Feature

Guru Muhammadiyah Bawean Belajar Koding dan AI: Menyongsong Generasi Alpha

20
×

Guru Muhammadiyah Bawean Belajar Koding dan AI: Menyongsong Generasi Alpha

Sebarkan artikel ini
Suasana diklat koding dan kecerdasan buatan (Tagar.co/Sawaluddin Eka Saputra)

Aula SD Muhammadiyah 1 Bawean tak biasa. Para guru menjadi murid, belajar koding dan kecerdasan buatan demi mencerdaskan generasi Alpha lewat metode pembelajaran yang adaptif dan menyenangkan.

Tagar.co – Udara sejuk khas Bawean bersanding kontras dengan hangatnya semangat para guru Muhammadiyah yang memenuhi Aula SD Muhammadiyah 1 (Mutu) Bawean, Kabupaten Gresik, pada Jumat pagi (11/7/2025). Di ruang itu, suasana pembelajaran tampak hidup.

Bukan siswa yang belajar, tapi para pendidik sendiri yang kini menjadi peserta. Mereka mengikuti Diklat Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dalam rangka menyambut tahun ajaran baru 2025–2026 dan menindaklanjuti amanat Kemendikdasmen.

Baca juga: Dari Potongan Kertas ke Solusi Pak Bon: Guru Muhammadiyah Bawean Belajar STEM

Seluruh guru dari amal usaha Muhammadiyah (AUM) se-Bawean tampak antusias, meski sebagian dari Kecamatan Tambak belum bisa hadir. Mayoritas peserta berasal dari Sangkapura.

Kegiatan berlangsung dua hari, 11–12 Juli 2025, dengan menghadirkan dua pemateri: Zaki Abdul Wahid, S.T., M.Pd.—guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) yang dikenal inovatif dalam dunia pembelajaran digital—dan Ria Pusvita Sari, S.Pd., M.Pd., Kepala SDMM periode 2021–2025 yang membawakan materi STEM (science, technology, engineering, and mathematics).

Baca Juga:  Belajar Lesson Design, Tiga Guru SD Muri Ikuti Teacher Laboratory Conference

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Sangkapura, Kemas Saiful Rizal, S.E., M.M., turut hadir memberikan dukungan penuh terhadap penguatan kapasitas guru dalam menghadapi era baru pendidikan digital.

Dari kiri: Zaki Abdul Wahid, Ria Pusvita Sari, dan Kemas Saiful Rizal (Tagar.co/Sawaluddin Eka Saputra)

Dalam pemaparannya, Ustaz Zaki, sapaan akrab Zaki Abdul Wahid, menyampaikan materi secara bertahap, mulai dari dasar-dasar pemrograman hingga praktik sederhana. Tujuannya agar para guru dari berbagai jenjang—dari SD hingga SMA—dapat memahami manfaat coding sebagai alat bantu dalam proses belajar-mengajar.

“Di dunia pendidikan, koding kalau kita pahami artinya secara dangkal hanya sekadar membuat prompt-prompt untuk pembelajaran atau dikenal bahasa pemograman. Tapi lebih dari itu, koding adalah cara berpikir seseorang untuk memecahkan sebuah masalah,” ujar Ustaz Zaki yang juga menjabat Penannggug Jawab Komputer SDMM.

Ia menambahkan bahwa koding bukanlah ranah eksklusif mahasiswa informatika semata. Bahkan mahasiswa dari jurusan lain seperti matematika pun kini dituntut akrab dengan bahasa pemrograman. “Koding itu terasa menyenangkan karena mudah dibuat game pembelajaran,” lanjutnya.

Ustaz Zaki juga memperkenalkan cara penggunaan kecerdasan artifisial (AI) sebagai alat bantu guru. Ia memberi contoh menggunakan fitur AI di Canva dengan prompt sederhana: “Tolong buatkan soal pilihan ganda untuk siswa kelas tentang buah-buahan.” Hasilnya langsung tampil di layar, lengkap dengan opsi jawaban dan ilustrasi gambar. Namun, ia juga mengingatkan bahwa penggunaan AI membutuhkan inovasi dari guru itu sendiri.

Baca Juga:  Milad Istimewa ‘Bapak dan Anak’, SDMM dan PRM PPI Pererat Silaturahmi

“Koding tidak sulit kok, Bapak-Ibu. Kita bisa minta bantu mesin cerdas buatan atau dikenal dengan AI. Paling mudah menggunakan ChatGPT. Tapi penggunaannya harus kita lakukan dengan inovasi sendiri dalam pembelajaran. Kalau tidak, akan muncul banyak prompt yang hanya bersifat mentah,” jelasnya.

Zaki Abdul Wahid menyampaikan materi KKA didampingi Ria Pusvita Sari (Tagar.co/Sawaluddin Eka Saputra)

Tak hanya itu, peserta juga dikenalkan pada Scratch Jr—aplikasi visual coding yang memungkinkan pembuatan game sederhana berbasis simbol, sangat cocok untuk siswa usia dini hingga dasar.

Namun karena peserta berasal dari beragam jenjang pendidikan, Ustaz Zaki juga menjelaskan perbedaan capaian pembelajaran koding berdasarkan jenjang yang diatur dalam naskah akademik Kemendikdasmen.

“Misalnya, untuk tingkat SMP, guru harus mampu mengajarkan siswa menulis program pada aplikasi sederhana, berbasis simbol, dan merancang produk digital sederhana,” jelasnya sambil menunjukkan tabel kurikulum nasional.

Menjelang akhir sesi, Direktur Sekolah Koding Sang Surya itu menutup dengan pesan penting tentang tantangan zaman.

“Perkembangan generasi sangat cepat. Generasi Z sudah kita lewati. Muncul lagi Generasi Alpha. Nah, Generasi Alpha ini jangan kita bentuk menjadi generasi instan. Makanya, kita dewan guru harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman,” pesannya penuh semangat.

Baca Juga:  Dari Manyar ke Tokyo: Menemukan Makna Belajar di Balik Pintu Kelas yang Terbuka

Dengan diklat ini, para guru Muhammadiyah di Bawean memulai langkah kecil namun strategis dalam menyongsong pendidikan masa depan—di mana teknologi bukan lagi sekadar alat, tetapi mitra dalam mencerdaskan generasi. (#)

Jurnalis Sawaluddin Eka Saputra Penyunting Mohammad Nurfatoni