
Dalam Pelatihan Dakwah Milenial PTDI Jawa Timur, Misbahul Huda menyerukan agar mubalig muda bukan hanya berceramah, tetapi mampu memberi solusi atas krisis ekonomi yang menggoyahkan iman umat.
Tagar.co – Misbahul Huda memaparkan data mencengangkan: sekitar 60 persen rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menegaskan, persoalan ekonomi tidak berhenti pada soal perut atau penghasilan, tetapi menjalar hingga memengaruhi pendidikan, moral, bahkan keteguhan iman.
Hal itu dia sampaikan dalam Pelatihan Dakwah Milenial yang diselenggarakan Pendidikan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) Jawa Timur di Rewwin, Waru, Sidoarjo, Jumat 23/5/25
“Kenapa banyak yang goyah? Karena hidupnya marginal. Kalau senang, dia ikut. Kalau kena ujian, mundur, kufur,” ujarnya, mengutip ayat Al-Qur’an (Al-Haj: 11), yang menggambarkan tipikal manusia yang menyembah Allah hanya di tepian: senang saat mendapat nikmat, tetapi berpaling saat diuji.
Baca juga: Pendakwah Harus Berwibawa, Tak Cukup Mengandalkan Retorika
Lebih memprihatinkan lagi, ia menyoroti realitas lapangan: umat Islam di Indonesia yang melaksanakan salat hanya sekitar 39 persen, yang rutin ke masjid hanya 7 persen, dan yang istikamah menjaga semua kewajiban agama hanya 2 persen.
“Kita harus jujur mengakui, ekonomi umat itu rapuh. Dan kemiskinan bisa mendorong kekufuran. Rasulullah sendiri bilang, ‘Kada al-faqru yakunu al-kufra’—Hampir saja kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran,” jelasnya, mengingatkan peserta betapa tipisnya batas antara kesulitan ekonomi dan keretakan keyakinan.
Menurut Misbahul, krisis ekonomi menciptakan lingkaran setan: kemiskinan melahirkan kebodohan, kebodohan melahirkan ketergantungan, ketergantungan memperparah kemiskinan, dan seterusnya.
Di titik ini, krisis bukan sekadar soal rendahnya daya beli atau kurangnya lapangan kerja, tetapi sudah menjadi masalah sistemik yang memerangkap umat dalam keadaan stagnan: miskin secara material sekaligus miskin secara spiritual.
Refleksi Mendalam bagi para Mubalig
Di hadapan para mubalig milenial, Direktur Utama PT. Adiprima Suraprinta 2004-2013 itu menyampaikan pesan keras: jangan sampai dakwah terjebak hanya pada urusan lisan atau mimbar. Dakwah harus menyentuh akar persoalan umat, termasuk soal ketimpangan ekonomi, pemberdayaan, dan kemandirian usaha.
“Kalau kita tidak turun tangan, umat akan tetap jadi bulan-bulanan sistem. Mereka akan mudah diarahkan oleh kekuatan lain yang menawarkan janji kosong,” ujarnya.
Ia memberi contoh bagaimana kebangkitan neo-komunisme di Indonesia sebagian dipicu kegagalan umat Islam membangun basis ekonomi yang kuat. Di sinilah para mubalig didorong untuk memiliki visi entrepreneurship: bukan berarti semua harus jadi pedagang atau pebisnis, tetapi harus memiliki pola pikir solutif, kreatif, dan memberdayakan.
Dari Mimbar ke Lapangan: Dakwah yang Membebaskan
Misbahul Huda menekankan, mubalig masa kini harus punya kemampuan manajerial, networking, bahkan pemahaman dasar tentang aliran ekonomi. “Kalau hanya berteriak dari mimbar tanpa tahu bagaimana menciptakan peluang kerja, bagaimana memutar aset umat, bagaimana membangun jaringan usaha, maka dakwah kita tidak akan membebaskan,” tegas Ketua Pembina Ikatan Saudagar Muslim Indonesia Jawa Timur 2015-2023 itu.
Ia juga menyoroti pentingnya keberanian untuk menemukan meaningful moment: momen bermakna sesuai passion yang bisa dijadikan jalan pengabdian. Dengan begitu, apa pun profesi dan peran yang dijalani, bisa menjadi amal saleh yang berkontribusi memutus lingkaran kemiskinan.
“Apakah selama ini kita hanya menyampaikan pesan agama tanpa memikirkan bagaimana umat bisa bangkit secara ekonomi? Apakah kita hanya mengajarkan sabar, tanpa mengajarkan bagaimana umat bisa bangkit dan kuat? Dakwah sejati harus memadukan keduanya: spiritualitas dan pemberdayaan,” tegasnya. (#)
Jurnalis Mohammad Nurfatoni












