Feature

Jejak Hijau Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi Menuai Apresiasi Tokoh Lintas Agama

27
×

Jejak Hijau Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi Menuai Apresiasi Tokoh Lintas Agama

Sebarkan artikel ini
Sesi penutupan program JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi, sekaligus pelatihan pembuatan ventilasi roster dan sabun ramah lingkungan, pada 12 Juli 2025 di Balai Desa Glagahagung, Banyuwangi. (Tagar.co/Istimewa)

Tiga tahun bukan waktu sebentar. Tapi di Desa Glagahagung, kolaborasi lintas iman Eco Bhinneka Muhammadiyah telah mengubah cara warga berbicara tentang sampah, keharmonisan, dan masa depan.

Tagar.co — Di Balai Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, suasana hangat menyelimuti sesi penutupan program Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi, Sabtu 12 Juli 2025. Lebih dari sekadar akhir dari sebuah inisiatif, momen ini menjadi titik kumpul lintas iman dan generasi muda yang selama tiga tahun terakhir bergandengan tangan menjaga bumi dan membangun jembatan antar-keyakinan.

Program yang berjalan sejak 2022 ini merupakan bagian dari Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) dan dilaksanakan oleh Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah. Kolaborasi ini menempatkan pelestarian lingkungan sebagai titik temu lintas agama, melibatkan pemuda dari berbagai latar belakang dalam komunitas Anak Muda Eco Bhinneka Blambangan (Among).

“Dulu, kerja bakti di kawasan hutan itu susah sekali mengumpulkan orang lintas kelompok. Sekarang, semua datang dengan semangat yang sama,” ujar Kepala Desa Glagahagung, Mimin Budiarti. Ia menyebut bahwa warga desanya merasakan langsung dampak positif dari program ini, mulai dari pengelolaan sampah hingga kebersamaan sosial antar umat.

Baca Juga:  Aisyiyah Serukan Gerakan Sampah Tuntas: Saatnya Mengelola, Bukan Sekadar Membuang
Kepala Desa Glagahagung Mimin Budiarti saat penutupan program JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi pada 12 Juli 2025 di Balai Desa Glagahagung, Banyuwangi. (Tagar.co/Istimewa)

Di akhir program, peserta juga mengikuti pelatihan pembuatan roster ventilasi dan sabun ramah lingkungan—bentuk konkret bahwa aksi iman dan ekologi bisa bersatu dalam hal-hal sederhana, tapi bermakna.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (NA), Ariati Dina Puspitasari, menyoroti pentingnya peran perempuan muda. Lewat pendekatan Eco Family, NA mengajak perempuan jadi motor pengelolaan lingkungan dari rumah.

Baca berita terkait: Menyulap Sampah, Menyulam Kerukunan: Kolaborasi Pemuda Lintas Agama bersama Eco Bhinneka dan Nasyiah Banyuwangi

“Berkolaborasi dengan warga Glagahagung adalah pelajaran besar tentang inklusifitas. Kami belajar langsung bagaimana keberagaman bisa menjadi kekuatan,” ucapnya.

Ariati juga menyambut baik lahirnya komunitas Among sebagai ruang belajar bersama nilai keberagaman dan kepedulian lingkungan. Ia berharap pelatihan seperti ini bisa menjadi pintu masuk pemberdayaan ekonomi lokal.

Dari kanan: Hening Parlan, Ariati Dina Puspitasari, dan Desi Ratnasari saat penutupan program JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi pada 12 Juli 2025 di Balai Desa Glagahagung, Banyuwangi. (Tagar.co/Istimewa)

Direktur Program Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menggarisbawahi bahwa anak muda tidak bisa hanya berdialog di ruang seminar. “Mereka harus turun langsung, jadi contoh. Agama dan identitas sebagai warga bangsa bisa jalan bareng kalau orientasinya kemanusiaan dan lingkungan,” tegasnya.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Hening juga memperkenalkan program lanjutan bertajuk SmileStrengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism—yang akan berjalan dua tahun ke depan di Banyuwangi. Program ini akan memperkuat kepemimpinan lintas iman dalam merespons krisis iklim dengan pendekatan keadilan gender dan ekofeminisme.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyuwangi, Dr. Mukhlis Lahuddin, turut menyampaikan refleksi yang menyentuh. Ia menggambarkan konsep beragama melalui metafora “sajadah” yang semakin melebar: dari urusan pribadi, menuju urusan sosial, hingga ruang lintas batas. “Kalau beragama belum membawa kedamaian dan kebermanfaatan, mungkin belum benar-benar merasakannya,” kata Mukhlis.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyuwangi, Dr. Mukhlis Lahuddin saat penutupan program JISRA Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi pada 12 Juli 2025 di Balai Desa Glagahagung, Banyuwangi. (Tagar.co/Istimewa)

Dalam kegiatan penutupan ini, hadir pula tokoh-tokoh agama yang menyatakan dukungan penuh terhadap semangat lintas iman Eco Bhinneka. Tokoh Kristen, Wiyono, menekankan tanggung jawab bersama dalam menjaga bumi. “Kita semua menghirup oksigen yang sama. Kegiatan seperti ini harus diperluas agar bisa mencegah perpecahan di tempat lain,” ujarnya.

Senada, tokoh Katolik Widodo memuji semangat kaum muda dalam aksi lingkungan. “Kalau semua kecamatan punya program seperti ini, Dinas Lingkungan Hidup pasti sangat terbantu,” katanya.

Baca Juga:  Bangun Generasi Unggul, Salmah Orbayinah Ajak Perkuat Ukhuah dan Kolaborasi

Tokoh Buddha, Eka, menambahkan bahwa Eco Bhinneka telah membuka ruang silaturahmi baru bagi mereka yang semula merasa sungkan. “Sekarang kami merasa menjadi bagian dari gerakan ini.”

Dari kiri: Kepala UPT Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwang Amrullah; tokoh Katolik Widodo; tokoh Kristen Wiyono; dan tokoh Buddha Eka. (Tagar.co/Istimewa)

Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul aisyiyah (PWNA) Jawa Timur, Desi Ratnasari, menekankan bahwa kader NA telah menjadi eco-influencer yang strategis di keluarga dan masyarakat. “Merawat bumi itu ibadah, dan keberagaman adalah kekuatan,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Persampahan Banyuwangi, Amrullah, menegaskan bahwa Eco Bhinneka adalah mitra penting dalam upaya Pemkab mengembangkan program Banyuwangi Hijau. Ia menjelaskan bahwa saat ini daerah sedang fokus memperkuat model sampah sirkular untuk meningkatkan nilai ekonomi dari limbah rumah tangga.

Acara penutupan program Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi bukanlah akhir. Ia lebih menyerupai titik jeda—untuk melanjutkan lari maraton menjaga bumi, merawat keberagaman, dan membangun sinergi lintas batas yang semakin kokoh. (#)

Jurnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni