Sejarah

Hamzah bin Abdul Muththalib, Pembela Nabi

61
×

Hamzah bin Abdul Muththalib, Pembela Nabi

Sebarkan artikel ini
Hamzah bin Abdul Muththalib adalah paman Nabi Muhammad Saw. Dia masuk Islam awalnya dipicu oleh sentimen kesukuan.
Sosok Hamzah bin Abdul Muththalib di film The Messenger diperankan Anthony Quinn.

Karena keberaniannya menghadapi orang kafir dia mendapat julukan asadullah. Singa Allah. Ikut berperang bersama Nabi Muhammad Saw, keponakannya. 

Tagar.co – Hamzah bin Abdul Muththalib adalah paman Nabi Muhammad Saw. Dia masuk Islam awalnya dipicu oleh sentimen kesukuan.

Dalam tradisi suku Arab, tiap anggota kabilah wajib melindungi orang-orangnya apalagi yang saudara dekat.

Buku Sirah Ibnu Hisyam menceritakan, ketika mendengar kemenakannya, Muhammad, dicaci maki dan diledek Abu Jahal, Hamzah langsung marah. Caci maki dan ledekan itu merendahkan martabat keluarga besarnya. Dia wajib membelanya.

Kejadian itu bermula Abu Jahal melewati Nabi Muhammad Saw di kaki Bukit Shafa. la mengganggu, mencaci maki, dan melampiaskan dendamnya kepada Nabi karena dianggap menghina agama nenek moyang.

Nabi Muhammad tidak merespon. Dibiarkan Abu Jahal berkata semaunya. Sikap diam itu makin membuat Abu Jahal jengkel dan menjadi-jadi marahnya hingga keluar caci maki yang kasar dan merendahkan.

Usai marah-marah Abu Jahal meninggalkan Nabi lalu pergi ke teman-temannya di Balai Kota, Darun Nadwah, dekat Kakbah. Dia lantas ngobrol dengan mereka. Nabi pun pulang ke rumahnya.

Ternyata caci maki Abu Jahal itu dilihat dan didengar oleh seorang wanita bekas budak Abdullah bin Jud’an yang sedang berada di rumahnya.

Kemudian dia melihat Hamzah bin Abdul Muththalib melewati rumahnya habis pulang berburu. Diceritakanlah kejadian yang didengarnya tadi.

Baca Juga:  Puasa dan Perang: Membaca Teks, Memahami Konteks

Wanita itu berkata kepada Hamzah,”Ya Abu Umarah, seandainya saja tadi kamu melihat apa yang diperbuat Abu Jahal terhadap keponakanmu, Muhammad. Abu Jahal tadi mengganggu, mencaci-maki, dan berlaku tak menyenangkan. Tapi Muhammad tidak menyahut omongannya sedikitpun.”

Abu Jahal Babak Belur

Mendengar cerita itu, Hamzah naik pitam. Ia segera mencari Abu Jahal tanpa menggubris orang-orang lain yang dilewatinya. Ia bersumpah bikin perhitungan.

Hamzah punya kebiasaan saat pulang berburu, ia lebih dahulu tawaf di Ka’bah. Usai tawaf, berjalan melewati Balai Kota menyapa orang-orang yang berkumpul di situ.

Hari itu lain dari kebiasaannya. Ia masuk Masjidil Haram. Melihat Abu Jahal sedang duduk bersama orang-orang Quraisy. Ia berjalan ke arahnya. Ketika sudah berada di depannya, mengangkat pedangnya kemudian menghajar Abu Jahal hingga luka parah.

Ia berkata,”Apakah kamu mencaci-maki keponakanku, padahal aku seagama dengannya, dan aku berkata seperti yang ia katakan? Silakan balas, jika kamu sanggup.”

Beberapa orang dari Bani Makhzum menolong Abu Jahal. Tapi Abu Jahal berkata,”Biarkan dia. Demi Allah, aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk.”

Sejak peristiwa itu Hamzah mengumumkan dirinya masuk Islam dan mengikuti ucapan keponakannya.

