
Dari aktivitas sederhana dengan kertas hingga menyelesaikan masalah riil seperti beban kerja Pak Bon, guru-guru Muhammadiyah di Bawean belajar STEM untuk menghadirkan solusi nyata di ruang-ruang kelas mereka.
Tagar.co – Hujan deras sejak Subuh tak menyurutkan semangat para guru Muhammadiyah di Pulau Bawean untuk hadir di Aula lantai 3 SD Muhammadiyah 1 Bawean (SD Mutu). Sabtu pagi (12/07/2025) itu, mereka mengikuti diklat bertema pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dengan pendekatan mendalam.
Kegiatan ini dipandu oleh Zaki Abdul Wahid, S.T., M.Pd., guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, yang juga berkolaborasi menyampaikan materi bersama Ria Pusvita Sari, M.Pd., seorang guru yang telah mengantongi sertifikasi STEM tingkat internasional.
Baca juga: Guru Muhammadiyah Bawean Belajar Koding dan AI: Menyongsong Generasi Alpha
Ustazah Vita, sapaannya, membuka sesi dengan memberi apresiasi kepada para guru yang datang tepat waktu. “Terima kasih kepada Bapak-Ibu yang datang lebih awal. Ini yang harus kita biasakan. Ini merupakan salah satu ciri sekolah yang unggul dan maju,” ujar Kepala SDMM tahun 2021-2025 itu.
Ia mencontohkan budaya disiplin di SDMM, tempatnya mengabdi, di mana guru yang dijadwalkan mengajar pukul 07:00 WIB sudah hadir sejak pukul 06:00 WIB untuk presensi dan persiapan mengajar. Kebiasaan ini, menurutnya, menjadi salah satu kunci agar pembelajaran tidak berlangsung monoton.
Ia menambahkan, budaya ini juga diterapkan di sekolah-sekolah maju di Amerika Serikat, sebagaimana ia pelajari saat mengikuti program sertifikasi STEM bertaraf internasional di Surabaya. Program itu diselenggarakan oleh Akademisi Lesson Study Indonesia (ALSI) dan Perkumpulan Penggiat STEM Indonesia (PPSTEMI), dan telah terakreditasi STEM.org Accredited Educational Experience, Amerika Serikat.
Dari 12 peserta yang mengikuti program itu, hanya dua guru yang berhasil lulus—salah satunya dirinya. “Kami tidak mengandalkan kecerdasan buatan, tapi justru pengalaman langsung di lapangan untuk membuat proyek STEM,” jelasnya.
Taksonomi SOLO
Dalam sesi berikutnya, dia memperkenalkan konsep pembelajaran mendalam yang dinilainya sangat penting untuk menunjang proyek-proyek berbasis STEM maupun non-STEM. Ia mengangkat pendekatan Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) sebagai alternatif dari Taksonomi Bloom yang selama ini umum digunakan.
Menurutnya, taksonomi SOLO lebih relevan dalam menilai proses berpikir siswa secara bertahap dan progresif. Ia menjelaskan lima tingkat dalam Taksonomi SOLO:
-
Prastruktural
Siswa belum mengetahui sama sekali materi yang akan dipelajari. Pengetahuannya masih kosong atau tidak relevan. -
Unistruktural
Siswa mulai mengenali satu aspek dari materi, tetapi pemahamannya masih terbatas dan belum menyeluruh. -
Multistruktural
Pemahaman siswa mencakup beberapa aspek dari materi, namun masih berupa informasi yang terpisah-pisah dan belum saling terhubung. -
Relasional
Siswa mampu mengaitkan berbagai informasi menjadi satu kesatuan yang utuh dan dapat mengaplikasikan pemahamannya ke dalam konteks lain. -
Berpikir Abstrak yang Mendalam (Extended Abstract)
Siswa mampu merefleksi, membuat generalisasi, bahkan mengembangkan pemikiran atau gagasan baru berdasarkan pembelajaran yang telah ia peroleh.

Setelah menjelaskan teori, Ustazah Vita langsung mengajak peserta mempraktikkan pendekatan ini secara konkret. Ia berdiri di depan kelas sambil memegang sepotong kertas segitiga berwarna hijau cerah. “Nah, ini contoh potongan bangun datar yang akan kita gunakan. Kita akan bermain logika dan pengamatan,” katanya sembari mengangkat kertas dan menunjukkan ke seluruh peserta.
Ustazah Vita lalu membagikan tugas: peserta diminta memotong satu kertas persegi menjadi delapan bagian kecil berupa segitiga dan persegi, lalu menyusun ulang potongan-potongan itu menjadi berbagai bentuk bangun datar.
Para peserta kemudian diminta menyebutkan nama bentuk, membandingkan posisi potongan, serta mengidentifikasi warna dan pola yang muncul. Aktivitas ini, menurut Vita, melatih semua tingkatan berpikir dalam Taksonomi SOLO secara menyenangkan dan kolaboratif.
Solusi Pak Bon
Selanjutnya, Vita menampilkan contoh rencana pembelajaran STEM yang ia gunakan saat mengikuti sertifikasi. Ia mengangkat studi kasus dari SDMM, yakni bagaimana membantu Pak Bon, petugas kebersihan sekolah yang kewalahan membersihkan dan menyiram taman di gedung empat lantai sendirian. Belum adanya tambahan tenaga membuat situasi itu menjadi tantangan riil.
Menggunakan metode design thinking, Vita melibatkan siswa untuk memahami masalah (empathize), merumuskan (define), mencari ide (ideate), membuat prototipe (prototype), lalu menguji dan mengimplementasikan solusi.
Salah satu siswa dengan minat di bidang robotik menunjukkan rancangan alat bantu yang kemudian dikembangkan menjadi prototipe bersama tim. “Saya langsung tunjuk dia jadi ketua tim. Kami uji coba, dan alat itu benar-benar membantu Pak Bon,” ujarnya bangga.
Menutup sesi, Vita menyampaikan harapannya agar para guru Muhammadiyah Bawean bisa menghasilkan proyek serupa di kelas masing-masing. Bahkan, ia berencana mengajukan program Festival STEM ke Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik.
“Jika nanti setiap kelas di sekolah Muhammadiyah Bawean bisa membuat proyek STEM, saya bisa ajukan itu ke dinas. Festival bisa diadakan di mal dan menampilkan karya sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik. Dari situ branding sekolah Muhammadiyah Bawean akan muncul. Orang akan tahu: ‘Oh, ini loh sekolah Muhammadiyah Bawean, mampu mengikuti perkembangan design thinking dan STEM,’” ujarnya. (#)
Jurnalis Sawaluddin Eka Saputra Penyunting Mohammad Nurfatoni












