
Di tengah teriknya siang, Hamas School menyambut juri dengan senyum, senam, dan suguhan unik: kembang goyang kelor. Kudapan sehat buatan siswa ini bukan sekadar camilan, tapi juga produk unggulan bernilai ekonomi.
Tagar.co – Terik matahari siang itu tak mampu meredupkan semangat siswa-siswi SMP Muhammadiyah 13 Campurejo, Panceng, Gresik. Mereka tampak antusias menyambut kedatangan dewan juri Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) pada Sabtu (23/8/2025).
Hadir sebagai juri, saya, Suwarno, M.Pd., dari Majelis Dikdasmen dan PNF, serta Drs. Umayah dari Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik.
Sejak di gerbang, suasana terasa meriah. Kepala Sekolah, Nurul Wakhidatul Ummah, S.Si., bersama jajaran guru berdiri menyambut dengan senyum lebar. Sementara siswa-siswi mengibarkan bendera kecil, menambah semarak penyambutan.

Kudapan Unik: Kembang Goyang Kelor
Di lobi sekolah yang punya julukan Hamas School itu, sejumlah siswa memperagakan Senam Anak Indonesia Hebat. Gerakan mereka terlihat luwes, pertanda latihan rutin telah menjadi kebiasaan. Usai senam, juri diarahkan ke ruang tamu, tempat dua siswi Ekskul Cooking Class bersiap melakukan presentasi.
Najwa Annadina Munajahida, Ketua Pimpinan Ranting IPM Hamas School sekaligus Duta Sekolah, memaparkan berbagai produk olahan. Ada minuman kunyit asam yang segar, kudapan pisang, hingga camilan unik berwarna hijau bernama Kembang Goyang Kelor.
“Proses pembuatannya dari daun kelor yang direbus, lalu sarinya dicampur dengan bahan lainnya,” jelas Najwa.
Nurul Wakhidah menambahkan, produk ini tidak hanya berhenti sebagai hasil praktik, tetapi sudah dipasarkan dengan dukungan wali murid. “Kembang Goyang Kelor menjadi produk unggulan sekolah. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik keterampilan yang bernilai ekonomi,” ujarnya.
Juri pun berkesempatan mencicipi. Rasanya renyah sekaligus menyehatkan, membuat kami memberi apresiasi atas inovasi sekolah dalam membekali siswa dengan keterampilan wirausaha.

Menyusuri Sudut-Sudut Hamas School
Perjalanan berlanjut menelusuri ruang-ruang sekolah. Mulai dari laboratorium komputer, perpustakaan digital, ruang IPM, toilet, kantin, hingga ruang kelas yang bersih tanpa coretan.
“Bangkunya bagus dan bersih semua?” tanya saya.
“Iya Pak, karena sebelumnya ada lomba kebersihan kelas,” sahut Elif Nashikhatul Maziyah, S.Bns
sambil tersenyum. Pembina UKS Hamas School itu pernah menjuarai lomba makanan sehat ber-PIRT oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik.
Di salah satu ruangan, juri disuguhi kursi-kursi bulat berbahan daur ulang.
Suasana makin hangat ketika siswa Ardita Pramesti Putri Regita mendendangkan lagu Berkibarlah Benderaku ciptaan Gombloh dengan suara merdu, membuat ruangan seketika hening penuh takjub.

Pesan Juri
Menutup kunjungan, Umayah memberi catatan penting agar pemilahan sampah di sekolah tidak berhenti di sekadar memisahkan, tetapi juga dilanjutkan dengan pengolahan. Sementara saya berpesan agar Hamas School memperbanyak tanaman perindang, sehingga halaman sekolah lebih teduh dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.
Kunjungan singkat itu meninggalkan kesan mendalam. Hamas School bukan hanya mencetak siswa cerdas, tetapi juga kreatif dan berkarakter, dengan kembang goyang kelor sebagai simbol inovasi kecil yang memberi harapan besar. (#)
Jurnalis Suwarno Penyunting Mohammad Nurfatoni












