
Di Pesanggrahan Menumbing Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Sukarno pernah diasingkan. Berkunjung ke sana seperti bertemu sang Proklamator Kemerdekaan RI itu.
Oleh Abdul Rahem, Ketua Pusat Halal Universitas Airlangga
Tagar.co – Pada tanggal 14–18 Juni 2022, saya mendapatkan tugas dari Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih untuk menghadiri Kongres Halal Internasional di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
Saya berangkat pada tanggal 13 Juni 2022 pukul 08.35 dari Bandara Juanda Surabaya menuju Bandara Depati Amir Pangkal Pinang, transit Jakarta.
Setelah penerbangan kurang lebih satu jam dari Jakarta, mulai terlihat daratan pertanda pesawat terbang rendah persiapan untuk mendarat di Pangkal Pinang.
Dari atas pesawat tampak danau–danau kecil di mana-mana. Dalam hati saya bertanya-tanya, danau apa itu? Apakah Bangka Belitung merupakan pulau 1000 danau?
Sesampai di Pangkal Pinang saya bertanya kepada warga setempat. Ternyata danau itu merupakan bekas galian penambangan timah yang tidak ditutup kembali. Akibatnya, menjadi danau-danau kecil.
Beberapa perwakilan dari berbagai negara yang telah ditentukan sebelumnya memaparkan situasi dan kondisi gerakan dan kebijakan halal di negara masing-masing.
Selain diskusi forum, ada kegiatan sampingan yang dipersiapkan oleh panitia yaitu berkunjung ke beberapa tempat bersejarah termasuk juga pada pusat-pusat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar Kota Pangkal Pinang.

Pengalaman Tak Terlupakan
Di sela kesibukan kongres, say memanfaatkan waktu berkeliling. Pergi sendirian, di sekitar kota tersebut termasuk masjid-masjid. Ini, seperti yang biasa saya lakukan kalau pergi ke daerah lain.
Selain itu saya merasa ada satu kesempatan berharga yang sayang untuk dilewatkan yaitu mengunjungi Pesanggrahan Menumbing. Tempat ini, sarat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sementara, dalam agenda kunjungan yang dipersiapkan oleh panitia tempat ini luput dari rencana.
Pada tanggal 17 Juni 2022 di sela kongres, saya luangkan waktu sehari untuk keluar dari arena acara. Saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Pesanggrahan Menumbing yang terletak di Bukit Menumbing, Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung.
Saya berangkat dari Pangkal Pinang pukul 06.00 WIB ditemani seorang sopir bantuan dari sejawat apoteker di Pangkal Pinang. Diantar sampai di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat, karena di tempat itu saya sudah ditunggu oleh sejawat Apoteker Ilyas, Sekretaris Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Bangka Belitung ketika itu.
Perjalanan menuju ke Pesanggrahan Menumbing cukup menguji ketahanan fisik, karena medan yang harus ditempuh cukup menantang. Jalanan berkelok dan terjal. Juga, jalanan sepi tidak seperti jalanan di Jawa Timur. Hanya beberapa mobil saja yang berpapasan dengan mobil yang saya tumpangi.
Di kanan dan kiri sepanjang jalan masih jarang terlihat perkampungan. Tampak hutan-hutan yang penuh dengan tanaman besar. Hanya sesekali melihat kebun jeruk dan kelapa sawit. Keindahan alam semakin terasa kental saat mendekati lokasi, membuat segala usaha yang saya lakukan menuju tempat itu terasa sepadan.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga jam, saya sampai di Pesanggrahan Menumbing yang terletak di atas tebing-tebing yang curam di Bukit Menumbing.
Sesampainya di pesanggrahan, saya disambut oleh udara segar (cenderung dingin) yang begitu berbeda dengan hiruk-pikuk Kota Pangkal Pinang.
Suasana di sini terasa tenang dan damai, dikelilingi oleh pepohonan hijau yang rimbun dan bukit-bukit yang menjulang tinggi. Ini, menciptakan nuansa alam yang begitu asri. Pesanggrahan Menumbing, meski sederhana, menyimpan kedalaman sejarah yang luar biasa. Di tempat inilah, pada masa penjajahan Belanda, Presiden Sukarno dan beberapa tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya diasingkan.
Sambil menikmati karunia Allah yang tiada tara, yaitu pemandangan alam sekitar yang sangat indah dan menakjubkan, saya tak bisa menahan perasaan haru dan kagum. Betapa beratnya ujian yang harus dijalani oleh para pemimpin kita ketika itu, yang terkurung di tempat yang begitu sunyi dan terisolasi, jauh dari rakyat dan perjuangan yang sedang berlangsung di seluruh Indonesia.
Saya membayangkan bagaimana Sukarno, yang berada di sini dalam pengasingan, mungkin melihat ke kejauhan, memandang Selat Sunda yang terlihat di ujung horizon, sebuah gambaran tentang dunia yang jauh namun penuh harapan.
Betapa menyedihkan membayangkan rakyatnya sedang merindukan pemimpin perjuangan kemerdekaan sementara dirinya terkurung dalam kesunyian ini.
Keindahan alam sekitar Pesanggrahan Menumbing seakan menjadi paradoks: tempat yang penuh kedamaian ini adalah saksi dari kejamnya pengasingan yang menimpa para tokoh bangsa.

