Telaah

Kemuliaan Manusia dalam Pujian dan Celaan Medsos

10
×

Kemuliaan Manusia dalam Pujian dan Celaan Medsos

Sebarkan artikel ini
Kemuliaan tak perlu dicari dengan mengejar pengakuan manusia. Tetapi cari cara memperbaiki hubungan dengan Allah.
Ilustrasi

Kemuliaan tak perlu dicari dengan mengejar pengakuan manusia. Tetapi cari cara memperbaiki hubungan dengan Allah.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, penulis tinggal di Semarang.

Ketika seseorang telah memahami hakikat hidup, ia tidak lagi menjadikan pujian atau celaan manusia sebagai ukuran harga dirinya.

Ia memilih ketenangan daripada keributan. Apalagi ribut di dunia media sosial. Hati yang telah terikat kepada Allah, penilaian manusia yang berubah-ubah bukan masalah.

Ada masa dalam kehidupan ketika seseorang sangat mudah terganggu oleh komentar orang lain. Pujian membuatnya terbang tinggi, sementara celaan menjatuhkannya ke dasar kegelisahan.

Kehidupan di dunia medsos mencontohkan situasi itu. Bikin konten berharap like, subscribe, dan view yang tinggi. Kalau viral hatinya melonjak setinggi langit. Kalau dapat celaan langsung mentalnya jatuh dan maki-maki merasa manusia paling hina.

Perjalanan hidup perlahan mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar bisa memuaskan semua orang. Di titik inilah kedewasaan mulai tumbuh.

Islam mengajarkan agar manusia tidak menggantungkan harga dirinya kepada penilaian manusia. Allah menegaskan, kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh opini sosial, melainkan oleh ketakwaan.

Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat: 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Baca Juga:  Hijab atau Kafan: Aurat dan Pilihan Waktu

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Ayat ini mengingatkan ukuran kemuliaan bukanlah pandangan manusia, bukan pula pujian masyarakat. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan yang hanya diketahui secara sempurna oleh Allah. Karena itu, orang yang telah matang jiwanya tidak lagi terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia.

Rasulullah ﷺ juga menanamkan prinsip kemerdekaan hati dari penilaian manusia. Beliau bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya. (HR. Tirmidzi)

Salah satu bentuk meninggalkan hal yang tidak bermanfaat adalah tidak terlalu sibuk memikirkan apa yang orang lain katakan tentang kita.

Banyak kegelisahan lahir karena seseorang terlalu memberi ruang dalam hatinya bagi opini manusia.

Padahal manusia sendiri sering berubah ubah. Hari ini memuji, esok mencela. Hari ini mendukung, esok mengkritik. Jika hati kita bergantung kepada manusia, maka hidup kita akan selalu dipenuhi kegelisahan.

Baca Juga:  La Tahzan dalam Takdir Allah

Zuhud

Islam juga mengajarkan sikap zuhud. Siapa yang mengenal Allah dengan benar, maka ia akan merasa cukup dengan penilaian Allah saja.

Kedewasaan juga terlihat dari kemampuan seseorang memilih ketenangan daripada keributan. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kritik harus dilayani. Terkadang mundur satu langkah justru merupakan tanda kebijaksanaan.

Al-Qur’an memuji orang orang yang mampu menahan diri dari pertengkaran yang tidak perlu. Allah berfirman dalam surah Al-Furqan: 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang orang bodoh menyapa mereka dengan kata kata kasar, mereka menjawab dengan kata kata yang baik.

Ayat ini menggambarkan kedewasaan spiritual yang sangat tinggi. Ketika orang bodoh memancing keributan, mereka tidak terpancing.

Mereka memilih jalan damai. Mereka tidak membiarkan ketenangan hati mereka dirusak oleh emosi sesaat.

Sikap seperti ini bukan tanda kelemahan. Justru ia adalah tanda kekuatan batin. Orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang dalam pertengkaran, tetapi orang yang mampu menahan dirinya dari pertengkaran yang tidak perlu.

Baca Juga:  Moderasi dalam Cahaya Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah. (HR Bukhari dan Muslim)

Bising Komentar

Dalam kehidupan sehari hari, kedewasaan seperti ini sangat dibutuhkan. Dunia modern penuh dengan kebisingan opini.

Media sosial dipenuhi komentar, pujian, kritik, bahkan hinaan. Jika hati tidak dijaga, seseorang mudah terjebak dalam pusaran emosi.

Karena itu, memilih mundur dari keributan kadang merupakan bentuk perlindungan terhadap hati. Bukan berarti kita lari dari kebenaran, tetapi kita menjaga agar jiwa tetap tenang dan tidak terperangkap dalam konflik yang melelahkan.

Hidup ini singkat. Jangan dihabiskan dengan memikirkan penilaian manusia. Jauh lebih penting bagaimana kita berdiri di hadapan Allah dengan hati yang bersih.

Tak perlu lagi sibuk mengejar pengakuan manusia, tetapi sibuk memperbaiki hubungan dengan Allah. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto