Telaah

Hanya Kalimat Tauhid yang Bisa Menyatukan Umat Manusia

51
×

Hanya Kalimat Tauhid yang Bisa Menyatukan Umat Manusia

Sebarkan artikel ini
ilustrasi AI

Dalam dunia penuh kepentingan, hanya kalimat tauhid yang mampu menyatukan umat manusia dengan tulus—melampaui sekat suku, ras, dan ambisi duniawi.

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Di dunia yang penuh kepentingan dan ego, manusia berkumpul, berserikat, dan berkoalisi—namun sering kali bukan karena nilai yang luhur, melainkan karena kesamaan kepentingan. Ketika kepentingan itu tak lagi selaras, yang muncul bukanlah kesetiaan, melainkan pengkhianatan dan permusuhan.

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ

“Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (Al-Hasyr: 14)

Ayat ini menggambarkan sifat dasar koalisi para penentang Islam—baik pada masa lampau maupun masa kini. Dari luar tampak solid, tetapi sesungguhnya rapuh. Fondasi mereka bukanlah nilai kebenaran, melainkan kepentingan duniawi yang fana.

Baca Juga:  Dua Kebahagiaan bagi Orang yang Berpuasa

Baca juga: 12 Kata Syahr dalam Al-Qur’an dan Sejarah Lahirnya Tahun Hijriah

Sebaliknya, Allah menegaskan bahwa satu-satunya hal yang benar-benar mampu menyatukan manusia adalah kalimat tauhid, yakni pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan (ukhuwah) ini tidak dibangun atas dasar suku, ras, bangsa, atau ekonomi, melainkan di atas fondasi iman: tauhid kepada Allah Swt.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّىٰ

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya, dengan tidak bisa tidur dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Cinta dan kasih sayang di antara orang beriman lahir dari kesamaan akidah, bukan sekadar visi atau misi duniawi.

Tak heran jika sejarah mencatat, umat Islam mampu bersatu meski berbeda bangsa dan bahasa, selama mereka diikat oleh satu kalimat suci:

Baca Juga:  Lailatulqadar, Malam Kedamaian yang Mengalir hingga Fajar

لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ ٱللَّهِ

“Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Persatuan yang dibangun atas dasar kalimat tauhid bersifat langgeng dan kokoh karena:

  • Bersumber dari Rabb Yang Maha Esa,

  • Berdiri di atas keikhlasan, bukan nafsu dunia,

  • Berorientasi pada akhirat, bukan kemenangan sesaat.

Sebaliknya, jika manusia bersatu karena uang, jabatan, nasionalisme, atau sentimen sesaat, maka kesatuan itu akan cepat hancur. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ

“Dan Dia (Allah) yang menyatukan hati mereka. Sekiranya kamu membelanjakan seluruh harta yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat menyatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yang telah menyatukan mereka.” (Al-Anfal: 63)

Jangan tertipu oleh persatuan semu yang lahir dari kepentingan sempit. Satu-satunya perekat yang tidak akan retak adalah kalimat tauhid. Ia menyatukan hati, pikiran, dan perjuangan umat manusia—melampaui warna kulit, bendera, dan status sosial.

Baca Juga:  Iqra dan Arsitektur Keadilan: Meneguhkan Arah Negara dari Epistemologi Qur’ani

Tanpa tauhid, umat akan tercerai-berai. Dengan tauhid, umat akan menjadi satu barisan kokoh, sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah ﷺ:

كَالْبُنْيَانِ الْمَرْصُوصِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“(Umat yang bersatu) seperti bangunan yang tersusun rapi, yang satu menguatkan yang lainnya.” (H,R. Bukhari dan Muslim) (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…