
Catatan perjalanan rombongan PCM Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menuju CRM Award 2025 di Banjarmasin. Mulai dari kelebihan bagasi, barang bawaan unik, dan semangat juang peserta pameran dari Yogyakarta. Ditulis sepanjang penerbangan dari Yogyakarta International Airport (YIA).
Tagar.co — Saya bersama rombongan PCM Minggir berangkat menuju Banjarmasin untuk mengikuti rangkaian CRM Award 2025. Salah satunya, expo (pameran) keunggulan cabang, ranting, dan masjid dalam bidang pengembangan ekonomi dan pemberdayaan jamaah.
Kegiatan ini berbentuk pameran prototipe produk kegiatan di Cabang dan Ranting. Tujuannya untuk memperkenalkan jenis usaha dan penjajakan kerja sama dengan pihak lain, baik dalam bentuk jejaring, permodalan, pemasaran, maupun bentuk kerjasama yang lain.
Perjalanan kami bermula sejak Selasa (11/11/2025). Tepat pukul 15.40 WIB, kami meninggalkan Minggir, Sleman. Rombongan pertama ini terdiri atas enam orang: Ketua PCM Minggir H. Ngadimin, S.Pd., M.Pd., Nur Hidayat, Basyori, Hana, Faras, dan saya, Dwi Sumartono.
Dalam perjalanan ini, kami mengajak Faras, siswi SMK Muhammadiyah Minggir, jurusan Farmasi. Ia berasal dari Morangan, Sleman. Sehari-harinya tinggal di Panti Mekar Melati, Mbabrik, Sidorejo.
Selain aktif belajar, Faras juga seorang atlet beladiri Tapak Suci. Beberapa trofi kejuaraan telah ia raih. Terakhir, pada kejuaraan pencak silat tingkat Korwil DIY, ia berhasil meraih juara III.
Jauh sebelum keberangkatan, kami sempat berdiskusi alot menyangkut barang-barang pameran yang akan kami bawa. Saya dan Basyori menyarankan, tidak semua barang yang sebelumnya diturunkan di Ngloji itu bisa terbawa semua. Mengingat dalam penerbangan ada batasan bagasi maksimal.
Adapun malam sebelumnya, saya sudah mencoba menimbang semua barang yang akan kami bawa. Berat totalnya mencapai 72 kilogram. Akan tetapi, rupanya Ketua PCM (Ngadimin) tetap bersikeras, semua barang harus bisa terbawa.
“Sing marai menang ki ya barang itu tadi,” jelasnya mencoba meyakinkan kami dalam bahasa khas Jogja.
Artinya, “Barang-barang itulah yang jadi modal kita untuk menang pameran nanti.”
Mau tahu barang-barangnya? Ada spanduk, kain lurik, daster, serbet, tas lurik, seblak instan, buku, gantungan kunci, dan pigura. Ditambah lagi, 20 kg salak pondoh. Itu belum termasuk barang bawaan pribadi masing-masing.
Akhirnya, semua barang tersebut kami angkut menuju Banjarmasin. Kami membawa tumpukan koper, dus, dan kardus berisi aneka produk pameran tersebut dengan troli. Kami antusias meskipun barang bawaan cukup banyak dan beragam.
Konsekuensi Finansial
Sesuai dugaan, ternyata, ketika boarding pass di bandara, kami memang mengalami kelebihan bagasi (over baggage). Beruntung, sebelum boarding pass kami menyatukan rombongan Minggir dengan kontingen dari DIY yang lainnya. Ada perwakilan dari PRM Nogotirto, PRM Margokaton, PCM Prambanan, PCM Wonosari, PRM Sirahan, Masjid Al Irsyad, serta PCM Kotagede.
Barang-barang dari seluruh peserta DIY kami timbang menjadi satu. Konsekuensinya, seluruh peserta menanggung biaya kelebihan bagasi secara merata. Setiap penumpang akhirnya terkena biaya tambahan sebesar Rp120 ribu.
“Tidak apa-apa. Yang penting semua barang kita terangkat. Barang-barang itulah yang jadi modal kita untuk menang,” tegas Ngadimin mengulang kalimatnya.
Akhirnya kami membawa tumpukan koper, dus, dan kardus berisi aneka produk pameran dengan troli. Kami antusias meskipun barang bawaan cukup banyak dan beragam
Setelah menanti di ruang tunggu beberapa saat, kami pun berada di dalam pesawat. Tepat pukul 18.55 WIB, pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
Entah mengapa, tiba-tiba ingatan saya kembali ke Minggir. Saya teringat anak-anak yang saya tinggalkan di rumah. Baik-baik kalian di rumah ya, Sayang. Saya teringat Ngloji yang saat ini sedang berbenah. Mereka memperbaiki saluran air agar tidak banjir bila hujan datang mengguyur. (#)
Jurnalis: Dwi Sumartono Penyunting: Sayyidah Nuriyah












