
Muhammadiyah Depok tengah berbahagia dengan suksesnya Groundbreaking SD Muhammadiyah Salman Al Farisi. Kegiatan ini dihadiri Ketua PP Muhammadiyah, Rektor UMJ, Ketua DPP IMM, hingga Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor.
Tagar.co – Langit Kota Depok pada Ahad (9/2/2025) pagi itu tampak kelabu. Hujan sejak Sabtu (8/2/2025) malam hingga Ahad pagi, membuat kebanyakan insan ingin kembali menarik selimut tebal.
Hari itu mestinya lebih enak berlama-lama menikmati akhir pekan di dalam kamar. Tapi tidak dengan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah Limo, Cinere, Depok, Jawa Barat.
Ahad, (9/2/2025) atau bertepatan dengan 10 Syakban 1446 H, menjadi momen bersejarah bagi warga Muhammadiyah dan Aisyiyah Limo, Cinere. Pasalnya, hari itu dilaksanakan groundbreaking sekolah Muhammadiyah Salman Al Farisi yang beralamat di Jalan Rotan, RT 002 RW 001 Kecamatan Limo, Cinere, Depok.
Hadir dalam acara ini Ketua PP Muhammadiyah, Dr. H. Anwar Abbas, MM. M.Ag, Anggota Dewan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ubaidillah, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof. Dr. Ma’mun Murod Al Barbasyi, dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Depok Ali Wartadinata,
Ada juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2012-2014, Jihadul Mubarok, M.H., Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Limo, Cinere, Giman Muslih Amrullah. Sementara lebih mengharukan lagi, kegiatan ini juga dihadiri Ketua Umum GP Ansor periode 2024-2029, Dr. Addin Jauharuddin.
Sebanyak 250 warga Muhammadiyah dan Aisyiyah Limo Cinere tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Acara semakin semarak dengan penampilan dan atraksi siswa-siswi SD Muhammadiyah 4 Meruyung, Limo, Depok.
Sekolah Muhammadiyah untuk Semua
Dalam sambutannya, Ketua PCM Limo, Giman Muslih Amrullah menyampaikan, SD Muhammadiyah Salman Al Farisi ini dibangun di atas lahan seluas 1000 m2 yang merupakan tanah wakaf dari Bapak Novi Sugianto.
“Saat ini, Muhammadiyah Limo Cinere merasakan kegembiraan sekaligus kesedihan. Gembira karena mendapatkan tanah wakaf seluas 1000 m2, yang jika dinominalkan jumlahnya sangat fantastis, yakni sekitar 4 milyar,” katanya berapi-api.
“Namun juga bersedih, karena untuk membangun gedung sekolah, membutuhkan dana sebesar sekitar 6 milyar. Sementara dana yang ada baru sekitar 200 juta,” imbuh Giman.
Lantas, sambutan dari Giman tersebut dibalas ungkapan optimis dari Ketua PDM Kota Depok, Ali Wartadinata. Ia mengutip ayat Al-Qur’an “Laa Tahzan, Innallaha Ma’anaa. Janganlah bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita,” ucapnya optimis.
“Bagi Muhammadiyah, dana 6 milyar bukanlah hal yang sulit jika dipikirkan bersama-sama,” tandas Ali Wartadinata.
Ia juga berpesan, agar sekolah Muhammadiyah jangan menjadi sekolah yang eksklusif, tapi harus inklusif. “Karena itu, jika ada saudara kita dari Nahdlatul Ulama, atau bahkan non muslim seperti Kristen, Hindu, Budha dan sebagainya, yang ingin bersekolah di sini, jangan sampai ditolak. Karena sekolah Muhammadiyah untuk semua kalangan,” tegasnya.

Dihadiri Ketua Umum GP Ansor
Acara groundbreaking semakin menarik karena dihadiri Ketua Umum GP Anshar dan juga Banser. Kerukunan dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini pun sangat terasa di kegiatan ini.
Ketua GP Anshar, Addin Jauharudiin menyampaikan sambutannya, bahwa K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan K.H. Hasyim Asyari pendiri Nahdhatul Ulama, dahulu belajar ilmu agama pada guru yang sama, yaitu Kiai Saleh Darat.
“Karena itu, sebagai anak cucu dari kedua ulama tersebut, hendaknya kita bisa meneruskan kebersamaan itu. Sebagai warga Ansor, kami akan turut membantu mensukseskan pembangunan SD Muhammadiyah Salman Al Farisi ini,” ucapnya tanpa basa-basi.
Senada dengan Addin, Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas juga menyampaikan pesan dengan mengutip al-Quran Surat Ali Imron ayat 103. “Hendaklah kamu berpegang teguh kepada tali agama Allah dan janganlah kamu saling bercerai berai,” ungkapnya.
Buya Anwar -sapaan akrabnya- menyampaikan, suatu saat nanti umat Islam akan kembali memimpin dunia seperti masa kejayaan islam kala itu. “Maka jagalah ukhuwah islamiyah antar warga Muhammadiyah dan Nahdlatul
Ulama,” tegasnya.
Di tengah sambutan, Buya tiba-tiba meminta Addin Jauharuddin yang merupakan Ketua Umum PB PMII periode 2011-2013 dan Jihadul Mubarok Ketua Umum DPP IMM periode 2012-2014 untuk naik ke panggung, disusul para Banser dan Kokam. Suasana kerukunan dan keakraban antar dua ormas besar di Indonesia ini semakin terasa.
Addin dan Jihad memang bersahabat sejak masih sama-sama menjabat sebagai Ketua Umum di organisasi kepemudaan. Keakraban keduanya mengantarkan mereka menjadi tetangga hingga hari ini. Mereka berdua adalah sosok yang perlu dicontoh. Meskipun aktif di organisasi yang berbeda, tetapi tidak menjadikan keduanya berjarak. Justru sebaliknya.
Kisah Spiritual tentang Sedekah
Usai meminta Addin dan Jihad naik panggung, Buya lantas menceritakan kisah spiritualnya tentang sedekah. Pada suatu momen, ia ingin sekali membantu biaya pendidikan seorang mahasiswi. Tetapi terjadi tarik ulur dalam hatinya, antara mau membantu dan tidak. Akhirnya ia kuatkan tekad membantu dan mengirimkan sejumlah uang ke rekening mahasiswa tersebut.
“Masya Allah, ini benar-benar keajaiban. Selang 30 menit kemudian ada yang mentransfer ke rekening saya dengan jumlah berlipat-lipat dari uang yang saya transfer ke mahasiswa itu,” tuturnya.
Menurut Buya, kejadian serupa sering kali terjadi. “Sehingga dari kisah spiritual tersebut, hendaknya bisa kita jadikan spirit untuk bersedekah, bahwa uang yang kita sedekahkan kepada orang lain itu tidak akan habis, bahkan akan ditambah oleh Allah dengan jumlah yang berlipat-lipat,” tandas Wakil Ketua MUI ini.
Di akhir sambutan, Buya berpesan agar semua pihak bisa bahu-membahu dan bekerjasama dalam mensukseskan pembangunan SD Muhammadiyah Salman Al Farisi ini. “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang,” ujarnya.
Sebelum menutup sambutan, ia meminta hadirin untuk mengartikan pepatah itu. Dini, Kepala Sekolah ABA 29 Depok, berhasil menjawab pertanyaan tersebut. Maka Buya pun tidak segan-segan mengeluarkan uang kertas dan memberikannya kepada Dini. (#)
Jurnalis Nashihatud Diniyah Jahro Penyunting Nely Izzatul











