
Pidato Dhagit di hari kelulusan Smamsatu Angkatan 58 membuat banyak hadirin terharu. Apa pesan mendalam yang disampaikan untuk guru, orang tua, dan teman-teman? Simak kisah penuh emosi ini.
Tagar.co – Pagi itu, Kamis, 22 Mei 2025, suasana di Graha Kartini Ballroom, Gresik, semakin hangat seiring dengan pengumuman kelulusan 100 persen 134 siswa Saintek dan 164 siswa Soshum. Perasaan haru dan bangga menyelimuti acara kelulusan siswa SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik Angkatan 58, yang menjadi bukti kerja keras selama tiga tahun penuh.
Dhagit Hakam Shabran Yusuf, yang mewakili seluruh siswa kelas XII, melangkah dengan penuh semangat ke panggung untuk membacakan ikrar kelulusan. Dengan suara penuh keyakinan, Dhagit mengucapkan kalimat ikrar yang diikuti teman-temannya.
Baca juga: Pariwara Pamitan: Perpisahan Penuh Makna Siswa Smamsatu Angkatan Ke-58
“Senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, menjaga nama baik sekolah, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kami juga berjanji untuk mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahi mungkar.”
Namun, momen kelulusan itu tidak hanya diisi dengan ikrar. Dhagit juga diamanahi untuk menyampaikan kesan dan pesan kepada para guru, orang tua, dan teman-teman seperjuangan. Dengan penuh rasa hormat, Dhagit mengungkapkan terima kasih kepada para guru yang telah mendidik mereka selama tiga tahun penuh.
“Kami mohon maaf atas segala sikap kami yang mungkin pernah menyakiti atau membuat jengkel. Terima kasih atas ketulusan waktu dan cinta kasih yang telah engkau berikan,” ujarnya dengan tulus. “Thank you for teaching us, we love you forever,” tutupnya dengan haru, membuat seluruh hadirin terdiam dalam rasa syukur.

Lalu, Dhagit siswa XII Saintek 4 yang sudah diterima di Kedokteran Hewan, IPB University, itu beralih menyampaikan pesan-pesan penuh emosi kepada orang tuanya. “Ayah, bapak, papa, abi, apapun sebutannya yang kami berikan padamu, terima kasih atas pengorbananmu, bekerja tanpa mengenal waktu, memastikan kami bersekolah dengan baik,” katanya dengan suara yang bergetar.
Ia mengenang betapa ayahnya selalu bekerja keras tanpa mengeluh, meskipun di balik itu ada doa-doa yang kuat dan air mata yang jatuh diam-diam. “Kami tahu tak mudah menjadi ayah. Dari semua perjuangan itu, belum bisa kami balas, tapi hari ini kami berjanji akan terus berusaha agar kelak bisa membahagiakanmu,” tambahnya. Suasana pun semakin haru, dengan banyak hadirin yang mulai meneteskan air mata.
Pesan berikutnya ditujukan kepada para ibu yang selalu memberikan cinta dan doa tak terhingga. “Ibu bukanlah perempuan biasa. Ibu yang selama 9 bulan membawa kita dengan tangguhnya, bertaruh nyawa,” ujarnya, mengenang betapa banyak pengorbanan yang ibu lakukan untuk mereka.
Ia mengakui bahwa mungkin selama masa sekolah, ia jarang mencium tangan ibu sebelum berangkat sekolah, atau pernah membentaknya tanpa sebab, namun malam tadi tanpa disadari, doa ibu selalu menyertai mereka.
“Ibu, terima kasih atas segala doa yang tak ketinggalan, air mata yang tak terlihat, dan cinta yang tak terucap, padahal nama kita sering disebut hingga lupa namamu sendiri,” ucap Dhagit.
Dengan penuh rasa syukur, ia menutup pesan-pesannya dengan ucapan terima kasih kepada teman-teman seperjuangan. “Terima kasih telah mengisi cinta remaja, kisah SMA, ini bukanlah akhir, tapi awal cerita. Kita akan bertemu orang-orang baru, tantangan baru, dan menghadapi dewasa yang tak pernah kita temui sebelumnya. Mari kita jalani hidup ini dengan doa dan usaha,” pesan Dhagit kepada teman-temannya.
“Don’t be strangers, thank you for everything,” tutupnya, mengakhiri sesi kesan dan pesan dengan penuh makna di acara Pariwara Pamitan.
Momen ini bukan hanya sekadar perpisahan, tetapi juga menjadi pengingat akan perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama, dengan harapan agar setiap langkah yang mereka ambil di masa depan selalu dipenuhi dengan doa, usaha, dan keberkahan. (#)
Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad Penyunting Mohammad Nurfatoni












