Feature

Jelaskan 3K, Abdul Mu’ti Punya Tafsir Baru soal Ayat Korupsi

42
×

Jelaskan 3K, Abdul Mu’ti Punya Tafsir Baru soal Ayat Korupsi

Sebarkan artikel ini
Prof. Abdul Mu’ti dalam Perayaan Milad Ke-113 Muhammadiyah oleh PWM Jawa Timur di Gedung Muhammadiyah Jatim, Sabtu (29/11/29) (Tagar.co/Sugiran)

Prof. Abdul Mu’ti bukan hanya menekankan tiga “K” bagi warga Muhammadiyah. Ia juga memaparkan tafsir baru soal ayat-ayat korupsi, lengkap dengan penjelasan tentang al-mukaddibūn hingga perbedaan makna tufsidu fil-ardh dan tafghīl fasāda fil ardh.

Tagar.co – Perayaan Milad Ke-113 Muhammadiyah yang digelar PWM Jawa Timur di Gedung Muhammadiyah Jatim, Sabtu (29/11/25), berlangsung hangat dan penuh energi. Bukan hanya dihiasi sambutan resmi, apresiasi, dan penguatan organisasi, tetapi juga diperkaya pesan menukik dari Prof. Abdul Mu’ti.

Pada momen itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), tersebut menyampaikan tiga pesan penting bagi warga Muhammadiyah—yang ia rangkum secara apik dalam tiga “K”.

Hindari Konflik

‘K’ pertama adalah konflik. Maksudnya warga Muhammadiyah jangan konflik, berpecah-belah.  “Jangan konflik. Ojo rebutan balung. Kadang-kadang balunge wis ora ana, malah rebutan sumsum. Sudah rebutan balung sama sumsum, permusuhannya sampai balung–sumsum. Itu tidak boleh rebutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak ayat melarang perpecahan, seperti dalam Surah Ali Imran 103. “Berpegang teguhlah kamu dengan tali agama Allah. Ojok sepisan-pisan siro kabeh podo tarung, podo padu, bercerai-berai,” ucapnya dalam bahasa Jawa.

Mu’ti menegaskan, tafaruk itu dilarang, sementara ikhtilaf tidak bisa dihindari. “Bahkan kalau kita ikuti beberapa pendapat, ikhtilaf itu sunnatullah, tapi tafaruk itu laknatullah,” katanya. Karena itu, ia menegaskan bahwa kita harus tetap bersama-sama, kompak. ‘K’-nya: jangan konflik.

Jangan Korupsi

Mu’ti kemudian beralih pada ‘K’ kedua: jangan korupsi. “Jangan korup. Tidak berarti organisasi keagamaan itu tidak ada korupsinya. Ada juga. Kadang-kadang juga korupsi mushaf Al-Qur’an,” ujarnya yang disambut tawa hadirin.

Baca juga: Abdul Mu’ti: Kalau Ada Sekolah Muhammadiyah yang Megahi, Tolong Laporkan ke Menteri

Lah wong Al-Qur’an dikorupsi, tegone…,” sindir Mu’ti sambil menirukan potongan lagu: teganya, teganya, teganya.

Mu’ti lalu menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, Jumat, 28 November 2025: “Jangan korupsi dana pendidikan.”

Baca Juga:  Manhaj Muhammadiyah: Berakar pada Tauhid Murni, Berbuah Amal Saleh

“Sudah tahu itu dana revitalisasi untuk sekolah. Kalau ada yang kemudian tega mengorupsi itu, gimana? Tapi ada juga memang orang yang seperti itu. Ada orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ada juga orang yang suka—kalau kata Buya Syafii Maarif dulu—memancing di air keruh,” katanya.

Karena itu, Mu’ti menegaskan kembali: jangan korupsi.

Menjelaskan ‘K’ kedua ini, Mu’ti merujuk Surah Al-An’am 11 sebagai landasan larangan korupsi. “Saya pakai tafsir lain. Ini tafsir saya ini. Belum ditarjihkan,” ujarnya setengah bergurau.

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu'”.

Lalu ia menerjemahkan ayat tersebut secara bebas: “Jelajailah dunia dan kamu lihat bagaimana Allah menghancurkan bangsa-bangsa yang korupsinya merajalela.”

Mu’ti kemudian menjelaskan istilah al-mukaddibūn dalam ayat itu. Dalam usuluddin, maknanya adalah orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya—al-mukaddibīn fil ‘akīdah.

“Tapi ada juga al-mukaddibīn fil akhlāk. Bohong dalam akhlak itu seperti apa? Korupsi itu ‘kan bohong,” ujarnya.

Ia memberi contoh: “Misalnya, beli 250 dilaporkan 2.500. Tambah nol siji. Nol di depan itu tidak banyak pengaruhnya, tapi nol yang di belakang itu yang bikin penyok.”

“250 miliar ditambah nol satu di belakang, jadinya berapa? Setengah triliun. Itu sesuatu. Makanya hati-hati menaruh nol itu. Bahaya itu.”

