Opini

Inovasi: Dari Mindset Feasibility ke Customer Wants

39
×

Inovasi: Dari Mindset Feasibility ke Customer Wants

Sebarkan artikel ini
Beni Dwi Komara memberikan penjelasan tentang Inovasi di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik pada Sabtu (6/12/2025)

Perkembangan teknologi yang ditandai revolusi industri telah mengubah wajah inovasi. Tidak lagi sekadar menciptakan produk atau jasa baru, inovasi kini berfokus pada keinginan konsumen—bahkan mampu menciptakan keinginan itu sendiri. Bagaimana konsep ini berkembang?

Bagian pertama dari dua tulisan Beni Dwi Komara tentang Perkembangan Inovasi.

Tagar.co – Evolusi dalam menciptakan nilai menunjukkan pergeseran fokus inovasi: dari sekadar kemungkinan teknis (feasibility) menuju pemahaman mendalam tentang keinginan pelanggan (customer wants).

Pascap-Perang Dunia II, inovasi berlandaskan kemampuan teknologi—jika sesuatu dapat dibuat, diasumsikan akan diterima pasar. Proses inovasi mengikuti jalur linear: penelitian dan pengembangan (R&D) → produksi → pemasaran.

Baca juga: Gresik, Magnet Industri dan Lokomotif Ekonomi Jawa Timur

Keberhasilan diukur melalui keunggulan teknis dan paten, terlihat pada kemajuan di bidang kedirgantaraan, energi nuklir, dan elektronik. Pendekatan ini, yang berakar pada teori inovasi Schumpeter dan model linear Bush, menempatkan inovator sebagai pengambil keputusan utama, sementara konsumen hanya penerima pasif.

Sejak 1980-an, persaingan global dan pemahaman pasar yang lebih matang menggeser fokus ke kelayakan ekonomi. Teknologi tetap penting, namun keuntungan dan pangsa pasar menjadi tolok ukur keberhasilan.

Baca Juga:  UMG Dorong Kemandirian Desa di Dawarblandong

Teori Difusi Inovasi oleh Everett Rogers menganalisis adopsi produk baru, sementara perusahaan mengandalkan survei dan kelompok fokus. Meski konsumen mulai diperhatikan, pendekatan ini seringkali dangkal, menangkap keinginan yang terucap, bukan kebutuhan tersembunyi. Akibatnya, banyak produk teknis dan ekonomis menjanjikan gagal karena kurang memikat pengguna.

Revolusi digital dan munculnya ekonomi pengalaman di awal abad ke-21 menandai perubahan mendasar. Startup yang lincah memaksa evaluasi ulang terhadap pendekatan inovasi.

Paradigma berpusat pada manusia, dipopulerkan oleh Design Thinking dan Lean Startup, lahir sebagai respons. Di sini, pemahaman mendalam tentang kebutuhan, aspirasi, dan keinginan menjadi prioritas.

Proses inovasi dimulai dengan empati, observasi, dan pengalaman langsung untuk menangkap masalah yang mungkin belum disadari pengguna. Pertanyaan kunci bergeser dari “Bisakah kita membuatnya?” menjadi “Haruskah kita membuatnya? Apakah ini benar-benar diinginkan dan dibutuhkan?”

Kerangka Keinginan, Kemungkinan, Kelayakan yang diperkenalkan IDEO dan d.school menjadi model baru. Inovasi berkelanjutan lahir dari kombinasi ketiga elemen, namun urutan prioritasnya berbeda: kebutuhan manusia diutamakan.

Baca Juga:  Teknik Industri UMG Dorong Keberlanjutan Sarung Tenun lewat Rekayasa Cerdas

Teori ini diperkuat oleh kerangka Jobs-to-be-Done Clayton Christensen, menekankan bahwa pelanggan memakai produk untuk menyelesaikan tugas tertentu—memperhatikan aspek fungsional dan emosional.

Metode Lean Startup Eric Ries memformalkan pendekatan eksperimen “bangun-ukur-belajar” melalui Minimum Viable Product (MVP), menguji asumsi tentang keinginan dan kelayakan sebelum berinvestasi penuh dalam pengembangan teknis.

Pergeseran ini membawa implikasi luas, termasuk perubahan budaya organisasi: dari departemen terpisah ke tim lintas disiplin yang terintegrasi. Keahlian baru—riset etnografi, desain interaksi, dan pembuatan prototipe cepat—menjadi sama pentingnya dengan keahlian teknik.

Perusahaan seperti Apple dan Airbnb menjadi contoh sukses, karena mereka tidak hanya menciptakan teknologi baru, tetapi juga menyelaraskan desain menarik, teknologi andal, dan model bisnis tepat.

Dengan demikian, perkembangan teori inovasi menunjukkan penyesuaian arah: dari keyakinan pada kemampuan teknologi, melalui fokus pada pasar, hingga pemahaman bahwa inovasi yang sukses berpusat pada manusia dan pengalaman mereka. Inovasi kini dimulai dari apa yang bermakna, bukan sekadar apa yang mungkin. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni