Opini

Kabar Baik di Tengah Kisruh Visa dan Syarikah Haji

32
×

Kabar Baik di Tengah Kisruh Visa dan Syarikah Haji

Sebarkan artikel ini
Pelayana Makkah Route do Bandara Internasional Mohammed V di Casablanca, Maroko (Foto Saudi Press Agency)

Di tengah keluhan soal visa dan penempatan syarikah, muncul kabar baik: bandara Saudi kini melayani jemaah haji dengan cepat, rapi, dan penuh empati. Namun, secepat apa pun sistem, kesiapan jemaah tetap kunci.

Oleh: Ulul Albab; Ketua Litbang DPP Amphuri; Ketua ICMI Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Di tengah riuh rendah keluhan soal visa yang datang mepet, penempatan syarikah yang membingungkan, dan jemaah yang terpisah dari rombongan—ternyata ada secercah kabar baik yang datang dari tempat paling tidak diduga: bandara.

Ya, bandara. Tempat yang biasanya bikin lelah sebelum ibadah dimulai, tahun ini justru menjadi wajah baru pelayanan haji yang lebih manusiawi. Cepat. Rapi. Efisien. Bahkan tak berlebihan jika kita mengatakan: Mekkah kini terasa lebih dekat, bukan karena geografi, tetapi karena teknologi dan niat baik yang dijalankan dengan sistem.

Fast Track: Jalur Cepat

Sejak kloter pertama mendarat di Madinah hingga gelombang kedua melalui Bandara King Abdulaziz Jeddah, waktu tunggu jemaah dari turun pesawat hingga naik bus terus dipangkas. Bila dulu bisa dua jam lebih, kini hanya sekitar 20–60 menit, tergantung kloter dan jalur.

Baca Juga:  Malam Ke-25 Ramadan, Benarkah Kandidat Terkuat Lailatulqadar?

Baca juga: Haji Era Baru: Saat Indonesia Harus Berbenah Menghadapi Ketatnya Regulasi Saudi

Semua ini berkat program Makkah Route alias fast track—sebuah skema penyederhanaan layanan imigrasi dan logistik yang memindahkan proses pemeriksaan dari bandara asal keberangkatan le Saudi. Jemaah bahkan sudah melalui pemeriksaan biometrik dan visa sejak di tanah air. Hasilnya: begitu pesawat mendarat, tinggal jalan kaki, naik bus, dan … bismillah.

Petugas Wukala dan Lift untuk Lansia

Bukan hanya urusan imigrasi yang dipermudah. Di Bandara Jeddah, Al-Wukala (konsorsium logistik Saudi yang ditugasi Kementerian Haji dan Umrah) aktif membantu jemaah lansia dan penyandang disabilitas. Mereka mendorong kursi roda, menangani bagasi, mengarahkan jemaah ke bus. Bahkan, tersedia bus hidrolik khusus lansia, yang tidak tersedia di gelombang pertama Madinah.

Ini empati yang dipraktikkan dalam sistem. Dalam dunia yang serba cepat dan digital, ada tangan-tangan manusia yang tetap hadir, halus, membantu, dan memahami makna ibadah secara sosial.

Sistem Sudah Cepat, tapi Kita Masih Lambat?

Namun, tidak semua kabar manis. Cepatnya sistem belum tentu diimbangi cepatnya perilaku. Ada jemaah yang belum memakai ihram dari pesawat sehingga memperlambat proses di terminal. Ada yang membawa koper seisi lemari. Ada yang paspornya “disimpan aman”, saking amannya sampai lupa di mana.

Baca Juga:  Board of Peace dan Ujian Konsistensi Politik Luar Negeri Indonesia

Ini menjadi ironi: teknologi sudah lari, kita masih berjalan. Maka pekerjaan rumah kita bukan hanya pada sistem, tetapi pada edukasi jemaah. Manasik jangan cuma jadi ajang kumpul-kumpul dan swafoto bersama ustaz. Tapi betul-betul mempersiapkan jemaah menjadi pribadi yang siap ibadah dan siap menjadi bagian dari sistem yang cepat, ringkas, dan disiplin.

Bandara Saudi semakin Ramah

Ada satu pelajaran penting dari perubahan di bandara ini. Bahwa haji bukan lagi sekadar soal niat dan manasik, tetapi juga soal kesiapan menghadapi tata kelola yang berubah. Jemaah tidak bisa lagi bergantung pada kebiasaan zaman dulu yang serba fleksibel. Dunia sudah berubah. Dan ibadah haji (sebagai salah satu mobilisasi manusia terbesar di dunia) harus mengikuti zaman.

Kita patut bersyukur, tahun ini Arab Saudi menunjukkan kemajuan luar biasa. Bahwa di balik pengetatan visa dan kekacauan kloter, setidaknya satu pintu kini terbuka lebih lebar dan lebih ramah: pintu bandara.

Makkah Jadi makin Dekat

Layanan yang cepat dan penuh empati di bandara Saudi adalah semacam pesan diam: bahwa niat baik akan menemukan jalannya, asalkan sistem dan sumber daya manusianya saling menopang. Kalau Saudi bisa membangun sistem dengan empati, maka kita di Indonesia pun bisa membangun kesiapan dengan disiplin.

Baca Juga:  Menanti 1 Syawal: Antara Ilmu, Ijtihad, dan Kedewasaan Umat

Karena sejauh apa pun Makkah dari Jakarta, Surabaya, atau Makassar, kalau sistemnya tepat, manusianya siap, dan hatinya lurus, maka Mekkah akan selalu terasa dekat.

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…