Menurut Mu’ti, para koruptor itulah al-mukaddibun. Ia lalu menutup dengan mengutip tafsir Muhammad Asad untuk kalimat lā tufsidu fil-ardh: “Don’t make any corruption on earth.”

Mu’ti lalu masuk dengan Surah Al-Qasas 77:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ

وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Baca Juga:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak Santri Gen Z Ngaji Kata, Literasi Jadi Kunci Menjelajah Dunia

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dari ayat ini Mu’ti menjelaskan perbedaan redaksi Al-Quran antara tufsidu fil-ardh dengan tafghil fasada fil ardh. “Itu beda sekali. Kalau tufsidu fil-ardh itu mungkin tone-nya agak rendah.Jangan membuat kerusakan.’ Tapi kalau tafghil fasada fil ardh, artinya gorek-gorek ukoro, ben iso ngrusak. Itu kebangenten,” ujarnya dalam bahasa campuran Indinesia-Jawa.

Maksudnya tafghil fasada fil ardh itu mencari-cari permasalahan agar bisa merusak. Itu keterlaluan. “Kata Rhoma Irama, terlalu,” ujarnya. 

Masuk Surga Lewat Dubur Ayam

Jadi menurut tafsirnya, wala tafghil fasada fil ardh itu berarti jangan cari-cari cara atau berbagai alasan untuk membuat kerusakan di muka bumi.

“Nah karena itu maka jangan korup. Begitu Muhammadiyah itu korup, wasalam, sudahlah! Kalau yang dikorupsi itu amal usaha yang besar isek ono daginge (masih ada dagingna) lumayanlah itu. Tapi ini amal usaha cuilik (kecil sekali), menggai gitu, terus dikorupsi. Itu saya kira sudah tidak ada hatinya itu orang,” ungkapnya.

Mu’ti menyebut orang seperti itu seperti binatang ternak (an’am) yang disinyalir dalam Surah Al-A’raf 179. “Itu orang yang kulumbun layafkahu nabiha, a’yunul la yubsiruna biha, azanul lā yasmauna biha. Orang seperti itu kal-an’am, koyok wedus (seperti kambing),” ujarnya disambar tawa hadirin.

Menurut Mu’ti an’am disini bisa dimaknai kambing (wedus), sapi, atau kerbau (kebo). “Tapi bukan ayam,” katanya.

Di bagian ceramah ini dia membuat hadirin tergalak ketika dia menyebut salah satu wakil ketua PWM Jatim, Hidayatur Rahman, pengusaha ternak ayam.

“Ini beliau ini masuk surga dari dubur ayam karena banyak sedekah itu dari telur. Makin banyak telur makin banyak dedekah. Jadi masuk surga itu dari dubur ayam,” terang dia, lagi-lagi disambut tawa.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Tegaskan MBG Terintegrasi dengan Program Kemendikdasmen

“Jadi,  jangan korupsi. Supaya kita itu tetap bertahan. K-nya apa? Kredibel. Kita jaga kredibilitas, kita jaga kebersihan itu dalam pengertian government. Kita jaga. Alhamdulillah Muhamamdiyah diakui soal itu. Saya menemukan, ini bukan karena saya PP ya, belum ada organisasi Islam yang saya tahu ya, yang setertib Muhammadiyah government-nya. Itu belum ada.

Dia lalu menceritakan baru saja menantangani peratutan PP Muhammadiyah tentang bagaimana persuratan, bagaimana mengatur kop, nomor surat, dan lain-lain.

“Minggu ini saja saya menandatangani dua surat: satu sebagai menteri, satu sebagai sekum (Sekretaris Umum PP Muhammaiyah). Dua-duanya saya atur bagaimana penomoran surat itu diterapkan di dua organisasi yang berbeda. Kop-nya seperti apa, warna suratnya bagaimana, semuanya diatur,” ungkapnya

Mengapa harus seketat itu? Menurtu dia ada beberapa pertimbangan. Pertama, memang ada preseden. Misalnya screenshot kop surat. Kedua, kita berpikir untuk masa depan—jangan sampai ada masalah lagi.

Jangan Kolot

“Ketiga, jangan kolot. Kolot itu ya jumud. Muhammadiyah itu identitasnya Gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid. Harus lengkap, jangan berhenti di amar makruf nahi mungkar lalu tajdid-nya dipotong,” ujarnya.

Menurut dia itunamanya munqathi’. “Tidak boleh ngetok-ngetok atau memotong. Ada matan yang dipotong-potong sehingga hadis menjadi daif,: ujarnya

Kalau tidak ada tajdid, lanjutnya, ya selesai. Muhammadiyah akan tergilas oleh berbagai era. Karena itu, agar kita tidak kolot, kita harus kreatif. Yang sudah bagus jangan berhenti, mari terus diperbaiki.

“Karena itu, sesekali kalau saya turun, masjid-masjid yang mendapatkan penghargaan CRM Award VI 2025, saya ingin salat di sana. Betulkah masjid itu memang layak mendapat penghargaan? Termasuk masjidnya Pak Suko (Ketua PWM Jatim Sukadiono).” Gerrr tawa hadirin. (#)

Jurnalis Sugiran Penyuting Mohammad Nurfatoni