Orang-orang Quraisy heboh. Mereka sadar, kelompok Muhammad makin kuat pelindungnya. Gangguan kepada Nabi mulai berkurang karena takut dengan Hamzah.

Baca Juga:  Menimba Spirit Perjuangan di Masjid Quba dan Jabal Uhud

Karena keberaniannya ini Hamzah mendapat julukan asadullah. Singa Allah.

Perang Badar

Saat perang Badar terjadi pada 17 Ramadan Tahun 2 Hijriyah atau 13 Maret 624 M, jumlah pasukan muslim 313 orang. Pasukan Makkah 1.000 orang.

Ketika dua pasukan berhadapan, dibuka dengan tantangan duel. Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi dari pasukan Makkah maju menantang duel.

Tantangan itu disambut Hamzah bin Abdul Muththalib. Saat keduanya bertemu di arena, Hamzah langsung memukul Aswad dengan pedang. Aswad oleng. Dengan cepat Hamzah menebas kakinya hingga tersungkur.

Aswad merayap berusaha menghindar, Hamzah langsung mengakhiri dengan tusukan pedang.

Melihat jagoannya kalah, pasukan Makkah panas. Sesepuh Utbah bin Rabi’ah maju. Diikuti saudaranya, Syaibah bin Rabi’ah, dan anaknya, Walid bin Utbah.

Tantangan itu dijawab tiga pemuda Ansar. Auf bin Harts, Muawwidz bin Harts, dan Abdullah bin Rawahah menghadapi mereka.

Tapi Utbah menolak mereka. ”Siapa kalian? Kami tidak punya urusan dengan kalian. Kami ingin duel dengan kaum kami. Hai Muhammad, keluarkan yang sepadan dengan kami.”

Rasulullah lalu meminta Ubaidah bin Harits, Hamzah, dan Ali bin Abu Thalib maju.

Utbah berseru,”Nah, kalian orang-orang yang sepadan dengan kami.”

Ubaidah duel melawan Utbah. Hamzah melawan Syaibah. Ali berhadapan dengan Walid.

Pertarungan terjadi. Hamzah langsung membabat Syaibah. Ali juga mengalahkan Walid. Sedang Ubaidah dan Utbah masih saling baku pukul meski berdarah-darah.

Baca Juga:  Menimba Spirit Perjuangan di Masjid Quba dan Jabal Uhud

Hamzah dan Ali menuju ke Utbah langsung menyabetkan pedangnya. Utbah tewas. Ubaidah juga roboh dengan luka parah yang akhirnya meninggal.

Perang Uhud

Ketika perang Uhud terjadi, Hamzah juga maju menebas musuh. Dia menghadapi musuh dengan garang. Pedangnya menyabet membunuh lawannya, seperti Artha bin Abdul Syurahbil dan beberapa orang pemuka Quraisy lainnya.

Saat perang berkecamuk Wahsyi, budak Jubair bin Muth’im, mencari Hamzah. Dia melihat Hamzah berhadapan dengan Siba bin Abdul Uzza. Wahsyi mengayun-ayunkan tombaknya membidik Hamzah.

Begitu Hamzah merobohkan Siba, Wahsyi langsung melemparkan tombaknya.Tepat mengenai perut bawah Hamzah. Darah mengucur. Hamzah berbalik menghadapi Wahsyi. Tapi dia kesakitan. Tubuhnya yang melemah. Kehilangan banyak darah. Tangannya lemas memegang pedang.

Akhirnya Hamzah roboh. Wahsyi menghampiri lalu mencabut tombak. Lalu pergi ke pinggir arena perang. Tugasnya hanya membunuh Hamzah untuk menebus kemerdekaannya.

Ini sesuai perjanjian Wahsyi dengan majikannya, Jubair bin Muth’im, yang menjanjikan kebebasannya. Jubair punya dendam dengan Hamzah karena membunuh ayahnya saat perang Badar.

Di akhir pertempuran Uhud, Hindun mendatangi jasad Hamzah. Dia belah dadanya. Dia ambil jantungnya. Lalu menggigitnya berkali-kali sebagai balas dendam atas kematian bapaknya, Utbah bin Rabi’ah, di Perang Badar. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto