Feature

Indonesia Emas 2045, Negeri Ini Akan Dipimpin oleh Santri

18
×

Indonesia Emas 2045, Negeri Ini Akan Dipimpin oleh Santri

Sebarkan artikel ini
K.H. Anang Rizka Masyhadi, M.A., dalam Pengajian Akbar dan Silaturahmi Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo pada Ahad, 15 Desember 2024. Indonesia Emas 2045, Negeri Ini Akan Dipimpin oleh Santri (Tagar.co/Heri Siswanto)

Pada puncak Indonesia Emas 2045, negeri ini akan dipimpin oleh santri yang lahir dari pesantren. Doa itu disampaikan K.H. Anang Rizka Masyhadi, M.A.

Tagar.co – Di tengah hiruk pikuk modernitas dan tantangan zaman yang kian kompleks, ingatan tentang peran pesantren dalam merebut kemerdekaan kembali digaungkan.

K.H. Anang Rizka Masyhadi, M.A., dalam Pengajian Akbar dan Silaturahmi Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo pada Ahad, 15 Desember 2024, mengingatkan pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga kawah candradimuka bagi para pejuang bangsa.

Kontribusi untuk Bangsa

Sejarah panjang pesantren di Nusantara, yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-17, menjadi bukti kontribusi lembaga ini bagi bangsa. Kiai Anang, dengan lugas, menggambarkan evolusi pesantren dari pengajian sederhana di rumah ulama hingga menjadi asrama yang menampung santri dari berbagai daerah, bahkan lintas pulau.

“Awalnya, hanya satu orang yang mengaji kepada ulama di tempatnya. Seiring waktu, semakin banyak yang datang, dari tetangga, desa, bahkan dari seberang pulau,” tutur Kiai Anang.

Baca Juga:  Ramadan Show Al-Fattah Sidoarjo Asah Bahasa dan Kepemimpinan Santri

“Mereka yang datang dari jauh akhirnya menginap di rumah ulama karena perjalanan yang memakan waktu. Dari situlah cikal bakal asrama seperti yang kita kenal sekarang,” tambahnya.

Momentum berkumpulnya para santri inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para kiai untuk menanamkan semangat perjuangan melawan penjajah.

Tak heran, banyak pahlawan kemerdekaan yang lahir dari kalangan santri dan ulama. Semangat jihad dan nasionalisme yang ditanamkan di pesantren menjadi bekal berharga dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah, ini menekankan pentingnya menjaga tradisi silaturahmi melalui pengajian dan pertemuan serupa.

“Dalam acara seperti ini, kita berdiri di tempat yang sama, melihat ke arah yang sama, agar pesantren bisa melewati tantangan berat dan tetap eksis,” ujarnya dengan penuh semangat.

Di tengah maraknya kasus perundungan di dunia pendidikan, pesan Kiai Anang ini menjadi relevan.

Ia mengajak para pengasuh pesantren dan wali santri untuk menyamakan persepsi tentang sistem pendidikan pesantren yang holistik, menyatukan tiga pusat pendidikan: rumah, sekolah, dan masyarakat. Sistem ini diharapkan mampu membentuk karakter santri yang kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Baca Juga:  Ponpes Al-Fattah Jadi Tuan Rumah Ramadan Ceria SD Muhammadiyah 3 Surabaya

Baca jugaPesantren: Benteng Pendidikan Karakter dan Kepemimpinan Masa Depan

Lebih jauh, Kiai Anang menatap optimis masa depan Indonesia. “InsyaAllah, pada puncak Indonesia Emas 2045, negeri ini akan dipimpin oleh santri yang lahir dari pesantren,” ujarnya, disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

Harapan ini bukan sekadar mimpi, tetapi sebuah keyakinan bahwa pendidikan pesantren mampu mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berintegritas.

Kisah tentang peran pesantren dalam melahirkan pejuang kemerdekaan adalah warisan berharga yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, nilai-nilai luhur yang diajarkan di pesantren diharapkan mampu menjadi landasan bagi pembangunan Indonesia Emas 2024 di masa mendatang. (#)

Jurnalis Heri Siswanto Penyunting Mohammad Nurfatoni