
Manuk gelatik menclok nang wit akasia
klambi batik warisan budaya Indonesia
Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan
Tagar.co – Batik yang kita kenakan hari ini bukan sekadar kain bercorak indah, melainkan simbol kearifan dan identitas bangsa.
Pakaian selalu menjadi cermin kepribadian: ia menutup aurat, memperindah penampilan, sekaligus memancarkan karakter.
Islam sendiri menegaskan pentingnya busana, bukan hanya dari sisi keindahan, tetapi juga nilai ketakwaan yang terkandung di dalamnya.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Al-A‘raf: 26)
Dalam pepatah Jawa: Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana, ajining awak saka tumindhak, lan agama agemaning diri. Kehormatan diri seseorang tergantung pada tutur kata, cara berbusana, serta tindak-tanduknya yang sesuai norma susila dan agama.
Jati Diri Bangsa
Di momen Hari Batik Nasional, 2 Oktober mari kita hayati bahwa batik adalah warisan luhur yang mengajarkan kita untuk tampil beradab, santun, dan penuh rasa bangga pada jati diri Indonesia.
Lebih dari sekadar pakaian, batik menjadi pengingat bahwa setiap busana yang kita kenakan seharusnya menuntun pada akhlak yang baik dan menumbuhkan ketakwaan.
Baca juga: Bersandar pada Allah, Hidup Penuh Berkah
Dengan kesadaran itu, mari kita tundukkan hati, memohon kepada Allah Swt. agar setiap tutur, busana, dan perilaku kita selaras dengan nilai-nilai yang diridai-Nya.
“Ya Allah, ya Rabb… Karuniakanlah kepada kami lisan yang bermakna, busana yang beretika, dan sikap yang berakhlak mulia tanpa menyakiti sesama. Amin.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