Menunduk!
Kini, Pesanggrahan Menumbing bukan sekadar tempat bersejarah, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang mengajak setiap pengunjungnya untuk mengenang, merenung, dan menghargai perjuangan para pahlawan bangsa.
Ketika saya menginjakkan kaki di Pesanggrahan Menumbing, saya merasa seperti diajak untuk meresapi kembali betapa beratnya perjuangan para tokoh bangsa di masa lalu.
Tempat yang terlihat begitu damai ini, dengan pemandangan alam yang hijau dan sejuk, menyimpan cerita kelam tentang pengasingan, penderitaan, dan ketidakadilan. Setiap sudut pesanggrahan ini seperti berbicara tentang betapa kejamnya Belanda memperlakukan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia.
Bagaimana mungkin seorang pemimpin besar seperti Sukarno, yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan, harus dipaksa tinggal di tempat yang jauh dari kehidupan normal dan jauh dari orang-orang yang membutuhkannya? Terisolasi, tanpa kebebasan berbicara, tanpa kemampuan untuk berinteraksi dengan rakyat.
Setelah mengunjungi Pesanggrahan Menumbing, saya merasa sangat kecil, tetapi sekaligus sangat beruntung bisa hidup di era yang lebih bebas, di mana perjuangan para pemimpin besar seperti Soekarno akhirnya membuahkan hasil.
Di tempat yang penuh keindahan ini, saya merasa bahwa keindahan alamnya hanyalah latar belakang bagi cerita besar tentang kekuatan, penderitaan, dan pengorbanan yang tak terhitung harganya. Sebuah pelajaran tentang betapa mahalnya kemerdekaan dan betapa kejamnya sejarah yang harus dilalui untuk meraihnya.

Tetap Berjuang
Setelah turun dari Pesanggrahan Menumbing, saya sempatkan mampir di pengasingan yang lain, Pesanggrahan BTW di Desa Muntok. Ke tempat ini Presiden Soekarno dipindahkan setelah merasa tidak tahan hawa dingin di Pesanggrahan Menumbing menurut informasi dari petugas di sana.
Di tempat ini pula Sukarno bekerja, mengatur strategi dan mengadakan rapat dengan para tokoh bangsa yang lain. Tampak masih terawat ruang kerja dan kamar peristirahatan para tokoh di pesanggrahan ini.
Banyak cerita yang disampaikan oleh penjaga sekaligus petugas di tempat bersejarah ini. Tentu informasi yang diberikan dan gambaran suasana dari petugas merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi saya. (#)












