu sering meremehkan kekuatan kata. Padahal, satu kalimat bisa menjadi sebab turunnya rahmat atau justru mendatangkan murka. Lisan adalah karunia besar, tetapi juga ujian yang sangat berat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ”

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak kehancuran bermula dari lidah yang tidak terjaga. Fitnah, gibah, namimah—semuanya buah dari kata-kata yang dibiarkan tanpa kendali. Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah memperingatkan:

Baca Juga:  Keutamaan Salat Syuruk: Kapan dan di Mana Dilaksanakan, serta Bedanya dengan Duha

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Ucapan kita bukanlah hal remeh. Setiap huruf tercatat. Maka, bila seseorang memahami kekuatan kata-katanya, ia akan berpikir berkali-kali sebelum berbicara. Ia tidak akan sembarangan menilai, tidak mudah menghakimi, dan tidak ringan melontarkan canda yang melukai.

Begitu pula dengan pikiran. Pikiran adalah akar dari perilaku. Apa yang terus dipikirkan akan menjadi niat. Dan niat adalah pintu bagi amal. Allah ﷻ menegaskan bahwa setiap amal dimulai dari niat:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal perbuatan itu bergantung pada niatnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jika pikiran kita terus dipenuhi keburukan, maka yang tumbuh adalah prasangka. Jika yang dipelihara adalah keraguan dan iri, hati pun akan lelah. Maka, benahilah pikiran, karena pikiran membentuk cara pandang, dan cara pandang menentukan arah hidup kita.

Di era media sosial, banyak yang kehilangan keheningan berpikir. Segala hal ingin direspons, setiap peristiwa ingin dikomentari. Padahal, tidak semua yang melintas perlu ditanggapi. Allah menyebut orang beriman sebagai mereka yang menjaga diri dari hal sia-sia:

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Baca Juga:  Utang Barang Menjadi Musuh Dagang

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (Al-Mu’minun: 3)

Kekuatan berikutnya adalah kehadiran. Kita kerap tidak menyadari bahwa kehadiran kita—baik secara fisik maupun emosional—mempengaruhi ruang. Di rumah, di tempat kerja, di masjid, atau di tengah masyarakat, keberadaan kita membawa pengaruh.

Jika seseorang memiliki jiwa yang damai, maka damai pula lingkungan di sekitarnya. Namun, jika ia membawa energi amarah, maka keresahan pun tersebar.

Nabi ﷺ mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Beliau bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (H.R. Ahmad)

Maka, jangan anggap remeh kehadiranmu. Ketika engkau datang ke sebuah tempat, datanglah membawa semangat, bukan sekadar tubuh. Datanglah dengan tujuan menebar maslahat, bukan sekadar eksistensi. Jadilah cahaya bagi sekitar, bukan bayangan yang membebani.

Ketiga hal ini—kata, pikiran, dan kehadiran—menjadi penanda bagaimana seseorang mengenali dirinya. Seseorang yang mengenal nilai dirinya tidak akan sembarangan bicara. Ia menjaga ucapannya sebagaimana ia menjaga harta berharganya. Ia tidak akan sembarangan berpikir, sebab ia tahu bahwa setiap lintasan pikiran bisa menjadi awal dosa atau pahala. Dan ia tidak akan sembarangan berada di mana-mana, karena ia paham bahwa tempat yang salah bisa mencemari jiwa.

Baca Juga:  Doa Anak dan Amal yang Tak Terputus untuk Mayat

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Dan sungguh, telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (Al-Isra: 70)

Kemuliaan ini bukan karena rupa atau jabatan, tetapi karena kita memiliki amanah. Kita dimuliakan karena kita memiliki akal, ruh yang suci, dan potensi untuk menjadi pemakmur bumi. Maka, jangan rendahkan dirimu dengan sikap sembrono terhadap ucapan, pikiran, dan tempat kehadiran.

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Wahai anak Adam, engkau adalah kumpulan hari. Jika satu harimu berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”

Kalimat itu menegaskan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk mengenal siapa diri kita. Maka, jangan menunda untuk menjadi pribadi yang lebih berharga. Bukan karena ingin terlihat baik di mata manusia, tetapi karena kita tahu bahwa hidup ini singkat, dan akhirat terlalu panjang untuk disia-siakan.

Kenalilah nilai dirimu. Jaga lisanmu agar tidak menyakiti. Bersihkan pikiranmu agar tidak menyesatkan. Hadirkan dirimu di tempat-tempat yang diridai-Nya.

Karena Allah tidak menciptakanmu tanpa maksud. Dan hidupmu terlalu berarti untuk dijalani dengan sembarangan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni