Telaah

Jangan Hakimi Masa Lalu Orang yang Bertobat

54
×

Jangan Hakimi Masa Lalu Orang yang Bertobat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Jangan remehkan mereka yang bertobat. Bisa jadi, di mata Allah, mereka lebih mulia dari kita yang sibuk menghakimi. Tobat adalah jalan cinta Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Bertobat adalah perjalanan suci yang penuh air mata, kerendahan hati, dan ketulusan. Tidak ada manusia yang bebas dari dosa, tetapi Allah Swt. membuka pintu ampunan bagi siapa pun yang kembali kepada-Nya.

Menghakimi masa lalu orang lain bukanlah tugas kita, karena bisa jadi mereka lebih dekat pada Allah daripada diri kita sendiri.

Baca juga: Hidup Hanya Tiga Hari: Pelajaran dari Hasan Al-Basri

Hidup manusia adalah rangkaian kisah yang tak pernah lepas dari ujian, kesalahan, dan penyesalan. Namun, di balik setiap jatuh, Allah Swt. selalu menyediakan ruang untuk bangkit.

Dalam Islam, pintu tobat tidak pernah tertutup selama nyawa belum sampai di kerongkongan dan matahari belum terbit dari barat. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menghakimi orang yang telah memutuskan kembali kepada Tuhannya.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Az-Zumar: 53)

Baca Juga:  Jika Bangsa Ini Mau Muhasabah

Ayat ini adalah pelukan kasih sayang dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang merasa terkubur dalam dosa. Pesannya jelas: tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama seorang hamba benar-benar kembali dengan hati yang tulus.

Rasulullah Saw. bersabda:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (H.R. Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bahwa tobat yang benar-benar ikhlas akan menghapus dosa seakan-akan tidak pernah terjadi. Lalu, bagaimana mungkin kita masih tega merendahkan atau memandang rendah mereka yang telah Allah sucikan hatinya?

Salah satu penyakit hati yang berbahaya adalah meremehkan seorang hamba hanya karena kita mengetahui masa lalunya. Dalam pandangan Allah, kedekatan seorang hamba bukan diukur dari masa lalunya, melainkan dari hatinya saat ini.

Bisa jadi mereka yang dulu penuh dosa kini berada di barisan orang-orang yang dicintai Allah, sementara kita terjebak dalam kesombongan yang tak kita sadari.

Rasulullah Saw. mengingatkan:


إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Sesungguhnya ada seseorang yang mengerjakan amalan ahli surga menurut pandangan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka. Dan ada seseorang yang mengerjakan amalan ahli neraka menurut pandangan manusia, padahal ia termasuk penghuni surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:  Manusia di Balik Linimasa

Hadis ini adalah tamparan keras bagi hati yang terlalu sibuk menilai orang lain. Betapa kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup seseorang, dan betapa berbahayanya merasa lebih suci dari orang yang telah Allah beri hidayah.

Kisah para sahabat Nabi Saw. menjadi pelajaran berharga. Ada yang dulunya hidup dalam kegelapan, namun setelah bertemu Islam, mereka berubah menjadi manusia mulia.

Umar bin Khattab ra., yang dulu terkenal keras dan memusuhi Islam, berubah menjadi salah satu khalifah terbaik yang membela agama ini. Kisahnya adalah bukti bahwa hidayah Allah mampu membalik hati seketika.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

Ayat ini tidak hanya menunjukkan bahwa tobat itu diperintahkan, tetapi juga menjadi jalan untuk meraih cinta Allah. Maka, orang yang bertobat adalah hamba pilihan yang dipandang istimewa oleh Rabb semesta alam.

Bahaya terbesar dari meremehkan orang yang bertobat adalah kita bisa terjatuh pada kesombongan spiritual. Ini adalah bentuk riya yang terselubung, merasa lebih baik karena amal atau karena merasa tak punya masa lalu seburuk orang lain. Padahal, bisa jadi dosa kita jauh lebih besar di sisi Allah, hanya saja kita tidak menyadarinya.

Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati sebelum ia sendiri melakukan dosa tersebut.” (H.R. Tirmidzi)

Baca Juga:  Surah Al-Waqiah Ungkap Rahasia Rezeki

Hadis ini menjadi peringatan agar kita menjaga lisan dan hati. Menghina masa lalu orang lain bukan hanya membuka aibnya, tetapi juga bisa menjadi sebab kita terjerumus pada dosa yang sama.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang telah berubah tetapi masih dipandang rendah oleh lingkungannya.

Mereka membawa luka dari masa lalu, ditambah dengan ujian berupa cibiran dan pandangan sinis. Padahal, beban yang mereka pikul sudah cukup berat tanpa kita tambahkan dengan penghakiman.

Islam mengajarkan untuk menutup aib saudara seiman. Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (H.R. Muslim)

Maka, ketika kita melihat saudara kita bertobat, sambutlah dengan doa, bukan dengan prasangka buruk. Bantu mereka menjaga istiqamah, bukan mengingatkan kembali aib yang telah mereka tinggalkan.

Karena bisa jadi, di saat kita sibuk menghakimi, mereka sedang bermunajat di sepertiga malam, memohon ampun kepada Allah dengan air mata yang tidak pernah kita lihat.

Tobat itu bukan milik orang sempurna, tetapi milik hamba yang sadar akan kesalahannya lalu kembali kepada Allah dengan hati yang remuk redam. Dan siapa tahu, di mata Allah, merekalah yang lebih mulia dari kita. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…