
Pesantren mengintegrasikan pendidikan di rumah, masyarakat, dan sekolah dalam satu lingkungan. Menjadi benteng pendidikan karakter dan kepemimpinan masa depan.
Tagar.co – Sebelum sekolah formal menjamur di Indonesia, pesantren telah lama menjadi fondasi pendidikan bangsa. Lembaga pendidikan Islam tradisional ini tak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter dan mental generasi penerus.
Hal ini diungkapkan oleh K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A. dalam Pengajian Akbar dan Silaturahmi 2024 Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo, Ahad, 15 Desember 2024.
Di era modern ini, sistem pendidikan pesantren mengintegrasikan pendidikan di rumah, masyarakat, dan sekolah dalam satu lingkungan.
“Konsekuensinya, semua kebutuhan santri ketika di rumah, masyarakat, dan sekolah, tersedia di pesantren. Maka wajar jika biaya yang dikeluarkan santri relatif lebih tinggi,” ujar Pengasuh Pondok Modern Tazakka Batang, Jawa Tengah ini.
Baca juga: Semarak, Pengajian Akbar dan Silaturahmi Ponpes Al-Fattah Sidoarjo
Penjelasan ini memberikan gambaran mengapa pesantren seringkali dianggap “eksklusif,” karena fasilitas dan lingkungan yang disediakan memang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran secara holistik.
Lebih dari sekadar transfer ilmu pengetahuan, pesantren menekankan pembentukan akhlak dan mental santri. Bimbingan intensif dari para ustaz dan kiai dalam kehidupan sehari-hari membentuk karakter santri yang kuat.
“Meskipun santri itu hebat dalam akademik dan psikomotoriknya, mereka tetap sopan dan hormat di hadapan guru-gurunya,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.
Kiai Anang yang tampil sederhana dengan kemeja putih serta celana dan peci hitam itu kemudian menjelaskan tiga orientasi ilmu yang diajarkan di pesantren:
- Keislaman: Santri mendalami ilmu agama secara komprehensif, mulai dari ilmu tajwid, ulumul Qur’an, ulumul Hadits, hingga fikih. Ilmu-ilmu ini menjadi landasan spiritual dan moral bagi santri.
- Keilmuan: Selain ilmu agama, santri juga mempelajari ilmu umum seperti matematika, fisika, biologi, kimia, dan geografi. Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak anti terhadap ilmu pengetahuan modern.
- Kemasyarakatan: Ilmu keislaman dan keilmuan yang diajarkan di pesantren disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masa depan. Pemilihan materi yang tepat penting karena keterbatasan waktu belajar.
“Kalau semua diajarkan dalam waktu 3 sampai 6 tahun tidak cukup, maka dipilihkan materi yang paling relevan,” tegas lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini.
Keberadaan santri di pesantren didasari oleh pengamalan Firman Allah Swt dalam Surat At-Taubah 122: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Baca juga: Ribuan Jemaah Tumpah Ruah di Pengajian Akbar Al-Fattah Sidoarjo
Menurut dia, ayat ini menekankan pentingnya sebagian umat untuk mendalami ilmu agama dan kemudian kembali ke masyarakat untuk berdakwah dan memberikan pencerahan.
“Sudah sewajarnya ada orang yang ‘nyantri’ untuk belajar agama. Kemudian pulang untuk berdakwah dan mengamalkan ilmunya di masyarakat,” tegasnya. Proses ini membentuk siklus regenerasi ulama dan pemimpin umat.
Di akhir ceramahnya, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini menyampaikan pandangannya yang visioner, “Pondok pesantren adalah tempat untuk mencetak ulama dan pemimpin umat. Sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, alumni pesantren ini akan menjadi pemimpin di berbagai bidang.”
Pernyataan ini menegaskan peran strategis pesantren dalam mempersiapkan generasi pemimpin masa depan yang berilmu, berakhlak, dan berdedikasi kepada masyarakat. (#)
Jurnalis Heri SIswanto Penyunting Mohamad Nurfatoni












