Telaah

Detik-Detik Terakhir Ramadan: Apa yang Kita Rasakan?

41
×

Detik-Detik Terakhir Ramadan: Apa yang Kita Rasakan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Detik-detik terakhir Ramadan menyapa—hati haru, jiwa rindu. Sudahkah kita merasakan rohnya, atau justru tenggelam dalam euforia Lebaran? Saatnya merenung, sebelum terlambat.

Kajian Ramadan bersama Ketua ICMI (Seri 32): Iktikaf Bertenda: Kreativitas di Penghujung Ramadan

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur; Ketua Litbang DPP Amphuri, Pembina Yayasan Masjid Subulus Salam GWA Sidoarjo; dan Akademisi Universitas Dr. Soetomo Surabaya.

Tagar.co – Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan, rahmat, dan magfirah. Sebagai umat Islam, kita telah menjalani hampir seluruh bulan ini dengan penuh pengabdian, berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui puasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, serta berbagai amalan lainnya.

Kini kita berada di detik-detik terakhir Ramadan. Hari ini merupakan hari ke-28, dan nanti malam adalah malam ke-29—malam ganjil terakhir dalam Ramadan tahun ini. Apa yang Anda rasakan saat ini? Dan apa yang akan kita lakukan dalam sisa waktu yang begitu berharga ini?

Saatnya Refleksi Diri

Di sepuluh malam terakhir Ramadan—terlebih kini hanya tersisa dua hari—umat Islam diajak untuk terus mencari Lailatulqadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Ini adalah momentum sangat berharga untuk memperbanyak ibadah dan doa. Setiap detik yang tersisa adalah kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan.

Baca Juga:  Ramadan di Tanah Suci: Saat Cuaca Bersahabat dan Panggilan Ibadah kian Dekat

Menjelang akhir Ramadan, mari kita melakukan refleksi diri:

  • Apakah puasa kita kali ini membawa perubahan yang signifikan?
  • Apakah salat malam kita semakin khusyuk?
  • Apakah kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya?

Ramadan seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga proses pembelajaran spiritual yang membentuk kita menjadi insan yang lebih taat, sabar, dan penuh kasih sayang. Bulan ini mengajarkan kita disiplin, pengendalian diri, dan terutama ketundukan kepada Allah Swt.

Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita memperbaiki kualitas ibadah kita sepanjang bulan ini?
Jika iya, semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita insan yang lebih baik setelahnya.

Harapan dan Doa untuk Tahun Depan

Menjelang kepergian Ramadan, hati kita dipenuhi haru. Kita harus menyadari bahwa Ramadan tahun ini bisa jadi adalah yang terakhir bagi sebagian dari kita. Maka, segeralah bertobat dan memohon ampun kepada Allah atas segala kekurangan dan kesalahan selama Ramadan ini. Jangan biarkan bulan mulia ini berlalu tanpa bekas yang mendalam di hati dan kehidupan kita.

Namun, kita juga harus tetap optimistis dan penuh harapan agar bisa berjumpa kembali dengan Ramadan di tahun depan, jika Allah mengizinkan. Jangan lupa untuk berdoa agar kita diberi kekuatan iman dan kesempatan untuk mengisi Ramadan mendatang dengan amalan yang lebih berkualitas.

Baca Juga:  Viral WNI Berjilbab Jadi Tentara Amerika, Fenomena Apa?

Kesempatan yang Tak Boleh Disia-siakan

Ramadan adalah bulan kesempatan. Detik-detik terakhir ini adalah momen untuk memperbanyak amal saleh, memperbanyak doa, dan memperbanyak istigfar. Jangan menunggu waktu yang “lebih baik” dari sekarang, karena siapa tahu, kita tak akan mendapat kesempatan yang sama esok hari.

Mari kita berdoa agar Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima segala amal ibadah kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan yang penuh berkah di tahun mendatang.

Saatnya kita menutup bulan suci ini dengan penuh syukur. Terlepas dari segala kekurangan dalam beribadah, kita patut bersyukur atas nikmat kesehatan, waktu, dan kesempatan yang telah diberikan Allah selama Ramadan.

Ketika Ramadan berakhir, semoga kita menghadapinya dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh harapan—agar amal kita diterima dan kita dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya.

Penutup: Fokus hingga Akhir

Ramadan akan segera berakhir. Maka, mari kita manfaatkan sisa waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan kesempatan ini tanpa memetik segala kebaikan yang terkandung di dalamnya.

Malam ganjil hanya tersisa satu, yaitu malam ini. Mari kita maksimalkan untuk beribadah. Waspadai bisikan hawa nafsu yang mengajak kita lebih sibuk dengan urusan selain ibadah—entah itu persiapan lebaran, mudik, atau hal lain. Tetaplah istiqamah. Fokus. Fokus. Dan fokus untuk mengoptimalkan ibadah serta amal saleh di detik-detik terakhir Ramadan ini.

Baca Juga:  Dari Gaza ke Teheran: Sumbu Perlawanan terhadap Kolonialisme Modern

Mari kita saling mendukung dan mendoakan agar kita sukses menunaikan Ramadan tahun ini.

Dan, satu hal yang sangat penting: jangan lupa menunaikan zakat fitrah. Bayarlah zakat fitrah selagi masih ada waktu. Jangan sampai terlewat, karena waktu pembayaran zakat fitrah akan habis ketika salat Idulfitri didirikan.

Batas waktu pembayaran zakat fitrah, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad Saw., adalah sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Hal ini agar zakat benar-benar sampai kepada penerimanya dan menyempurnakan ibadah puasa kita.

Dari Ibnu Umar Ra., ia berkata: “Rasulullah Saw. mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dari perkataan dan perbuatan kotor, serta untuk memberi makan kepada orang miskin. Zakat fitrah itu wajib dibayarkan sebelum orang-orang keluar untuk salat Idulfitri.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maka, sebaiknya zakat fitrah dibayarkan sehari atau dua hari sebelum hari H, agar penerima zakat dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan Idulfitri.

Semoga Allah menerima seluruh amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan yang penuh berkah. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni